
Suara burung berkicau dengan saling sahut-sahutan, matahari pagi nampak malu-malu menampakkan sinarnya. Cuaca yang sejuk menyapa umat manusia yang akan melakukan aktifitas menjelang pagi. Jam masih menunjukan pukul enam pagi, kedua pasangan suami-istri itu sedang melakukan rutinitas pagi setelah kandungan sang Istri masuk diusia dua puluh delapan minggu, lebih tepatnya tujuh bulan.
Kini Ami sudah pindah ke rumah Mama mertuanya, wanita hamil itu tidak diijinkan untuk tinggal di apartemen sendiri, meskipun ada pelayanan yang membersihkan apartemen setiap hari, baik Indira dan bunda Raya tidak mengijinkan putri dan menantunya itu tinggal di apartemen. Ami disuruh memilih untuk tinggal bersama Mama Indira atau bunda Raya? dan Ami memilih tinggal bersama Mama Indira, karena jika kekantor Nathan lebih dekat.
Dan sekarang kandungan Ami memasuki bulan kesembilan mendekati hpl akhir.
"By, aku mau sarapan bubur." Ucap Ami yang setiap pagi meminta sarapan bubur dipinggir jalan gang masuk perumahan elit yang mereka tempati.
Nathan mengandeng tangan Istrinya untuk mendekati gerobak penjual bubur itu.
"Eh, si Eneng. Mau sarapan?" Tanya penjual yang bernama mang Jajang itu.
"Iya mang, dua seperti biasa." Ucap Nathan yang menjawab lebih dulu.
"Siap, atuh den." Jawab mang Jajang dengan semangat.
"Dulu teh, Mama si Aden juga suka sarapan bubur di mari, dan pak bos." Ucap mang Jajang sambil menyiapkan pesanan yang lain, yang lebih dulu memesan.
"Oya, berarti mang Jajang udah lama dong jualan disini?" Tanya Ami yang baru tahu, karena sebelumnya mang Jajang memang tidak pernah cerita.
"Udah lah neng, mamang teh udah lama, dari si mama Aden masih hamil nih orangnya." Mang Jajang melirik Nathan dengan cingiran.
Ami terseyum, "Berati Hubby sudah makan bubur mang Jajang sejak masih dalam perut dong." Ucap Ami pada Nathan yang dari tadi hanya diam.
Bukanya apa-apa, sejak dua bulan yang lalu mereka sering makan bubur disini maka, orang yang sama pun selalu ada setiap pagi digerobak mang Jajang, dan mereka selalu mencuri pandang pada dirinya, membuat Nathan sedikit risih, tapi dia tahan demi sang Istri yang ingin makan bubur.
"Hm, Mama juga pernah bercerita, bukan aku saja, saat mengandung Aileen Mama juga masih sering makan bubur disini." Tutur Nathan membuat Ami mengaguk mengerti.
"Ini neng pesanannya, toping lengkap, dan satunya tanpa bawang goreng." Ucap mang Jajang yang menaruh dua mangkuk bubur yang didepan keduanya.
__ADS_1
"Terima kasih mang." Ucap Ami dengan senyum.
"Silahkan den." Nathan hanya terseyum, dan mengangguk.
Ami melahap bubur ayam yang didepanya lahap seperti biasanya, lain dengan Nathan yang risih karena banyak wanita yang menatapnya terus menerus.
"By, kenapa?" tanya Ami yang memperhatikan suaminya seperti tidak nyaman.
Nathan menatap wajah Ami sebentar. "Tidak apa-apa, makanlah." Ucapnya tersenyum tipis, dan melanjutkan makanya.
Ami memincingkan mata, tidak biasanya suaminya itu irit bicara padanya. Karena merasa penasaran, Ami menoleh dan menatap ke sekeliling dan ternyata tenda biru yang dia duduki hanya ada Nathan dan mang Jajang diantara ramainya pembeli, Nathan dan mang Jajang adalah pria sendiri.
Ami mengehela napas, pantas saja suaminya tidak nyaman lantaran para betina sedang memeperhatikan suami tampannya itu.
Menatap mereka kesal Ami mengerucutkan bibirnya.
"Ahhh, By." Tiba-tiba Ami mengaduh dan memegangi perutnya yang besar, Nathan yang terkejut langsung berdiri dan menghampiri sang Istri.
"Aduh By, sakit." Keluh Ami dengan wajah seperti menahan sakit.
Nathan panik, "Apa twins sudah ingin lahir." Ucap Nathan dengan khawatir, menurut dokter perkiraan masih dua Minggu lagi jadwal operasi yang sudah disepakati, dan kenapa tiba-tiba perut istrinya mendadak sakit.
"Elusin By." Ucap Ami pelan dengan arah mata menatap sinis beberapa wanita yang sejak tadi menatap suaminya mendamba.
"Em, sepertinya twins ingin dimanja By." Ucap Ami terseyum.
Nathan mendongak dan menatap wajah kesakitan istrinya berubah menjadi tersenyum.
"Kamu serius, tidak sakit lagi?" tanya Nathan untuk memastikan, Hanya dengan elusan tangannya sakit perut Ami menghilang.
__ADS_1
"Hm, maaf sudah membuatmu panik By."
Nathan mengehela napas lega, yang awalnya berjongkok kini pria itu sedikit membungkuk.
Cup
Nathan mengecup kening Ami dalam, "Syukurlah, twins tidak apa-apa, kalian buat papa panik." Ucap Nathan sambil mengelus perut buncit Ami yang besar.
Sebenarnya Nathan merasa kasihan dan tidak tega jika melihat Ami yang kekeh ingin berjalan-jalan pagi di komplek, perut Ami yang besar membuat Nathan terkadang merasa nyeri sendiri, apalagi melihat Ami berjalan seperti keberatan membawa perutnya.
Ami menunjukan seringai tipis dibibirnya, dia menunjukan siapa pria yang mereka kagumi yang jelas-jelas ada pawangnya seperti macan bunting.
"Yasudah ayo kita pulang, hari ini aku ada metting." Ucap Nathan yang membantu, Ami untuk berdiri.
Ami menurut, wanita itu senantiasa menggandeng lengan suaminya posesif, menunjukan kepemilikannya.
"By, apa mereka selalu menatapnya seperti itu setiap hari?" Tanya Ami yang sudah berjalan sedikit jauh.
Nathan memincingkan matanya, tidak mengerti apa yang Ami katakan.
Ami yang mengerti, menoleh kebelakang. "Itu para betina dari segala jenis." Ucap Ami ketus.
Nathan yang baru mengerti terseyum, jadi sejak tadi Ami hanya drama untuk menunjukkan siapa dirinya.
"Hm, setiap pagi, semenjak kita sering makan bersama." Jawab Nathan santai.
Ami semakin menekuk bibirnya dalam. "Cih, pantas saja kamu selalu nurut jika aku ingin makan bubur disana." Sinis Ami dengan wajah tak bersahabat.
Nathan hanya geleng kepala, bertanya sudah. dijawab tapi malah membuat wanita itu cemburu.
__ADS_1
"You are the only woman who has my heart and love." Ucap Nathan dengan merangkul bahu Ami.
Wanita itu langsung terseyum, mendengar ucapan manis suaminya.