
"Apa kau masih ingin tukar tambah suami, shh."
"Engh, By." Ami menggeleng dengan napas tersengal.
"Argh."
Nathan terus berpacu dengan keringat yang sudah membasahi seluruh tubuhnya.
Setelah mendengar ucapan para wanita yang bergosip tentang tukar tambah suami, tidak tanggung-tanggung Nathan langsung menggendong Ami seperti karung beras, pria itu langsung menuju kamar yang ada di rumah Papa mertuanya.
Tidak hanya Nathan, Allan yang melihat putranya berbuat demikian dia pun ikut menggendong Indira untuk memberinya hukuman. Hanya Mustafa yang bersikap santai, dia tidak ingin memaksa dan membuat kucing buntungnya mengamuk menjadi singa, jika seperti itu dirinya akan bertambah lama berpuasa.
"By, uhh lebih cepat." Ami mencekram kain seprai dengan kuat, kali ini Nathan bermain dengan kasar dan dalam membuat Ami berteriak tapi juga keenakan.
"Menyukai hm." Nathan memelankan gerakannya membuat Ami yang ingin mencapai pelepasan menatap kecewa.
Nathan melihat tatapan mata sayu Ami bercampur rasa kecewa, pria itu sengaja mempermainkannya.
"Byy," Ami merengek dengan wajah yang berubah kesal, karena Nathan hanya diam tanpa mau menggerakkan tubuhnya.
"Kenapa hm." Jemari Nathan mengelus wajah basah Ami yang berkeringat.
"Katakan jika kamu selalu menginginkanku."
Ami mengangguk. "Aku ingin By, selalu."
Nathan tersenyum menyeringai. "Tidak ada tukar tambah suami."
"Ahh tidak ada emmh." Ami menggeleng merasakan miliknya yang terasa gatal, tapi Nathan hanya bergerak pelan.
"By, ummh." Ami menatap Nathan dalam, menginginkan sesuatu yang lebih.
Nathan yang mengerti arti tatapan istrinya terseyum, dia menyukai wajah Ami yang memohon untuk dipuaskan.
"Memintalah dengan benar."
Ami memasang wajah masam, seketika gelora ditubuhnya menyurut karena merasa dipermainkan.
Bugh
Nathan langsung terlentang ketika Ami mendorong tubuhnya untuk menyingkir.
"Sayang kau,"
Plok
"Arrghh." Nathan menggerang ketika tiba-tiba tubuh keduanya menyatu hingga menghasilkan bunyi khas penyatuan.
"Ughh," Ami memejamkan mata, bergerak naik turun, dan terkadang maju mundur cantik dengan gerakan cepat.
"Sayang, engh kau tidak sabaran ahh." Nathan mencekram pinggang kecil Ami, urat lehernya menonjol merasakan nikmat surga dunia.
Kepala Ami menunduk meraih bibir tebal suaminya dan ********** rakus.
Nathan menyambutnya dengan suka cita, kedua tangannya meremat bongkahan padat di bawah sana.
"Ergh." Ami mendesis merasakan bok*ngnya yang diremat, dengan pinggul bergerak pelan maju mundur.
__ADS_1
Ami melepas tautan bibir mereka, menatap Nathan dengan tersenyum manis.
"Plis sayang, jangan menyiksaku." Suara rendah Nathan terdengar seksih ditelinga Ami.
Ami membelikan tumbuhnya, hingga kini Nathan menatap punggung polos Istrinya, dia tidak tahu apa yang akan Istri kecilnya lakukan.
"Ugh, Sayang." Nathan memejamkan mata, dengan mulut terbuka, merasakan miliknya yang terasa terjepit.
Ami menunduk dengan mengangkat pinggulnya hingga berhenti di saat milik Nathan yang hanya menyentuh lembah miliknya sedikit, dari bawah Ami bisa melihat reaksi wajah Nathan yang sudah tak bisa menahan gairahnya, apalagi singkong premiumnya berdiri gagah menyentuh miliknya.
Plak
"Arrghh.."
Ceklek
Ceklek
Ceklek
Ketiga pria yang sama-sama bertelanjang dada sama-sama kelaur dari kamar, dan mereka saling tatap lalu tertawa.
Rambut ketiganya terlihat berantakan,.bahkan tubuh mereka masih menyisakan keringat yang masih lembah.
"Pah, berapa ronde?" Tanya Nathan pada papanya Allan.
"Ck, Mama kamu kamu sampai tak bisa berkata-kata." Allan berkata bangga.
"Kalau ayah?" Tanya Nathan pada Mustafa, ayah mertuanya.
Ketiga pria itu menuruni tangga bersamaan hanya saja formasi Mereke berbaris tiga kebelakang.
Mustafa hanya menghela napas. "Sejak Raya hamil, dia suka memimpin, dan aku tidak akan bertahan lama jika dia sudah menservis."
Nathan dan Allan tertawa.
Mereka duduk di sofa depan tv, sedangkan Nathan mengambilkan minum untuk dua pria yaitu papa dan ayahnya.
