My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
SEASON 2~Harga Fantastis


__ADS_3

Dengan berlari kecil Hawa keluar dari sekolah, gadis itu buru-buru memesan kendaraan untuknya.


Tidak ada yang tahu gadis itu keluar dari sekolah karena Hawa kabur lewat jalan kecil dibelakang sekolah.


Grep


"Heh, mau kemana kamu."


Glek


Hawa menelan ludah dengan jantung yang berdebar kencang saat tas gendongnya ditarik seseorang dari belakang.


"Tamatlah riwayatku." Gumamnya dengan pasrah jika harus mendapat hukuman.


Hawa menoleh kebelakang dan kedua matanya membulat sempurna melihat siapa yang sudah berani mencegahnya.


"Micin Sasa sialan!" Pekik Hawa dengan kesal.


"Hahahaha, kena kamu Lika." Sasa tertawa keras, melihat wajah pucat Hawa yang ketakutan.


"Ish, kamu nyebelin." Hawa menghentakkan kakinya kesal.


"Lagian kabur ngak ngajak-ngajak. Aku juga mau kali." Ucap Sasa dengan menaik turunkan alisnya.


Hawa hanya memutar kedua matanya malas. "Aku pikir kamu tidak mau jika diajak bolos."


Hawa berjalan menuju warung dibelakang sekolah, disana biasanya juga banyak siswa yang nongkrong karena bolos.


"Ck, hari ini saja tidak masalah." Ucap Sasa.


Hawa hanya mengangguk, sebenarnya ini bolos sekolah bukanlah hobinya, Hawa cenderung siswi yang rajin selama hampir satu tahun ini. Tapi entah mengapa hari ini perasaanya tidak enak, Hawa seperti butuh ketenangan.


"Lagian kamu mau kenapa sih, ada masalah?" Tanya Sasa yang merupakan sahabat Hawa dari SMP.


Hawa menghela napas. "Perasaanku tiba-tiba tidak enak, entahlah aku juga tidak mengerti." Ucap Hawa dengan pelan.


Keduanya berjalan melewati warung yang ramai dengan siswa yang sengaja bolos.


Hawa yang memang sudah menjadi primadona sekolah, mereka mengenali Hawa. Apalagi saat tempo lalu kejadian di halte yang membuat siswa babak belur ulah Mike. membuat mereka yang tahu tidak berani mengganggu Hawa lagi.


"Cantik sih, tapi sayang pawangnya mengerikan." Ucap salah satu siswa yang duduk disana.

__ADS_1


Hawa yang mendengar tidak perduli, dirinya lebih baik menutup telinga.


Tak lama mobil taksi yang Hawa pesan sampai, keduanya masuk kedalam taksi dengan perasaan lega.


"Ah, akhirnya ngerasain juga yang namanya bolos." Ucap Sasa dengan tertawa.


Hawa hanya terseyum. "Eh, Lika. Gelang kamu bagus, aku baru melihatnya." Ucap Sasa yang melihat Hawa pertama kali memakai gelang.


Hawa menatap tangan kirinya. "Ya, ini sangat bagus." Bibirnya menyunggingkan senyum saat mengingat siapa yang memberikan gelang itu padanya.


"Pasti mahal." Ucap Sasa yang melihat jika gelang yang Hawa pakai bukanlah gelang murah, Sasa juga dari kelaurga berada dan gadis itu juga bisa membedakan barang mahal seperti gelang yang Hawa pakai. Meskipun sederhana dan seperti perak biasa tapi dibangian tertentu terdapat berlian yang memang tidak terlalu mencolok.


"Em, tidak ini hanya gelang perak biasa." Ucap Hawa yang memang tahu jika gelang yang dia pakai hanya gelang biasa.


"Ck, matamu itu memang tidak bisa membedakan perak dan berlian."Ketus Sasa.


"Tidak mungkin Sa, ini gelang biasa." Kekeh Hawa.


"Ok, kita buktikan sekarang ke toko perhiasan." Putus Sasa yang menyakini jika gelang yang sahabatnya pakai bukanlah gelang yang harganya hanya ratusan ribu.


Keduanya sampai di Mall yang terletak di jantung kota, Sasa ingin membuktikan penilaiannya sedangkan Hawa juga penasaran dengan gelang yang dia pakai.


Hawa menurut dan memberikan gelang yang dia lepas pada pemilik toko.


"Wah, inikan jenis gelang berlian keluaran tiga tahun lalu yang hanya ada tiga di Indonesia." Ucap pemilik toko yang meneliti gelang Hawa.


"Hah, hanya ada tiga!" Ucap Hawa dan Sasa bersamaan.


Mereka cukup terkejut mendengarnya. "Yap, dan kamu beruntung mendapatkan gelang ini yang menjadi rebutan kaum wanita."


Hawa mengerjapkan kedua matanya. "Lalu berapa harga gelang itu." Tanya Hawa dengan penasaran.


Sasa ikut mengangguk.


"Delapan ratus sampai sembilan ratus juta."


"Apa!"


"Lika sebenarnya siapa yang memberimu gelang ini?" Tanya Sasa yang penasaran.


Keduanya duduk salah satu kafe yang ada di Mall tersebut.

__ADS_1


Hawa masih tidak percaya jika gelang tiga tahun lalu yang dia terima memiliki harga yang fantastis. Dan Hawa cukup terkejut bahkan dirinya sampai syok tidak percaya jiak Om ganteng memberinya barang yang mahal.


"Entahlah, dia sudah tiga tahun menghilang setelah memberi ku gelang ini." Jawab Hawa dengan masih memikirkan Mario.


Bagaimana bisa Mario memberinya gelang mahal padanya yang baru bertemu dua kali, bahkan jika Hawa bertemu sekarang mungkin dirinya tidak mengenali wajah Om ganteng itu lagi.


Setelah mengisi perut hanya dengan minuman dan cemilan, Hawa dan Sasa memilih keliling Mall untuk cuci mata. Kedua gadis belia yang menggunakan rok abu-abu dengan atasan yang tertutup hodie atau jaket itu berjalan kesana kemari tidak tahu lelah, hanya untuk menghabiskan waktu.


"Lika kita nonton yuk." Ucap Sasa.


"Boleh, dari pada kita kesana kemari tidak jelas." Hawa yang berjalan mundur didepan Sasa, tidak melihat jika dibelakangnya ada seseorang yang sedang berdiri sambil mengangkat telepon.


"Lika aw_"


Bugh


Belum sempat Sasa selesai menginterupsi, Hawa sudah jatuh tersungkur dengan duduk di lantai.


"Aduh, Bok*ong aku." keluhnya yang merasa sakit dibagian belakang tubuhnya.


"Ck, kamu sih jalan mundur-mundur." Sasa membantu Hawa berdiri.


"Kamu tidak apa-apa"


Suara bariton, dibelakang Hawa membuat Sasa menoleh keasal suara.


"Ck, Om Ngak liat teman aku kesakitan." Kesal Sasa yang melihat Hawa meringis.


"Iya maaf, lagian teman kamu jalanya juga ceroboh." Ucap pria itu menatap punggung Hawa yang masih membelakanginya.


"Dih, Malah nyalahin." Kesal Sasa mendelik tidak suka.


"Sudah Sa, lagian aku yang salah." Hawa menatap sahabatnya yang sudah kesal. Dan Hawa membalikan tubuhnya berniat untuk meminta maaf.


"Maaf Om Saya tidak sengaja." Hawa menatap pria tinggi didepanya dengan tatapan tulus meminta maaf.


Deg


.


Pak cepak..cepak..cepak jedeerrr 🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2