My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
SEASON 2~ Kekompakan


__ADS_3

"Bagaimana keadaannya?"


Nathan dan Ami langsung datang kerumah sakit setelah santunan diyayasan selesai, kedua orang tua Hawa itu sangat khawatir mendapat kabar jika princess di keluarga Adhitama dilarikan kerumah sakit.


"Masih dalam pemeriksaan lanjut." Jawab Adam yang berdiri tidak jauh dari ranjang tempat Hawa berbaring.


Mario yang sebelumnya duduk di kursi kecil samping pasien kini dirinya beralih berdiri disamping kanan Hawa setelah melihat Nathan dan Ami datang.


Ami mengusap kepala Hawa lembut, menggenggam tangan putrinya untuk menyalurkan kekuatan. Tatapan kahawatir dan cemas masih terlihat diwajah wanita yang tak lagi muda tapi masih terlihat cantik. Bahkan karena kecantikan sang istri yang masih terpancar Nathan semakin posesif dan protektif kepada sang Istri.


Meskipun sudah memiliki anak remaja tapi keromantisan keduanya tidak pernah berubah, justru seorang Nathan memiliki cinta yang semakin besar kepada sang Istri.


Mereka berempat masih menunggu Hawa diruangan VVIP yang cukup luas, kini Mario yang bergantian duduk disamping Hawa yang belum mau membuka matanya.


Ami dan Nathan duduk di sofa bersama Adam.


"Bagaimana Dam, proyek yang kamu tangani bersama Arfin?" Tanya Nathan pada putranya.


"Sebentar lagi selesai Pah."


Adam bersama Arfin sedang sama-sama membangun sebuah proyek di lahan yang jauh dari kata lengkap fasilitas.


Adam mengajak temannya Arfin untuk menjadikan proyek mereka sebagai tanda jika mereka berdua mampu untuk membangun sebuah hotel dan restoran di daerah yang memang belum ada hotel dan resort.


Daerah yang sudah cukup ramai tapi beberapa tahun kedepan akan lebih padat lagi lantaran adanya pembangunan hotel dan resort sebagai sarana hiburan terdekat.


Pria remaja yang masih belasan tahun itu sudah begitu teliti dan memiliki otak yang cerdas untuk perkembangan bisnis.


Nathan yakin, jika putranya nanti akan semakin melambungkan perusahaan yang dia pegang selama ini.

__ADS_1


Kisah Adam akan segera louncing di karya baru sayang 😍 "One Night In LONDON"


Enghh


Mario menatap pergerakan bulu lentik Hawa yang perlahan terbuka menampilkan bola mata indah yang sejak tadi menutup mata.


"Sayang.." Ucap Mario tersenyum menatap kekasihnya yang baru saja membuka mata.


Hawa masih mengejar, mengumpulkan kesadarannya yang belum penuh.


"O-om.." Suaranya begitu serak.


"Mau minum?"


Hawa mengaguk. Mario membantu Hawa untuk meminum, menata bantal dibelakang punggung Hawa agar gadis itu bisa duduk nyaman.


"Sayang.." Ami tersenyum melihat putrinya membuka mata.


Mario hanya melihat saja, dirinya tidak berani berbuat macam-macam jika ada keberadaan calon mertua. Anggap saja dirinya pura-pura alim.


"Masih pusing?" Tanya Ami dengan lembut.


Hawa menggeleng, "Hanya saja aku laper." Cicit Hawa dengan senyum tidak enak.


"Jangan bilang kamu dari pagi belum makan nasi, dan hanya minum susu saja pagi tadi." Cecar Ami dengan tatapan mata mengintimidasi.


Hawa yang ditatap seperti itu, menunduk merasa bersalah. "Maaf Mah." Cicit Hawa dengan suara pelan.


Ami hanya mengejar napas. "Sudah mah jangan dimarahi, putri kita sedang sakit." Nathan mengusap punggung istrinya.

__ADS_1


Ami memang begitu ketat soal asupan makan kedua anaknya, tidak boleh telat makan. karena Ami membayangkan bagaimana dulu diirinya menahan lapar saat usianya masih remaja.


Dan Ami tidak ingin anak-anak sakit karena belum makan, padahal mereka tidak kekurangan makanan.


Mario yang melihat wajah sedih kekasihnya mendekat.


"Kamu mau makan apa Hem, biar aku belikan." Tangan Mario menyentuh tangan Hawa yang saling mengait satu sama lain.


Hawa mendongak dengan tatapan yang sudah berbinar.


"Aku ingin bebek goreng yang masih panas, lengkap dengan sambal dan lalapan, tapi belianya di tempat yang dulu ku tunjukkin."


Mario menelan ludah, apa tidak ada tempat lain yang Hawa sebutkan, "Tapi Hawa disana dipinggir jalan dan_"


"Mama juga mau, papa dan Adam mau juga tidak?" Ami menoleh pada Adam yang duduk di sofa.


"Bebek mang Ujang Adam Mau." Seru Adam sambil memainkan ponselnya.


"Papa juga mau." Imbuh Nathan semakin membuat senyum Hawa lebar.


"Tuh, semua mau. jadi tidak boleh menolak." Hawa tahu apa yang dipikirkan Mario, pria itu tidak ingin Hawa salah makan dengan membeli makanan dipinggir jalan.


Apalagi hanya dijual di dalam tenda saja, kebersihannya saja mereka tidak tahu.


Mario hanya menghela napas berat, terpaksa dirinya menuruti permintaan sang kekasih. Mau menolak tapi keluarga kekasihnya begitu kompak.


"Baiklah, pesanan tuan putri akan segera datang." Mario tersenyum tipis, dan semakin membuat senyum Hawa mengembang sempurna.


.

__ADS_1


.


JANGAN lupa tengok ke pijoo "Ameer Untuk Gwen" sayang 😍


__ADS_2