My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
SEASON 2~ Menimang bayi


__ADS_3

Flashback On


"Hawa maukah kau menikah denganku."


Tubuh Hawa membeku, gadis itu seperti terkena serangan jantung mendadak mendengar ucapan Mario.


"Me-menikah? tapi kenapa Om?" Hawa terbata dengan wajah yang masih syok.


Bagaimana bisa pria dewasa didepanya mengajaknya menikah sedangkan mereka hanya bertemu beberapa kali, dalam hitungan jari.


Mario menghela napas. "Aku takut jika aku pergi, maka kamu sudah tidak bisa aku raih lagi." Dada Mario terasa sesak, disini apakah dirinya yang hanya mencintai Hawa. "Dan ketakutan ku tidak akan terjadi jika kamu mau menikah denganku." Tanganya mengelus pipi Hawa.


Sungguh Mario tidak bisa membayangkan jika Mike akan menikahi gadisnya, dan jika itu terjadi maka dirinya tidak akan pernah bisa bertemu dengannya.


"Tapi Om_"


"Aku hanya butuh kepastian, bukan penolakan. Jika kamu bersedia maka cukup diam dan menuruti apa yang aku katakan." Ucap Mario tegas, dengan tatapan sungguh-sungguh, Hawa yang mendengar ucapan tegas Mario membuatnya menatap kedua manik mata yang terlihat sungguh-sungguh.


Lidah Hawa terasa kelu, jantungnya berdebar kencang, tidak menyangka jika dirinya diajak menikah dengan usianya yang masih belasan tahun.


"Tapi aku sudah berjanji pada Mama Vania." Ucap Hawa lirih, wajahnya menunduk merasa bersalah.


"Janji?" Tanya Mario yang tidak mengerti.


Hawa mendongak, dan menceritakan janji yang dia buat saat Vania akan masuk ruang operasi dalam keadaan sekarat, dan janji yang tidak sengaja Hawa katakan membuatnya merasa keberatan saat ini. Bahkan janji itu mengikatnya secara tidak langsung.


"Mama Vania baik, dan Awa tidak ingin menyakitinya."


Mario memejamkan mata, menetralkan rasa amarah yang mencuat begitu saja, ternyata Mamanya mengunakan ketidak berdayanya untuk mengikat Hawa waktu itu. Ini bukan salah Hawa melainkan keadaan yang memaksa gadis itu untuk melakukannya.


"Meskipun Mike menyakitimu, apa kamu akan terima." Ucap Mario miris.


"Maaf Om." Lagi-lagi Hawa menuduk.


Jika bisa, dirinya tidak ingin meneruskan perjodohan ini, tapi Hawa tidak tahu bagaimana cara mengakhirinya, Hawa sudah terikat janji yang dia sanggupi, dan sebagai keturunan Adhitama, pantang bagi mereka mengingkari janji yang sudah mereka ucapkan.


"Baiklah jika itu maumu, maka jangan salahkan jika aku yang akan melanggar janji itu untukmu."


Mario menatap Hawa tanpa keraguan, jika sudah begini dirinya tidak akan tinggal diam untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, sudah cukup selama ini dirinya diam dan mengalah, dan kali ini Mario hanya ingin bahagia dengan pilihannya yaitu bersama Hawa Malika Adhitama.


Flashback off


"Hawa kamu dari mana?" Nathan yang melihat putrinya baru saja masuk kedalam rumah dijam malam seperti ini, dia pikir Hawa sudah tidur dikamar dan kapan putrinya itu keluar.


"Em, itu pah." Hawa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung dan juga takut jika ketahuan bertemu pria diluaran sana.


Ingin berbohong Hawa tidak tahu harus berbohong apa, karena memang gadis itu tidak pernah berbohong. Itulah yang diajarkan oleh kedua orang tuanya, agar selalu berkata jujur.

__ADS_1


"Awa mana pesanan Mama." Ami datang dari arah tangga, wanita cantik itu menatap putrinya dan mengedipkan sebelah matanya.


"Itu mah, kebetulan martabak langganan Mama habis jadi Awa tidak mendapatkannya." Jawab Hawa takut-takut.


Saat mamanya mengedipkan mata, Hawa langsung merespon mengerti jika Mamanya hanya pura-pura.


"Sayang kamu ingin martabak, kenapa tidak bilang padaku." Nathan langsung merangkul pinggang Istrinya, saat Ami sudah berdiri disampingnya.


"Em, kamu kan sejak tadi sibuk dengan Adam di ruang kerja By." Komentar Ami dengan bibir mengerucut.


"Pah stop." Hawa menginterupsi ketika papanya ingin mencium bibir Ami. "Biar Awa pergi dulu, setidaknya kalian tidak mesum didepan anak di bawah umur." Setelah mengatakan itu Hawa berlalu pergi.


"Eh princess papa belum_"


"Ssttt, sudah By biarkan Hawa pergi." Ucap Ami yang mencegah Nathan untuk tidak lagi menginterogasi putrinya.


