
Di hotel Ami duduk diatas ranjang dengan memainkan ponselnya. Setelah sampai hotel Nathan keluar sebentar untuk urusan pekerjaan dan Ami yang memang tahu jika suaminya pergi untuk urusan pekerjaan, dirinya mengerti.
Satu jam dua jam Ami mulai bosan dengan apa yang dia lakukan. Apalagi Nathan juga belum kembali padahal sudah jam sembilan malam.
"Bosan," Keluhnya dan beranjak dari ranjang, Ami menuju lemari pendingin kecil yang ada di pojok ruangan itu.
Melihat isinya hanya ada minuman Ami mengehela napas, jika sedang galau begini dirinya butuh mengemil.
"Kebawah aja kali ya." Memiliki ide, dan bosan di dalam kamar, Ami berniat untuk keluar hotel. Sebelum masuk tadi dirinya melihat ada supermarket di samping hotel dan Ami berniat kesana.
Nathan memang tidak mengijinkan dia keluar kamar hotel, tapi karena bosan dan tidak ada apa-apa yang bisa dia makan. Ami memilih untuk keluar sebentar sebelum Nathan pulang.
Keluar dari lift, lobby hotel masih ramai, Ami melangkahkan kakinya keluar dan berbelok kesamping kiri untuk mendatangi supermarket.
Ketika ingin mendorong pintu, tubuh Ami terhuyung.
Bugh
"Mama jangan tinggalin Erik." Ucap suara terisak di belakang tubuh Ami.
"Eh, kok. Hey kamu siapa?" Ami yang dipeluk dari belakang kekusahan untuk melihat anak yang memeluknya. Dirinya berusaha membalik badan untuk melihat anak kecil itu.
"Mam, jangan pergi." Ank kecil bernama Erik itu masih memeluk kaki Ami dari belakang.
"Hey, boy. Tolong lepaskan aunty." Ucap Ami lagi dengan lembut agar anak itu melepaskan pelukannya.
Seakan sihir anak kecil itu melepas pelukannya mendengar ucapan lembut Ami.
__ADS_1
Ami berbalik dan menatap anak kecil itu dengan bingung, "Kamu kenapa? dan sama siapa disini?" Ami mensejajarkan tingginya dengan anak itu. Wajahnya anak laki-laki itu tampan dan imut, kulit putih dan rambut kriwilnya membuat Ami gemas.
"Maaf." Anak kecil sekitar enak tahun itu menunduk, karena jika melihat kedua bola mata wanita didepanya tidak mirip dengan Mamanya.
"Kenapa minta maaf? apa kamu sedang tersesat." Tanya Ami lagi. Jam sudah malam tapi anak kecil ini berkeliarannya sendiri.
Anak itu menggeleng. "Erik ingin beli es krim." Ucapnya dengan sendu menatap wajah Ami lekat.
Ami yang ditatap seperti itu kikuk, padahal hanya anak kecil.
"Kebetulan aunty mau beli sesuatu, ayo. Dan setelah ini kamu pulang ya." Ucap Ami yang di angguki anak kecil itu.
Ami mengandeng tangan Erik untuk masuk ke dalam.
Kedua orang berbeda generasi itu ternayata cepat akrab hingga Erik ikut Ami memilih makanan.
.
.
Menekan kode password, Nathan masuk ke kamar hotel.
"Sayang." Masuk kedalam tidak menemukan Istrinya Nathan mencarinya ke kamar mandi dan tidak ada.
"Kemana?" Nathan mengambil ponselnya dan segera Ia charger.
Gelisah tentu saja, ini bukan kota mereka tinggal dan Ami tidak tahu seluk beluk kota ini.
__ADS_1
Tiga menit, Nathan melepas charger nya ketika ponselnya sudah terisi baterainya.
Drt..Drt..Drt..
Nathan menoleh ke atas ranjang dimana suara dan getaran ponsel berasal dari sana.
"Ck, ponselnya tertinggal." Nathan mengambil ponsel Ami di atas ranjang.
Karena khawatir, Nathan segera keluar dari kamar hotel untuk mencari Istrinya.
"Erik tidak takut dicari Papa." Tanya Ami yang menatap lekat anak kecil itu.
Mereka sudah banyak menghabiskan eskrim dan cemilan, bahkan Ami membeli mie dalam kemasan cup untuk dimakan ditempat.
Keduanya duduk didalam minimarket yang langsung mengarah ke kaca besar.
"Papa sibuk kerja, dan tidak akan mencari Erik." Jawab anak itu sendu.
Ami mengehela napas, Erik bercerita jika Mamanya pergi meninggalkannya, disaat kedua orang bertengkar. Erik yang masih berusia lima tahun ketika di tinggal pergi oleh Mamanya.
"Aunty kalau mau pulang duluan saja, Erik sudah sering sendirian."
Mendengar ucapan Erik membuat hati Ami mencolos.
Dirinya tidak bisa membayangkan anak kecil seperti Erik yang sudah merasakan kesepian dan bisa dewasa sebelum waktunya.
.
__ADS_1
.
Gaess maren Mak otor sibuk di RL, jadi cuma bisa up satu bab😩 Mak otor itu modal ide langsung ketik dan kirim, jadi gak bisa nabung bab 🤧