My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Mengantar cinta


__ADS_3

Nathan tersenyum melihat Ami yang sedang membereskan pakaian yang akan dia bawa selama pergi keluar kota.


Melihat Ami yang sedang menunduk dengan posisi menungging membuat ide jahil Nathan muncul.


Grep


Nathan memeluk tubuh istrinya dari belakang dan menekan miliknya yang tepat berada di belakang bok**ong sintal Ami.


"Byy, Ish rese deh." kesal Ami yang langsung berdiri, ketika merasakan sesuatu yang menonjol dibalik handuk yang melilit di pinggang sumainya.


"Masih kurang sayang." Nathan mengendus dan mencium leher Ami yang sudah penuh dengan tanda keuguan bahkan masih ada yang berwarna merah terang.


"Byy, jangan seperti itu." Ami menggeliat, Nathan semakin mengeratkan pelukannya.


Nathan tidak menggubris. "Apa masih kurang membuatku sampai susah berjalan." Ucap Ami dengan wajah cemberut.


Nathan yang mendengarnya tertawa, dirinya mengingat pergulatan panas semalam dirumah mertuanya, setelah Ami menyusulnya Nathan kembali mengungkung Ami, membuat wanita kembali mendesah dan berteriak menyebut namanya. Hingga saat pagi sarapan bersama, wajah Ami yang tertekuk sendiri karena tumbuhnya terasa begitu remuk.


Lain dengan kedua Mama dan papanya, mereka malah seperti orang yang kehabisan obat, menebar senyum ngak jelas.


"Emm, aku pasti merindukanmu." Nathan menjatuhkan kepalanya di leher sang istri rasanya begitu malas untuk pergi, diirinya ingin terus memeluk dan mengabiskan waktunya untuk bersama sang istri.


"Ck, kamu yang meninggalkanku, tapi kamu yang tidak bisa jauh dariku." Ucap Ami mencebik, geli melihat ekspresi dan tingkah Nathan yang membuatnya lucu.


"Em, makanya aku malas untuk pergi." Ucapnya lagi dengan mengecup bahu Ami.


"Ya sudah tidak udah pergi." Ucap Ami santai.


Nathan mendongak. "Mereka menggantungkan hidupnya di sana sayang, jika aku tidak bisa menyelesaikan, nasib hidup mereka jadi taruhannya." Nathan menatap wajah Ami dengan intens.


"Kalau begitu semangat, aku akan menunggumu disini." Ami menepuk dada bidang Nathan yang polos. "Pakai baju gih, nanti masuk angin." Ami mengambilkan pakaian ganti untuk Nathan.


"Masih ada waktu tiga jam lagi sayang, apa kamu tidak ingin memberiku semangat tambahan." Nathan terseyum meneyringai dengan memainkan kedua alisnya naik turun.


"Byy, kamu mau membuatku benar-benar tidak bisa berjalan." Ucap Ami dengan bibir mengerucut tajam.


"Kenapa tidak, agar Nathan junior segera coming soon." Tangan Nathan mengelus perut Ami yang masih datar.


Ami terseyum, tangannya ikut mengelus diatas tangan Nathan. "Em, semoga Tuhan mengabulkan By."


Nathan mendongak dan tersenyum. "Amiin."


.


.


Jam dua siang Ami berjalan dengan menggandeng tangan Nathan, gadis itu selalu menempel sejak keluar dari apartemen.


Mereka sedang berada di bandara, Ami mengantar Nathan untuk pergi keluar kota.

__ADS_1


"By, jangan lama-lama." Suara Ami terdengar manja membuat Nathan gemas dan mencubit hidungnya.


"Aku akan berusaha sayang, makanya aku tidak bisa mengajakmu karena aku mungkin akan lembur, dan jika tidak bisa dihubungi jangan ngambek."


Ami mengaguk, meskipun dirinya tidak yakin. "Percayalah, hanya kepercayaanmu yang bisa membuatku tenang." Nathan mengusap pipi mulus istrinya. Tidak ada kata yang membuatnya merasa tenang dan nyaman selain kepercayaan sang Istri.


"Em, aku percaya padamu Om." Ami menyengir setelah memanggil Nathan dengan sebutan Om.


"Dasar gadis nakal, Om-Om gini sanggup membuatmu tidak bisa berjalan." Ucap Nathan bangga.


Ami mendelik. "Nyebelin." Kesalnya sambil meninju lengan kekar suaminya.


"Tapi sayang." Nathan tertawa.


Ami terseyum sambil geleng kepala. "Alay."


"Kak jagain cintaku." Ucap Ami pada Ando yang berdiri didepannya, sebelum masuk ke area boarding.


"Beres, kalau dia nakal tar gue jewer kupingnya."


Nathan yang kesal menjewer telinga Ando lebih dulu.


