
Waktu yang sudah Nathan tentukan tidak kurang tidak lebih, dua Minggu mereka menghabiskan waktu di dua negara yang berbeda, jangan ditanya bagaimana perasaan Ami, gadis itu tidak menyangka bisa berada di dua negara yang tidak pernah dia bayangkan.
Jangankan membayangkan untuk keluar negeri, pergi keluar kota saja Ami sudah bersyukur dan senang.
Semenjak berada di Turki dan Paris, Nathan selalu membuat Ami menjadi wanita yang paling beruntung, Ami dijadikan ratu oleh sang suami.
"By, aku bisa sendiri."
"Tidak apa, ini hari terakhir kita di sini."
Setiap pagi Nathan selalu memperlakukan Ami dengan baik, pria itu selalu membantunya, seperti sekarang Nathan menggendongnya ke kamar mandi, padahal Ami bisa sendiri, dan Nathan selalu menjawab karena Ami sudah melayaninya setiap malam dan Ami hanya bisa pasrah.
"Kita bernagkat jam berapa?" Ami menggosok kedua lengannya bergantian, gadis itu menikamati air hangat dengan aroma yang dia sukai.
"Jam Empat sore." Nathan duduk di pinggiran bathub dan menyandarkan punggungnya di dinding.
"Kenapa?" Tanya Nathan yang melihat Ami nampak menahan sesuatu.
"Em, tidak." Ami menggeleng dengan menutup mulutnya.
"Kamu sakit?"
Nathan mengeser tumbuhnya, dan mendekati Ami yang menutup mulutnya.
"Perutku mual." Ucap Ami dengan menahan gejolak dalam perutnya.
"Aku bantu." Nathan kembali menggendong Istrinya untuk membalas tubuhnya.
"By, aku ngak_ Uukk." Ami menutup mulutnya dan berlari kecil menuju wastafel.
Hoek..
"Sayang, kamu sakit."
Nathan menutup tubuh polos istrinya menggunakan baltrobe agar tidak kedinginan.
Em Ami menggeleng.
Hoekkk...
Nathan semakin khawatir, tanganya membantu memijat tengkuk Ami, agar merasa lebih baik.
"Emmp.." Ami tidak mengeluarkannya apapun hanya air yang terasa pahit di mulutnya.
"Wajah kamu pucat sayang." Nathan membantu mengelap bibir Ami yang basah, pria itu sigap membawa Ami kembali keranjang.
"Minum dulu." Nathan duduk dan memberikan gelas berisi air putih, pria itu mengusap wajah Ami khawatir.
"Kita kedokter ya." Tanyanya menaruh gelas di atas meja kecil di samping ranjang.
__ADS_1
Ami menggeleng. "Ini semua karna mu By, yang selalu membuatku tidak pakai baju setiap malam." Ami mengerucutkan bibirnya kesal, dengan wajah yang masih sedikit pucat.
Nathan malah tergelak. "Mana mungkin aku membiarkan kamu berpakaian, jika kamu saja menyukaiku yang telanjang."
Ami membulatkan matanya. "Ish, kamu nyebelin." Nathan memang selalu bisa membalikkan ucapnya, dan itu sangat menyebalkan bagi Ami.
Pada akhirnya gadis itu tidak jadi diperiksa Ami memilih untuk menonton acara fashion di layar tv Paris.
Sedangkan Nathan sibuk mengepak barang yang akan mereka bawa pulang, Ami juga sudah membelikan beberapa oleh-oleh untuk orang terdekatnya.
Nathan hanya geleng kepala, baru ditinggal setengah jam, Ami sudah tertidur di sofa, padahal gadis itu baru bangun satu jam lalu.
Mengingat itu bibir Nathan mengulum senyum, dadanya tiba-tiba berdebar. Entah benar atau tidak dirinya hanya bisa berharap.
Pukul tiga waktu setempat Nathan dan Ami sudah siap dengan barang dan penampilan mereka. Kini hanya tinggal menunggu mobil yang Nathan sewa untuk mengantarnya ke bandara.
"By, tidak ada yang ketinggalan?" Tanya Ami untuk yang ketiga kali.
Nathan sampai memutar kedua bola matanya malas. "Sudah sayang, jangan khawatir." Nathan merangkul bahu Ami.
Ami memang tidak membantu Nathan untuk mengemas barang mereka, dirinya merasa malas dan juga lelah.