Nathan menatap Istrinya memincing. "Sebenarnya apa yang kamu tutupi dariku." Ucap Nathan menatap Ami intens.


Ami yang ditatap intens bukannya takut malah balik bertanya. "Apa yang harus ditutupi By, jika kamu sudah melihatnya luar dalam, bahkan sudah menghasilkan tiga anak." Jawab Ami dengan wajah polosnya.


"Ya salam Ayana, kau benar-benar ingin aku hukum."


.


.


"Menikah."


Tanganya menyentuh bibirnya yang baru saja dikecup oleh Mario, meskipun Hawa diam saja tapi Mario yang sebagai pria dewasa mampu membuat hatinya berdesir hebat.


"Kak Mike saja tidak pernah menciumku, tapi Om ganteng Mario sudah_ Aarrgh Awa bibirmu sudah tidak perawan lagi."


Hawa menutupi wajahnya menggunakan bantal, merasa malu, marah dan senang bersamaan.


Jantungnya tidak bisa dikondisikan, entah kenapa berdetak dengan cepat saat mengingat ciuman pertamanya dan mengingat ucapan Mario yang mengajaknya untuk menikah.


"Dedek Emes, Om ganteng." Ucap Hawa dengan suara kecil. Mungkin jika Mario mendengarnya pria itu akan salting tujuh turunan, tujuh belokan dan tujuh tanjakan. Karena kini wajah Hawa bersemu merah dan terlihat sangat menggemaskan.


"Mike, Mario. Sama-sama tampan, tapi memiliki karakter berbeda jauh." Ucap Hawa dengan menerawang seperti paranormal.


"Mario kamu dari mana?" Julio baru saja keluar dari ruang kerjanya, dan melihat Mario ingin menaiki tangga.


Mario menoleh dan melihat Julio bersama Vania disampingnya.


"Ada urusan Pah." Mario hendak pergi tapi suara Vania menghentikan langkahnya.


"Apa kalian bertengkar?" Pertanyaan Vania membuat Mario mengepalkan tangannya kuat, napasnya sedikit memburu tapi sebisa mungkin Mario mengatur napasnya agar amarahnya tidak tersulut kembali.

__ADS_1


"Hanya salah paham Mah." Setelah menjawab Mario langsung pergi tanpa mendengar Vania yang masih memanggilnya.


"Kenapa dengan mereka Pah." Vania merasa curiga, kenapa kedua putranya bisa bertengkar, padahal dari kecil Mario tidak pernah membalas jika keduanya bertengkar ataupun Mike melakukan kesalahan dan memancing emosinya.


"Biarkan saja mah, mereka sudah besar."


"By, ahh sudah."


Dikamar pengantin yang sudah lama menggema suara desahann yang keluar dari bibir keduanya yang saling bersahutan.


Nathan benar-benar menghukum Ami dengan caranya sendiri.


Menghukum tapi melenakan dan bikin kecanduan, jika jenis hukuman seperti ini sepertinya semua istri pasti pasrah dengan suka rela.🤣🤣


"Engh, keluar sayang, ohh."


Tak lama Nathan menyemburkan kecebong miliknya yang sudah ratusan bahkan ribuan kali kedalam rahim sang Istri.


Napas keduanya tersengal, Ami terkulai lemas tak berdaya setelah lebih satu jam keduanya bergumul dengan kenikmatan.


"Milikmu rasanya tidak pernah berubah sayang, masih tetap legit dan mengigit." Ucap Nathan dengan sisa napas yang masih memburu.


Ami hanya tersenyum, wanita itu merasa bangga mendapat pujian dari suaminya.


"Kamu juga masih hebat By." Puji Ami jujur.


permainan Nathan tidak pernah berubah, pria itu masih perkasa diusianya yang sudah kepala empat.


Nathan terseyum lebar, dan mendaratkan satu kecupan dibibir Istrinya yang tebal karena ulahnya.


Keduanya berpelukan di bawah selimut tebal yang menutupi tubuh polos mereka.


Ami bersandar pada dada bidang Nathan yang masih basah sisa keringat percintaan mereka.


"By, bagaimana?" Tanya Ami yang tiba-tiba bersuara.


"Hanya menunggu saja sayang, semuanya akan baik-baik saja." Jawab Nathan sambil mencium pucuk kepala Ami.


"Aku ingin menimang bayi lagi By." Ami mengeadahkan kepalanya menatap Nathan yang juga menatapnya.


Nathan tertawa. "Baiklah ayo kita bekerja keras untuk bisa kembali menimang bayi."


Nathan langsung mengangkat tubuh Ami untuk duduk diatas tubuhnya.


"Ahh By, bukan ini yang aku maksud." Ami menggigit bibirnya saat Nathan sudah menyerangnya dengan setuhan yang memabukkan, Ami kembali pasrah saat dirinya memimpin permainan.


Keduanya kembali mengulangi olahraga ranjang yang katanya untuk menimang bayi, padahal yang Ami maksud ingin menimang cucu.

__ADS_1


__ADS_2