
"Nat, kenapa kamu memilih lahan yang jauh dari keramaian seperti ini?" Tanya Hilda yang merasa heran.
Hilda yang sedang menjalin kerja sama, karena Hilda adalah seorang arsitek sekaligus berjalan di bidang kontraktor, jadi selain dia sendiri yang merancang dia jiga yang berperan dalam pembangunan.
"Karena disini tempat yang tepat." Ucap Nathan yang memandang hamparan luas tanah kosong.
"Kalau begitu di buat seperti ini bagaimana, sesuai permintaanmu." Hilda menunjukan hasil gambarnya dan ide dari pikirnya yang dia tuangkan, tapi semua itu atas permintaan Nathan dan Hilda hanya menambah beberapa hal untuk menyempurnakan.
"Jadi disini fasilitasnya lengkap, tempat bermain belajar dan sebuah sarana tempat tinggal yang cukup untuk tiga puluh unit. dan semua fasilitas akan di lengkapi. Disebelah sini juga ada sarana olahraga." Hilda menjabarkan letak strategis pembangunan.
"Ya, saya setuju. Jangan lupa tambahkan Mushola didalamnya." Ucap Nathan yang sangat puas dengan rancangan Hilda.
"Oke.."
Hilda terseyum bangga pada dirinya sendiri, "Memangnya untuk apa kamu membangun sarana ini, lagian tidak mungkin kan bisa menghasilkan ratusan juta setiap menit." Ucap Hilda yang merasa heran. Jika pembisnis pasti akan membangun sarana yang menghasilkan uang, Mall, rumah sakit ataupun apartemen dan hotel.
"Tidak apa, hanya ingin membuat yang beda saja." Ucapnya dengan senyum."Kamu hebat Hil, saya suka dengan hasil yang kamu buat." Puji Nathan, membuat Hilda tersenyum malu.
"Apapun akan aku lakukan asalkan rekan Bisnisku puas."
Keduanya berbincang-bincang sebentar, Hilda sejak tadi menatap ke arah Nathan, sedangkan Nathan bicara dengan tatapan lurus kedepan dimana hamparan didepan sana sepertinya lebih menarik dari pada wanita cantik di sampingnya.
"Nat, apa kamu memiliki pacar?" Tanya Hilda nada bercanda, dalam hati Hilda menganggap serius.
Nathan menoleh, "Apa kamu pernah melihatku menggandeng wanita?" Tanya Nathan balik.
Hilda menggeleng. "Aku tidak percaya seorang Nathan Adhitama tidak memiliki kekasih." Ledek Hilda dengan hati berbunga-bunga.
"Kenapa tidak, netizen selalu membenarkan apa yang meraka lihat, dan tidak tahu fakta yang sebenarnya." Nathan terseyum tipis, tiba-tiba wajah imut Ami melintas di pikirnya. "Saya memang tidak punya kekasih, tapi saya sudah_"
Drt...Drt..Drt..
Ponsel milik Nathan berdering, membuat perkataanya terhenti.
"Halo.."
"..."
"Awasi dia jangan sampai hilang lagi."
__ADS_1
"..."
"Sial..!"
Nathan terlihat marah mendengar penjelasan seseorang di seberang sana.
"Ada apa Nat?" Tanya Hilda yang juga khawatir melihat wajah Nathan yang panik.
"Saya harus pergi, maaf." Nathan segera masuk kedalam mobilnya, pria sudah seperti kesetanan ketika menghidupkan mesin mobil yang langsung tancap gas dengan kecepatan tinggi.
"Kenapa dia." Gumam Hilda penasaran.
"Awas kamu gadis nakal, sepertinya kamu memang harus diberi hukuman." Ucap Nathan pada diri sendiri, matanya fokus ke jalan. Kakinya semakin dalam menginjak pedal gas.
.
.
.
Ami yang asik dengan kegiatannya hari ini tidak sadar jika sejak tadi dirinya selalu diperhatikan seseorang. Apalagi ditempat keramaian seperti ini membuat Ami tidak sadar sama sekali.
Setelah tiga luluh menit berenang kesan kemari Ami masih belum sadar jika ada perbedaan ketika dirinya datang hingga sekarang, tapi gadis polos itu tetap saja tidak menyadari.
Hingga hampir satu jam dirinya baru sadar melihat kesekeliling.
"Loh kok, udah gak ada orang." Ucapnya dengan heran dan juga waspada.
Matanya mengedar kepenjuru kolam renang yang luas dan tadi sangat ramai, apalagi kolam ini memang untuk umum bukan privat.
Ami bergerak minggir di tepian, lama-lama dirinya juga merasa takut.
"Duh, kenapa gue gak nyadar sih, kalau udah kosong melompong begini, jangan-jangan gue jadi sandera lagi." Ucap Ami yang sudah memikirkan hal-hal yang mungkin akan terjadi.
Dirinya berdiri di pinggir kolam dan kembali menatap kesekeliling, langkahnya yang mundur tidar sadar jika dibelakang dirinya ada seseorang.
Bugh
"Aaaa.." Ami yang akan terjengkang kedapan berteriak karena jika tidak dirinya akan masuk kedalam air.
__ADS_1
Grep
Tumbuhnya tertahan dengan tangan yang di tarik kebelakang dalam posisi hampir kecebur Ami menoleh kebelakang.
Seorang pria dengan menggunakan kaca mata hitam, dan kemeja putih lenganya yang digulung sampai kesiku, siapa lagi jika bukan Nathan.
"Kau."
Aaaa
Byurr
Nathan sengaja melepaskan tangannya agar Ami terjun bebas ke kolam, membuat gadis itu gelagapan karena terkejut dan tidak siap.
"Om sialan..!! Brengsek..!!" Ami memaki Nathan dengan memukuli air di kolam, mengusap wajahnya Ami menatap Nathan tajam.
Nathan masih santai dengan kedua tangannya masuk ke dalam saku celana, menatap gadis nakal yang sudah berani berpakaian seksi di tempat umum.
Ami merentangkan kedua tangannya, meminta Nathan untuk membantunya.
"Hubby, tolong bantu aku." Ucapnya dengan wajah memelas dan imut.
Nathan pun mengangkat alisnya sebelah.
"Kaki aku kram tolong..ahh." Ami meringis dengan mencoba untuk meraih tepian kolam.
"Sial..!" Nathan pun segera maju dan merentangkan tangannya untuk menggapai tangan gadisnya yang masih melambai.
Byuuurr
Ami menarik tangan Nathan kuat hingga membuat pria itu jatuh ke kolam yang sama dengan Ami.
"Hahahaha, Syukurin mang enak."
Ami tertawa lepas sampai perutnya terasa kram melihat Nathan yang basah kuyup dengan wajah menahan kesal.
"Kau.."
"Aaaa..ampun..!!"
__ADS_1