"Auwss Nat, sakit gue bukan anak lu." Ando mengusap telinganya yang terasa panas, akibat jeweran tangan Nathan.


"Lu pikir gue juga anak lu."


Ami hanya cekikikan. "Hati-hati by, ingat jaga hati untuk kami papa." Ami terseyum ketika mengatakan itu, membuat Nathan ikut mengembangkan senyum terharu.


Ami membulatkan kedua matanya. "Apa By..!"


"Ups keceplosan." Nathan menutup mulutnya.


"Byy, kita akan ke Turki?" Tanya Ami girang.


"Hm, tunggu aku pulang."


Tak lama terdengar panggilan jika pesawat akan segera berangkat.


"Jaga diri baik-baik, aku pasti merindukanmu." Nathan menangkup wajah Ami menyematkannya kecupan diwajah Ami tanpa terlewat, dan terlahir bibir yang pasti akan dia rindukan beberapa hari kedepan.


Ando geleng kepala pria itu memilih untuk pergi lebih dulu, karena jika berdiri disana pasti dirinya hanya menjadi kambing congek.


"Emph."


Nathan melepas tautan bibirnya, terseyum melihat bibir istrinya yang sedikit bengkak.


"Aku pergi." Nathan mengecup kening Ami." Rasanya begitu berat, ini kali pertama dirinya meninggalkan Ami sendiri.


"Em, daah Byy.." Ami melambaikan tangan, mata gadis itu berkaca-kaca.

__ADS_1


"Jangan sedih." Nathan bicara sambil berjalan mundur perlahan.


"Em." Ami mengangguk.


Nathan terseyum dia segera berlari mengejar Ando yang sudah lebih dulu jalan didepan, tanpa terasa air matanya menetes, Nathan enggan kambali menoleh kebelakang.


"Ck, kenapa lu jadi cengeng man." Ucap Ando merangkul bahu Nathan.


Nathan tidak menjawab dia menoleh kebelakang ketika jarak mereka sudah jauh, dan Ami melambaikan tangannya kembali ketika dirinya menoleh. Nathan pun melakukan yang sama, bahkan kedua tangan pria itu bertaut membentuk pola hati.


Ami tertawa melihat ulah Nathan.


"Gue akan merindukannya." Gumam Nathan.


"Jalan pak, kerumah bunda." Ucap Ami yang baru duduk didalam mobil yang tadi mengantar mereka.


"Baik Non." Pak Husein segera menjalankan mobilnya menuju rumah yang disebutkan majikannya.


Ami menatap pemandangan luar lewat kaca jendela, gadis itu menggigit kuku-kukunya seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Non, sudah Merindukan den Nathan." Ucap pak Husein yang melihat istrinya majikannya itu melamun.


Ami menoleh, dan menarik sudut bibirnya sekilas. "Bukan rindu pak, tapi seperti ada yang kurang." Ucap Ami jujur, hatinya seperti merasa kurang karena untuk beberapa hari kedepan Ami tidak bisa bertemu Nathan, karena ini kali pertama dirinya ditinggal setelah satu tahun lebih menikah.


"Berdoa non, semoga pekerjaan den Nathan cepat selesai dan segera pulang." Ucap pak Husein dengan menatap wajah Ami dari kaca spion dalam.


Ami hanya menggaguk. "Iya pak."


Doanya selalu Ia panjatkan, dimana pun Nathan berada Ami selalu berdoa untuk sang suami.


"Bunda...!!" Langkahnya membawa masuk kedalam dapur, ketika hidungnya mencium aroma masakan, dan Ami yang menciumnya terasa lapar.


"Waaahhh ayam bakar." Tangan Ami ingin mencomot ayam bakar paha yang ada dua atas meja.


"Ehhhhh,, no tidak bisa." Niko Manarik piring yang isinya ayam bakar itu, agar Ami tidak bisa mengambil.


"Bunda si kiko pelit." Ami merengek mendekati bunda Raya yang masih memanggang ayam.


"Kilo?" Beo Niko menatap tajam Ami.


Ami meliriknya sinis.


"Ck, dasar bocil, gue yakin pasti suami lu pergi pulang-pulang bawa istri baru." Ucap Niko tertawa.


Ami yang mendengarnya langsung terdiam, wajahnya berubah tanpa ekspresi.


"Loh nak mau kemana?" Bunda Raya memanggil Ami yang berlalu pergi.


Niko menatap punggung Ami yang semakin jauh. "Aku salah omong ya Bun, padahal cuam bercanda." Niko menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Kamu tidak salah, hanya saja mulutmu perlu di benerin."


Niko langsung memegang bibirnya. "Benerin gimana, udah pas ini." Lirihnya dengan meraba-raba bibirnya.


__ADS_2