
Ami hanya diam menatap pria yang berdiri didepannya. Sudah dari sepuluh menit keduanya hanya diam tanpa kata, jika Nathan menatap Ami penuh arti, lain dengan Ami yang menatap Nathan tanpa minat.
"Kalau tidak ada yang anda bicarakan saya permisi." Ami ingin berbalik dan menuju pintu untuk keluar, namun ucapan Nathan membuatnya berhenti.
"Apa kamu ingin menemui pria itu." Ucap Nathan menatap punggung Ami tajam.
Ami berbalik menatap Nathan dengan alis terangkat. "Saya mau menemui siapa saja bukan urusan anda."
Tanpa sadar membuat Nathan mengepalkan kedua tangannya mendengar ucapan Ami. "Apa anda lupa jika anda yang membuat peraturan di atas kertas yang sudah kita sepakati." Ami menatap Nathan lekat. Bisa Ami lihat rahang Nathan mengeras.
"Dan saya yakin jika anda lebih mengerti isi perjanjian itu." Setelah mengatakan itu Ami berniat keluar dengan perasaan kesal. Karena dia pikir kepala sekolah yang ingin bertemu dengannya, tapi malah pria yang berstatus suaminya, itupun hanya di atas kertas.
__ADS_1
Grep
Ami yang sudah memegang handle pintu tubuhnya ditarik kebelakang dan menabrak dada bidang Nathan. "Apa kamu lupa jika isi perjanjian terakhir." Nathan menatap kedua bola mata coklat terang milik Ami intens.
Ami berpikir keras, dirinya mengingat apa isi perjanjian terkahir yang Nathan tulis. Tersenyum tipis Nathan tahu jika gadis yang berada di pelukannya sedang berpikir, dan wajah polos Ami membuat Nathan gemas.
"Perjanjian terakhir kembali ke perjanjian pertama dimana pihak kedua harus menuruti perintah pihak pertama dan tidak boleh di bantah." Nathan semakin mengeratkan pelukannya, membuat dada Ami kian menempel di dada bidang Nathan.
Ami menatap Nathan sengit, ternayata pria yang menjadi suaminya memiliki pikiran licik hanya untuk memanfaatkannya.
"Lepas..!!" Ami yang merasa tubuhnya semakin terhimpit membuatnya berontak. "Apapun yang anda katakan tidak merubah apa yang sudah terjadi, dan kesepakatan tetaplah kesepakatan jika diantara kita tidak ada yang boleh ikut campur urusan masing-masing, jadi anda tidak perlu mengurusi saya yang ingin bertemu siapa saja, maka saya juga tidak akan melarang anda untuk melakukan apapun, termasuk pernikahan yang sudah kita sepakati satu tahun ini." Napas Ami menderu ketika bibirnya mengucapkan kata panjang lebar, perkataan yang pernah Nathan katakan ketika mereka baru saja menikah.
__ADS_1
Mendengar ucapan Ami membuat Nathan semakin mengetatkan rahangnya, tatapannya berubah tajam membuat Ami tidak takut sama sekali.
"Kau..!!"
"Tidak seharusnya anda menjilat ludah sendiri, apa anda lupa jika di antara kita tidak ada yang boleh bersentuhan fisik." Ami tersenyum meremehkan, menatap wajah Nathan yang sudah menahan amarah. "Saya hanya ingin melaksanakan apa yang sudah anda tuliskan di surat perjanjian yang anda buat sendiri, dan saya harap anda tidak akan melanggar perjanjian yang sudah anda buat sendiri." Ami mendorong sedikit kuat dada Nathan hingga pria itu melepaskan pelukannya dan mundur beberapa langkah.
"Tidak usah repot-repot untuk mengingatkan saya, dan maaf, lain kali tidak perlu mengatasnamakan kepala sekolah jika hanya untuk bertemu saya." Ami menatap Nathan sinis. Dan pergi begitu saja meninggalkan Nathan yang tidak bisa melakukan apapun untuk membuat gadis itu tinggal.
"Sial..!!" Nathan menatap punggung Ami yang menghilang dibalik pintu, dirinya tidak percaya jika gadis kecil seperti Ami mampu membuatnya diam tanpa kata.
Nathan pikir Ami adalah gadis pada umumnya, jika di beri peringatan maka akan menuruti perkataannya.
__ADS_1
"Ternyata dia bukan anak kecil." Gumam Nathan tersenyum sinis.