"Apa sudah tidak merasa mual."
Ami menggeleng. "Hanya merasa ngantuk." Jawabnya dengan wajah sayu.
Nathan hanya menggeleng tidak percaya. "Apa kamu tanpa sengaja meminum obat tidur hm."
"Tidak, tapi rasanya aku hanya ingin tidur." Jawab Ami yang sudah duduk di dalam mobil, mengambil posisi duduk yang nyaman dan menyandarkan kepalanya di bahu Nathan.
Tangan Nathan mengusap kepala istrinya agar nyaman.
Ingatan Nathan kembali ke masa satu tahun lalu, dimana Ami yang menjadi pemalas dan suka tidur, dan mereka tidak menyadari hal seperti itu bertanda jika kebahagiaan sedang menghampiri mereka.
"Tidurlah."
Butuh waktu lebih dari tiga puluh menit untuk sampai di bandara Charles Gaulle dari hotel yang mereka tempati, dan sepanjang perjalanan itu, Ami masih juga terlelap.
Sampai di bandara Nathan membangunkan Ami, dan Ami yang masih merasa mengantuk terpaksa membuka matanya.
Nathan memeberikan perlengkapan pasport dan tiket di bagian pemeriksaan, mereka memasuki area yang sudah tidak bisa di masuki orang lain kecuali penumpang pesawat.
"Om Riko..!" Nathan memanggil pria paruh baya yang dia kenal, pria yang seumuran dengan papanya.
Pria itu menoleh, begitu juga dengan wanita yang dirangkul bahunya.
"Al.." Pria itu memanggil nama panggilan Nathan saat kecil. "Kalian disini?" Tanyanya lagi dengan senyum mengembang.
"Apa kabar, Om Tante." Nathan menyalami kedua pria paruh baya itu dengan sopan, begitu juga dengan Ami yang belum mengenal mereka.
__ADS_1
"Ini istrimu." Tanya wanita paruh baya yang seumuran dengan memanya, hanya Mamanya lebih muda beberapa tahun.
"Iya Tante, namanya Ayana." Nathan merangkul pinggang Ami posesif, dan Riko hanya tertawa.
"Kamu cantik sekali sayang." Ucap Rere istri Riko.
"Terima kasih Tante." Ami terseyum manis.
"Dia sahabat papa sayang, dan Tante Rere juga sahabat Mama." Jelas Nathan membuat Ami mengangguk.
Riko dan Rere novel "Pebinor Nakal"
"Om mau kemana?" Tanya Nathan, mereka kini sudah duduk di kursi tunggu untuk beberapa menit lagi sebelum pesawat yang mereka tumpangi berangkat.
"Mau jenguk anak Om yang tugas di indo," Jawab Riko.
Nathan hanya mengaguk, dia tahu jika sahabat papanya memiliki anak laki-laki sebagai abdi negara, hanya saja Nathan tidak tahu yang mana, karena baik anak Riko dan Nathan tidak pernah bertemu.
"Sepertinya kita akan satu pesawat."Ucap Riko pada Nathan, keduanya mengobrol berdua sedangkan Ami dan Rere juga berbincang ringan.
"Jadi kalian kesini bulan madu?" Tanya Rere terseyum lebar.
"Em, iya Tante." Ami terseyum Malu.
"Ahhh, senangnya semoga kalian cepat mendapat omongan, pasti Indira akan senang memiliki cucu." Rere menyentuh tangan Ami.
"Aminn Tante, makasih."
Mereka berhenti mengobrol ketika suara intrupsi pesawat yang mereka tumpangi akan segera berangkat.
Mereka memang satu pesawat hanya saja tempat duduk mereka yang berjauhan.
"Kamu lelah." Nathan mengatur tempat duduk Istrinya agar nyaman bagian kaki Ami agar bisa selonjoran tidak leleh.
"Tidak Byy." Ami terseyum.
Keduanya duduk bersampingan dengan Ami yang berada di pinggir jendela.
"Sayang, aku boleh tanya sesuatu?" Ucap Nathan pelan. Selain ucapan sensitif tapi ini juga di tempat umum.
Ami mengerutkan keningnya. "Apa?"
Nathan terseyum, dan menggenggam tangan Ami. "Sepertinya kamu sudah lama tidak datang bulan." Bisik Nathan ditelinga Ami pelan.
Ami membulatkan matanya, membuat Nathan terseyum lebar.
.
.
__ADS_1