
Nathan membulatkan matanya dengan mulut yang terbuka lebar. Bagiamana bisa istrinya nangkring diatas.
"Sayang kamu ngapain..!!" pekik Nathan dengan jantung yang berdebar panik.
Sedangkan yang sebagai tersangka malah tertawa cekikikan.
"Ay, kamu jangan macam-macam, ayo turun." Nathan mengulurkan tangannya meskipun tidak mencapai tubuh Ami, jangankan tubuh kakinya saja tidak sampai menyentuh tangannya.
"Aku mau ambil mangga By, tapi dari tadi mereka berisik." keluh Ami menatap keempat asisten dirumah Mamanya itu.
Ami memang ingin mengambil mangga muda yang berada dibelakang, karena kebetulan pohon mangga itu sedang berbuah.
"Tapi Ay, kamu bisa minta tolong tidak perlu memanjat seperti itu." Kesal Nathan.
Apa Ami tidak sadar jika dirinya sedang mengandung bagaimana jika terjadi apa-apa pada kandungannya.
"Ada apa ini?" Tanya Indira yang baru saja sampai bersama suaminya.
"Itu Nyonya, Non Ayana." Ucap bik Nah sendu.
Indira dan Allan mendongak dimana dia melihat Ami yang duduk diatas pohon.
"Ya tuhan Ay..!" Pekik Indira dengan terkejut, wanita paruh baya itu sampai menutup mulutnya dengan mata membeliak lebar.
"Ay kamu turun apa aku yang naik..!!" Teriak Nathan yang sudah bersiap untuk naik.
"Tapi ambil mangga dulu By." Ami perlahan menginjakkan kakinya di dahang yang besar, dan tangannya berpegangan untuk siap berdiri.
"Ay, kamu jangan macam-macam." Teriak Nathan lagi yang sudah ketar-ketir.
"Ayana diam disitu aja nak, biar mang Diman ambilkan tangga." Teriak Indira yang juga ikut was-was.
"Mang cepat ambil tangga." Titah Allan pada mang Diman.
"B-baik pak."mang Diman segera berlari menuju gudang yang tidak jauh dari sana, untuk mengambil tangga.
"By, kamu tidak usah naik. Aku mau turun." Ucap Ami yang melihat suaminya perlahan naik.
__ADS_1
Nathan yang melihat istrinya sudah berdiri, dengan kedua kaki berpijak pada batang yang besar, dan kedua tangannya berpegangan di dahan.
"Tidak, kamu tunggu mang Diman." Ucap Nathan yang kembali turun.
Ami hanya mencebik, dan mengedikkan bahunya.
Buhg
bugh
bugh
"Auwss, Ay sakit..!!" Pekik Nathan yang kejatuhan mangga dari hasil Ami yang melempar sembarang, apalagi mangganya yang ini lebih besar dari yang membuat kepala Nathan terasa berdenyut sakit.
Indira membulatkan matanya, melihat Nathan yang kejatuhan Mangga. Sedangkan Allan hanya tertawa.
"Salah siapa disitu, minggir By..!!"
Bugh
Bugh
bugh
"Ini den." Mang Diman memeberikan tangga pada Nathan, dan menaruhnya di pas diposisi tubuh Ami berada.
"Sayang turun..!!" Nathan memegangi bagian bawah tangga, agar tidak goyang.
Ami menurut, gadis itupun turun dengan lincah.
Hap
Ami sampai di bawah dengan selamat.
"Apa kamu tidak memikirkan bayi yang kamu kandung..!!" Nathan langsung menyembur Ami dengan kata-kata yang sedikit membentak. "Kamu tidak memikirkan aku yang takut jika terjadi sesuatu dengan kamu dan bayi kita, apa kamu tidak bisa tidak ceroboh seperti yang sudah-sudah." Nathan semakin meninggikan suaranya, pria itu menatap tajam dengan urat leher yang menonjol.
Hening, tidak ada yang bersuara, Ami pun hanya bisa berdiri mematung terkejut mendengar semburan perkataan Nathan yang keras.
__ADS_1
Nathan memalingkan wajahnya sejenak, menarik napas kasar untuk mereda gejolak yang menggebu-gebu. "Setidaknya kamu memikirkan aku yang sangat menginginkan anak, dan jika butuh sesuatu bisa menyuruh siapapun dirumah ini, tidak perlu kamu memanjat pohon sendiri hanya untuk mengambil mangga, dan jangan gunakan alasan ngidam ibu hamil sebagai senjata untuk kamu melakaukan hal apapun." Nathan menatap Ami intens dengan tatapan yang sulit diartikan, Ami tidak kuasa menatap kedua mata Nathan, dia memilih menunduk.
Setelah meluapkan rasa kesal dan juga emisinya, Nathan pergi meninggalkannya Ami dan juga kedua orangtuanya, para asisten sudah bubar sejak mencium bau pertengkaran.
Indira menatap punggung Nathan yang menjauh masuk kedalam rumah. Allan mengode istrinya untuk menenangkan Ami.
"Sudah Nak, tidak perlu dipikirkan. Nathan hanya meluapkan kekhawatirannya pada kalian." Ucap Indira merangkul bahu Ami, yang di maksud kalian adalah Ami dan calon bayinya.
Ami hanya diam, gadis itu menyandarkan kepalanya dibahu sang Mama.
"Maafin Ay Mah." Ucapnya lirih.
Ami tidak berpikir panjang jika orang lain sangat mengkhawatirkannya dan yang Ami lakukan juga tidak akan membahayakan bayinya, dia tidak akan meluapkan jika ditubuhnya bersemayam Baih hati mereka.
"Jangan diulangi, kalian sudah pernah kehilangan dan Nathan pasti trauma akan hal seperti itu, dia takut dan tidak ingin kejadian itu terulang lagi." Ucap indira yang mencoba memberi pengertian, mingkin menurut Ami hal yang dia lakukan tadi biasa saja. Tapi tidak bagi orang yang melihatnya dan yang begitu khawatir padanya.
"Masuklah, nanti biar Mama buatkan rujak buah dan petis." Indira menangkup kedua sisi pipi Ami. "Minta maaf dan bujuk dia dengan rayuan, jika tidak bisa pakai jaring ikan kembali." Ucap indira membuat Ami, terseyum malu.
"Mama bisa aja."
Keduanya tertawa, Kerena mengingat pakaian keramat atau jaring ikan yang mereka maksud.
.
.
Kasih semangat author dong, LIKE..KOMEN kalian jangan pelit 🤣
Dukung author terus yaa, biar semangat bareng kalian terus 🥰
Kalau hadiah Author ngak minta, itu sih kerelaan kalian kasih author hadiah..😘😘😘😘😘😘
.
.
Rate nya Jangan lupa DIKENCENGIN Bestie..🥰🥰
__ADS_1