My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Kenyataan


__ADS_3

Di ruangan yang sama, dengan ranjang yang berbeda, Ami masih berdiri, di samping sang suami yang masih memejamkan mata sudah dua Minggu.


Dan hari ini adalah jadwal Ami untuk melakukan operasi Caesar untuk kelahiran twins yang seharusnya berita bahagia yang mereka tunggu.


Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain ketika Nathan dinyatakan koma setelah mengalami kecelakaan beruntun saat dijalan berangkat kekantor.


Ami selalu mengingat-ingat ucapan terakhir Nathan pada dirinya.


"Hati-hati, dan jaga twins baik-baik."


Sejujurnya saat mendengar ucapan Nathan hati Ami mulai resah, tapi wanita itu mengesampingkan perasannya hingga menampilkan senyum seperti biasa.


Dan siapa sangka jika pagi itu percakapan mereka adalah yang terakhir selama dua Minggu kedepan sampai sekarang.


Ami pun mencoba untuk kuat demi buah hati mereka yang akan segera lahir, meskipun ingin sekali dirinya menagis meraung, tapi akal sehatnya masih mengingat buah hatinya.


"By, apa kamu tidak ingin menemani ku." Ami terseyum pilu, wanita itu tidak akan menjatuhkan air matanya, melihat keadaan suaminya yang terbaring tidur di atas ranjang pasien.


"Kamu sudah berjanji akan menemani aku diruang operasi." Tutur Ami mengingat ucapan Nathan tempo lalu, dimana Nathan akan meluangkan banyak waktu menjelang kelahiran Beby twins, bahkan Nathan sendiri sudah menyiapkan nama untuk twisn, dan Ami sengaja tidak diberi tahu, kata Nathan untuk kejutan.

__ADS_1


"Bangun By, aku butuh kamu."


Ami menutup mulutnya dengan memejamkan matanya, mengahalau rasa sesak yang kian menyiksa hingga tak mampu membendung air matanya.


"Kamu harus bangun By, twisn butuh sosok papa disampingnya, dan aku butuh seorang suami yang mencintaiku dengan tulus." Ami terus berbicara hingga seorang dokter dan suster datang untuk membawa Ami kedalam ruangan operasi.


"Nyonya waktunya untuk bersiap." Ucap dokter Sarah dengan senyum tipis, dirinya tahu bagaimana perasaan ibu hamil yang sedang mencoba untuk baik-baik saja.


Saat Allan mencari keduanya, Allan yang mendapat kabar jika mobil Nathan mengalami kecelakaan beruntun dan paling parah adalah mobil Nathan yang berada di nomor dua dari mobil korban pertama.


Dan karena tidak sempat menghindar, jadi mobil yang berada dibelakang Nathan menabrak mobilnya terus menerus semakin panjang kebelakang. Dan korban yang menumpangi mobil pertama tidak bisa diselamatkan.


Mendengar berita yang papa Allan ucapkan, saat itu juga tubuh Ami langsung pingsan dan sadarkan diri.


"Dokter boleh saya meminta sesuatu?" Tanya Ami dengan wajah serius.


Dokter Sarah menatap Ami sekilas. "Apa Nyonya?" Tanyanya dengan penasaran.


"Ijinkan suami saya menemani saya diruang operasi, saya mohon dok." Ucap Ami sambil menangkupkan kedua tangannya didepan dada.

__ADS_1


Dokter Sarah melirik aisten suster yang berada di sana.


"Baiklah, saya ijinkan untuk suami anda." Ucap dokter Sarah membuat Ami mengembangkan senyum.


Terima kasih dokter." Ucap Ami senang.


Para medis kambali menyiapkan ruang operasi untuk Nathan.


Dua ranjang yang saling berdampingan dan Ami menautkan tangannya dengan tangan Nathan siapa saja yang melihatnya akan terharu. Keluarga yang menunggu di luar saling berpelukan menangis haru.


"By, do'akan kami." Ucap Ami lembut dengan bibir terseyum tipis.


Setelah diberikan obat bius setengah badan, Ami dibiarkan terlentang dengan kain penutup dibagian dada, kedua mata Ami tak lepas menatap wajah suaminya yang masih terlelap, hanya saja sudut mata Nathan mengeluarkan air mata.


"Kau yakin kamu akan melihat twisn lahir By, ayo semangat." Bisik Ami parau, menahan gejolak didada.


Dentingan alat medis yang hanya Ami dengar, dengan sekuat tenaga Ami menahan gejolak perasaan mual, hingga tanyanya tanpa sadar menggenggam erat sangat erat tangan Nathan.


"Engh By.." Ami bergumam dengan lemah.

__ADS_1


"Sayang..." Suara lembut menyapa telinga Ami dengan pelan.


Ami menoleh kesamping, bibirnya langsung terseyum haru. "Byyy.."


__ADS_2