
Maudy menatap tajam gadis didepanya, dengan wajah kesal. Sedangkan Nathan malah mengulum senyum melihat wajah Ami yang sudah kesal.
"Cih, siapa kamu." Maudy menatap Ami sinis. "Gadis ingusan, sok jadi jal*ng godain pacar orang." Ucap Maudy tersenyum sinis.
Ami yang di katai jal*ng, menatap Maudy tajam. "Eh, ulet gatel, nyadar diri dong. Lo yang jal*ng gangguin lakik orang, kenapa gak laku Lo." Ami yang sudah kesal tersulut emosi di bilang jal*ng gadis remaja ber-bar itu siap mengeluarkan taringnya.
Maudy berdiri dengan wajah merah padam, suara keras Ami mengundang beberapa pengunjung memperhatikan mereka. Nathan hanya melihat saja, dirinya ingin melihat sejauh mana Ami bereaksi untuk melupakan kemarahannya.
"Dasar jal*ng kecil gatel. Berani kamu ngatain saya hah..!!" Maudy maju ingin meraih rambut Ami, tapi Ami lebih dulu menepis tangan Maudy membuat Maudy bertambah murka.
"Lo pikir gue takut sama ulet bulu modelan kayak Lo, ngaca cantik-cantik mau jadi pelakor." Ami terseyum sinis, menatap Maudy yang sudah kembang kempis menahan amarahnya.
"Kamu.." Maudy mengangkat tangannya untuk menampar gadis yang sudah membuatnya malu dan marah. Tapi tangannya tertahan karena tangan Nathan menghalanginya.
"Lepas Nat, dia udah hina aku " Maudy masih memberontak untuk melepaskan tangan Nathan.
Ami menatap Maudy sinis, disertai seyum remah. Dirinya merasa menang dengan Nathan yang memebelanya.
"Cukup." Nathan menghempaskan tangan Maudy kasar, membuat Maudy menatap Nathan tak percaya.
"Nat, kamu." Maudy tidak percaya ketika Nathan berjalan menghampiri gadis yang dia sebut jal*ng ingusan.
"Lebih baik kita pergi." Nathan meraih tangan Ami, dan membawa gadis itu keluar, meninggalkan Maudy yang melotot tak percaya.
Ami menoleh kebelakang dengan menunjukan jari tengahnya pada Maudy, dan lidahnya menjulur untuk meledek Maudy.
"Mereka." Maudy mematung. "Sialan, mereka saling kenal." Karena sudah kesal, dan merasa malu, Maudy ikut pergi dari sana dengan wajah menahan amarah.
Brak
Nathan masuk ke mobil, setelah menutup pintu untuk Ami, pria itu masih mengulum senyum. Dirinya tidak percaya melihat gadis kecilnya yang begitu marah dan emosi dengan Maudy.
"Dasar ulet bulu, cantik-cantik kok mau jadi pelakor." Gumam Ami tidak sadar, jika dirinya merasa cemburu melihat Nathan didekati wanita seperti Maudy.
Nathan masih diam, dengan hati yang entah mengapa merasa senang, mendegar ucapan Ami.
__ADS_1
"Awas aja kalau berulah lagi, gue bakar tu bulunya, biar gak gatel lagi." Lagi-lagi Ami tidak sadar jika sejak tadi ucapanya membuat pria di sampingnya menahan tawa.
"Kenapa marah? kamu cemburu." Ucap Nathan yang mulai menjalankan mobilnya.
"Ck, untuk apa cemburu sama ulet kayak dia, lagian cantikan juga gue, mudaan gue fresh juga gue. Buktinya Om nikahnya sama gu_" Ami yang tersadar, menutup mulutnya, dan menoleh kesamping melihat Nathan yang sudah mengembangkan senyumnya.
"Ya, kamu lebih dari dia." Ucap Nathan semakin membuat Ami tak bisa bergerak.
"Mati gue." Ami buru-buru mengeser duduk nya menyamping, sedikit memunggungi Nathan, ingin rasanya menghilang dari hadapan Nathan sekarang juga, tapi itu tidaklah mungkin.
"Kantong Doraemon, gue butuh pintu ajaib."
.
.
.
Nathan memberhentikan mobilnya di pinggir jalan, Dimana ada warung berjejer di siang hari.
"Pesanlah yang kamu mau, tapi di bungkus saja. Kita pulang ke apartemen." Ucap Nathan menatap Ami sekilas. Dirinya tahu gadis itu masih lapar, karena tadi belum sempat menghabiskan makanannya, karena kedatangan Maudy yang membuat keduanya bertengkar.
Ami terseyum senang, makanan seperti ini yang dia inginkan. "Oke, siapa takut." Ami segera turun dan memesan apa yang dia mau, biasanya jika dia sedang bad mood maka sasarannya adalah makanan, Ami akan makan banyak untuk meluapkan kekesalannya, dan sekaranglah waktunya.
Nathan hanya geleng kepala, begitu mudah membuat senyum gadis itu ceria lagi. Tapi Nathan tidak tahu jika luka hati susah untuk di sembuhkan. Termasuk luka hati Ami.
Tak lama Ami kembali berjalan menghampiri mobil Nathan.
Tok..tok..tok..
Ami mengetuk kaca mobil Nathan.
Nathan membukanya tapi pria itu masih menerima telepon.
"Lu urus pekerjaan gue Do, gue gak balik lagi." Setelah terputus Nathan menatap Ami yang berdiri disamping mobilnya, dengan sedikit menunduk.
__ADS_1
"Om, mau aku suruh cuci piring disana?" Tanya Ami menatap Nathan kesal.
Nathan yang tidak mengerti mengernyitkan keningnya.
Ami mengulurkan telapak tangannya. "Minta duit." Ucapnya ketus dengan wajah tak bersahabat.
Nathan malah tertawa, dirinya mengambil dompet disaku celana, dan mengambil lima lembar uang merah untuk diberikan pada Ami.
"Cukup?" Tanya Nathan menatap gadisnya.
Ami hanya mengangguk, lalu kembali pergi menuju tenda.
"Udah kayak bapak-bapak yang diminta uang jajan sama anak, gue." Ucapnya pada diri sendiri.
Dalam hati dia mulai suka jika Ami selalu bergantung padanya, dan meminta apapun padanya. Nathan mulai ingin membuat gadis itu nyaman, seperti apa yang di katakan papanya.
Ami kembali dengan membawa dua kantung keresek besar, yang Nathan yakin itu makanan semua isinya.
Brak
Ami menutup pintu mobil dan menaruh dua keresek yang dia bawa di bagian kursi belakang.
"Semua mau kamu habiskan." Tanya Nathan yang tidak percaya melihat dua kresek besar yang Ami bawa.
Ami hanya mengangkat kedua bahunya. "Mungkin."
.
.
Hola, reader setia author..🥰 jangan lupa tinggalkan jejak kalian yahh..
Like...Komen.. dari kalian author udah seneng banget🥰
Terima kasih atas dukungan kalian 🥰🥰
__ADS_1
Selamat membaca 😘😘😘