
"Lepas Mike..!!"
Livia menyentak tangan Mike yang menariknya kasar, hingga membuat pergelangan tangannya memerah dan sakit.
Mike membawa Livia sedikit menjauh dari Hawa yang duduk diwarung, dia tidak ingin Hawa mendengar pembicaraan mereka.
Mike menatap Livia tajam. "Apa kau ingin pamer." Ucap Mike menatap leher Livia yang terdapat bekas tanda kepemilikan.
Livia melirik Mike sinis. "Apa maksudmu?" tanya Livia.
"Cih, apa kau senang dengan tanda kepemilikan yang aku buat, hingga kau tidak malu untuk menampakkan nya." Geram Mike marah.
Marah kerena Livia berani menunjukannya didepan Hawa, bukan tanpa alasan Mike marah, karena tadi pagi Hawa memergokinya keluar dari kamar Livia.
Livia tidak menjawab, dan Mike kembali bicara. "Ingat, yang kau berikan padaku tidak akan merubah segalanya karena aku tidak akan memili wanita kotor sepertimu." Tegas Mike dengan penuh penekanan. "Dan jika kau hamil jangan pernah meminta pertanggung jawaban dariku, karena belum tentu anak itu adalah darah daging ku."
Setelah mengatakan kata-kata pedas, Mike meninggalkan lapangan Livia yang menunduk dengan cairan bening yang membasahi pipinya.
Livia memang bukan yang pertama bagi Mike, tapi semua itu karena kecelakaan, bukan seperti yang dituduhkan Mike, jika dirinya suka tidur dengan pria lain. Dan kejadian pelecehan itu sudah hampir satu tahun, dan Mike menggapnya sebagai wanita yang suka bermain.
"Loh, Kak Livia tidak diajak kemari kak?" Tanya Hawa yang melihat Livia pergi.
"Biarkan saja, katanya ada keperluan sendiri." Jawab Mike yang sudah duduk kembali disamping Hawa.
Hawa kembali menghabiskan bubur yang dia pesan, karena memang tinggal sedikit.
"Ahhh, kenapa rasanya begitu enak." Hawa mengusap bibirnya yang basah setelah minum.
__ADS_1
"Ck, bubur seperti itu, kau bilang enak." Mike masih saja menggerutu, karena Hawa memilih makan diwarung kecil itu.
"Emang enak." Jawab Hawa cuek.
Mike pun membayar bubur yang Hawa makan, dan segera pergi dari tempat itu untuk kembali ke vila.
"Kak, apa kak Livia sakit?" Tanya Hawa ketika keduanya berjalan menuju vila.
"Kenapa kau bertanya padaku, aku bukan dokternya." Jawab Mike ketus.
"Ck, aku hanya bertanya, karena aku melihat leher kak Livia_"
"Stop Lika, tidak usah membahas Livia. Aku tidak suka." Ucap Mike dengan suara tegas, membuat Hawa terdiam seketika.
.
.
Nathan melempar layar ponselnya diatas ranjang, pria itu memendam kemarahan.
"Bii, ada apa?" Ami yang melihat wajah kesal Nathan bingung.
Nathan kembali meraih ponselnya, dan menguhungi nomor seseorang.
"Bawa pulang segera putriku, sekarang juga..!!"
Tut..
__ADS_1
Mengusap wajahnya kasar, Nathan berubah panik.
"Natadecoco ada apa!!" Sentak Ami yang kesal, karena sejak tadi dirinya bertanya selalu diabaikan Nathan.
Nathan yang mendengar suara keras istirnya, baru tersadar. "Sayang maafkan aku." Ucap Nathan yang langsung memeluk Ami.
"Kau itu kenapa? marah-marah tidak jelas. Apa yang terjadi dengan Hawa." Ucap Ami dengan rasa penasaran sekaligus khawatir karena menyangkut putrinya.
"Tidak apa-apa, hanya saja calon menantu kita seorang baj*ingan." Geram Nathan menahan amarahnya.
"Maksudmu?" Tanya Ami yang tidak mengerti.
Nathan kembali memutar Vidio yang berdurasi cukup lama, dan video itu menjelaskan betapa baji*Ngan seorang Mike yang akan menjadi menantunya.
"Kan sudah aku bilang, kau saja yang tar sok tar sok." Kesal Ami.
Bukannya terkejut Ami malah mengomeli Nathan.
"Kenapa kamu seolah-olah meyalahkanku?" Ucap Nathan yang tidak terima.
"Ya memang salahku, yang tidak bertindak cepat. Dan sekarang ketahuan kan belangnya."
Nathan mengusap wajahnya kasar. "Kau tahu sendiri bagaimana Julio dan Vania, dan dengan bukti ini kita punya alasan untuk membatalkan pertunangan mereka."
.
.
__ADS_1
Aseeekkkm💃💃 Jangan lupa tinggalkan jejak, bila perlu kasih author SAJEN.🤣 KEMBANG DAN SEBAGAINYA ðŸ¤