"Lalu bagaimana denganmu son?" tanya Allan ketika Nathan sudah duduk di sampingnya, sedangkan Mustafa duduk disofa singel.
Nathan membuka minuman kaleng bersoda dan menenggaknya. "Satu sama, kami tidak ada yang mau mengalah."
Kedua orang tua itu hanya geleng kepala. Entahlah kenapa malam ini mereka sama-sama olahraga malam.
"Pah, Om. kalian ngapain." Niko yang baru masuk rumah kaget melihat tiga pria yang berbeda usia sendang duduk dan sama-sama bertelanjang dada.
"Anak kecil tidak boleh tau." Ucap Nathan dengan ketus, pria posesif itu masih saja merasa terancam dengan adanya Niko, karena Ami suka mendekat pada kakak tirinya itu.
"Cih, lu aja suka kawinin anak kecil." Niko berdecih menatap sinis lalu melenggang pergi ketika melihat wajah Nathan yang tersulut kesal.
"Bocah, sialan..!" Umpat Nathan, melempar Niko menggunakan kaleng minumannya yang sudah kosong.
Niko menjulurkan lidah, karena lemparan Nathan meleset.
Sedangkan pria paruh baya itu hanya melihat kelakuan anak muda didepanya.
"Kita taruhan siapa yang pertama dipanggil akan memberikan uang seribu dolar." Ucap Allan dengan menaik turunkan alisnya.
__ADS_1
Nathan hanya mengaguk, "Deal."
"Deal."
Ketiganya saling mengulurkan tangan tanda sepakat, dan kini mereka hanya menunggu istri siapa yang akan lebih dulu memacari guling hidupnya.
Lima menit
Sepuluh menit
Mereka masih saling terseyum, Nathan terseyum kali ini dirinya yakin akan mendapatkan dua ribu dolar dari kedua orang tuanya.
"Masss..!!"
Mustafa menghela napas, bangkit dari duduknya dengan geleng kepala. "Ibu hamil butuh pelukan hangat suami." Ucapnya berlalu pergi. "Iyaa sayang.."
"Ck, kamu pasti kalah Nat." Ucap Allan pada putranya, Nathan terseyum tipis menegak meminumnya santai.
Allan yang masih akan meminum, tiba-tiba tersedak ketika melihat indira sudah berdiri belakang Nathan.
"Dan papa yang kalah." Ledek Nathan tertawa.
.
"Ck, sayang kenapa muncul sekarang sih." Allan mengusak rambutnya kasar, berdiri dan langsung merangkul pinggang istrinya untuk kembali ke kamar.
Nathan mengabiskan sisa minumannya yang sudah habis dua kaleng, pria itu masih betah duduk didepan tv sendiri.
Nathan memikirkan kepergiannya esok, dirinya butuh waktu diluar kota dan Nathan juga tidak mungkin mengajak Ami.
Jadwalnya begitu padat, Nathan tidak ingin membawa Ami kerena dirinya tidak bisa meluangkan waktu untuk sang Istri. Pekerjaan kali ini tidak bisa Nathan prediksi, sebenarnya masih bulan depan untuk pergi keluar kota, hanya saja disana kembali mengalami problem membuatnya mau tidak mau harus pergi.
"Byy." Ami merangkul leher suaminya dari belakang, menenggelamkan wajahnya di leher Nathan.
"Kenapa bangun hm."
Tangan Nathan mengusap lengan Ami, kepalannya menoleh dan mencium kepala istrinya.
"Cari kamu." Ucap Ami manja.
Nathan terseyum, dirinya memang tidak bisa berjauhan dan tidur tanpa memeluk sang istri.
"Kemarilah." Nathan menyuruh Ami untuk ikut duduk bersamanya. Ami menurut dan langsung duduk di atas pangkuan Nathan dengan saling berhadapan.
Tangan Ami merangkul leher Nathan, kepalanya Ia sandarkan di dada bidang pria yang memberinya sejuta rasa bahagia.
Jemari Nathan mengelus rambut panjang Ami, "Sayang besok siang aku akan pergi keluar kota." Ucap Nathan dengan menyandarkan pipinya di kepala Ami. "Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan, dan aku tidak bisa membawamu." Ucapnya lagi.
Mai hanya diam matanya tetap terpejam, tapi telinganya masih mendengar.
"Tidak apakan kamu tinggal dirumah Mama atau bunda." Lanjutnya dengan menyentuh kepala Ami untuk menatapnya.
"Hey, kenapa diam?" Tanya Nathan yang tidak mendapat jawaban.
Ami hanya menggeleng. "Apa aku bisa mencegahmu." Ami menatap Nathan yang hanya diam. "Tidak kan." Kepalanya Ia sandarkan didada bidang suaminya lagi.
__ADS_1
Hening keduanya sama-sama diam, dengan pikiran masing-masing, Nathan tahu jika dirinya pun sebenarnya tidak bisa meninggalkan sang istri, tapi untuk mengajaknya Nathan juga tidak yakin.
"Em, tidurlah." Hanya itu yang keluar dari bibir Nathan, dia mengelus punggung Ami dan memeluknya, kecupan beberapa kali dia sematkan dipucuk kepalanya.