My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Season 2~ Melamar untuk kedua kali


__ADS_3

Didepan Mario berdiri untuk berbagi pengalaman, menceritakan awal mula dirinya yang tertarik dengan bidang yang dia geluti sekarang, banyak dari mereka yang begitu takjub dengan apa yang Mario capai, diusia yang masih muda beliau sudah bisa memiliki nama dan mendirikan perusahaan sendiri, itupun tanpa campur tangan nama keluarga dibelakangnya. Dan mereka begitu mengagumi sosok Mario Maurer betapa beruntungnya wanita yang akan mendampingi atau menjadi istrinya nanti.


"Nah jika untuk itu kalian harus semangat belajar dan tuntutlah ilmu setinggi mungkin, tidak ada usaha yang menghianati hasil jika kita melakukanya dengan sungguh-sungguh, Percayalah semua butuh proses untuk mencapai kesuksesan."


Suara riuh tepuk tangan dan sorakan langsung menggema begitu saja, Mario tersenyum menyambut antusias para murid.


Ditengah-tengah para murid ada seorang gadis yang begitu terpana mendengar apa saja yang Mario katakan. Jadi pria yang mendekatinya itu adalah pria sukses dengan kegigihannya sendiri. Ohh betapa terharunya Hawa mendengar perjalanan karir Mario yang menurutnya sangat keren.


Jika dipikir-pikir, keluarga Mario terbilang kaya dan terpandang, tapi pria itu memilih berdiri di atas kakinya sendiri tanpa embel-embel nama keluarganya.


"Eh, kok Maurer, bukanya kak Mike nama belakanganya Bord." Gumam Hawa yang menyadari sesuatu.


Hawa kembali menatap kearah depan dimana disana seorang siswa sedang memberikan sesuatu pada Mario, dan Hawa yang melihatnya menjadi kesal. Bagaimana tidak kesal jika siswi itu marayu Mario dan pria itu menggapai dengan senyum yang menurut Hawa terlalu berlebihan.


"Cih, sama saja. Buaya." Dengus Hawa kesal.


"Siapa yang buaya?" Tanya Sasa yang mendengar ucapan Hawa.


"Buaya kaki dua." Ketus Hawa yang menatap tajam Mario dari jarak yang cukup jauh.


"Kak, apakah kak Mario sudah punya kekasih?" Tanya seorang siswi yang tiba-tiba mengakat tangannya.


Huuuuu


Tentu saja pertanyaan siswi itu mengundang riuh sorakan para murid yang lain, tapi mereka juga menjadi penasaran apakah pria tampan dan mapan didepan sana sudah memiliki kekasih. Jika sudah betapa beruntungnya yang menjadi wanita itu.


Mario menunduk dan tersenyum, dirinya menatap semua murid yang sedang menunggunya antusias, menunggu jawaban darinya.


"Duh, kok saya jadi grogi ya, kira-kira saya harus jawab apa." Ucapan Mario sontak kembali membuat gaduh seisi aula disana.


Lagi-lagi Hawa mendengus kesal mendengar ucapan Mario yang seperti mencari perhatian atau tebar pesona, Hawa menjadi emosi sendiri.


"Aduh Om hot-hot pop kenapa bikin klepek-klepek sih senyumnya." Ucap Sasa dengan ekpresi yang begitu gemas.


Hawa melirik Sasa sinis, "Permen kali hot-hot pop." Kesal Hawa dengan wajah masam.


"Sebenarnya saya punya kekasih." Jeda Mario karena kembali mendapat sorakan, kali sorakan patah hati berjamaah.


Huuuu


"Poltek hati adek bang,"

__ADS_1


"Belum tumbuh rasa cinta udah ditunas duluan."


"Yah,, udah punya pawang."


Mario tersenyum dan geleng kepala, mendengar beberapa murid yang mengeluh.


Tatapannya lurus kedepan, dimana seorang gadis yang tadinya menatapnya kini membuang muka setelah tatapan mereka bertemu. Mario tersenyum dalam hati, sepertinya gadisnya merajuk.


"Jika kekasih saya berada ditengah-tengah kalian, apa kalian percaya." Ucapan Mario sontak mengundang kasak kusuk kembali, dan mereka saling tatap mencari kira-kira siapa gadis itu.


Hawa yang mendengar masih duduk dengan santai, tidak mungkin juga Mario mengatakan siapa gadis yang sedang dekat dengan-nya, meskipun dalam hati Hawa berharap jika Mario tidak mengatakannya, Hawa engga menjadi selebriti sekolah hanya karena dekat dengan Mario.


Mario yang melihat Hawa hanya menunduk fokus pada ponselnya, membuatnya tersenyum dalam hati, ingin rasanya Mario mendekati gadisnya dan mencubit hidung kecilnya itu.


"Siapa kak?" Tanya siswi yang tadi memberikan sesuatu hadiah untuk Mario. Siswi itu menjadi sangat penasaran.


Mario mengalihkan tatapannya pada siswi itu.


"Nanti kalian juga tahu, karena secepatnya saya akan membawanya untuk dikenalkan ke publik." Ucapan Mario lagi-lagi membuat semua siswi kecewa, dan rasa penasaran yang luar biasa.


Hawa bernapas lega bisa keluar dari aula yang menurutnya sudah membuat moodnya buruk. Buruk karena banyak siswi yang centil dan mencari perhatian pada Mario.


"Hawa." Hawa yang baru saja keluar dari toilet menoleh kebelakang saat ada yang memanggilnya.


"Dipanggil pak kepsek, keruangannya." Ucap siswi itu dan berlalu pergi.


"Eh, kok kepsek. Ada apa ya." Hawa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Apa papanya belum membayar sekolahnya? itu tidak mungkin, karena papanya kepala yayasan disini.


"Jangan-jangan kak Adam bikin ulah lagi." Gumamnya sambil berlari kecil agar cepat sampai diruang kepsek.


Tok...tok..


Sampainya didepan pintu kepsek, Hawa mengutuk pintu dan terdengar suara dari dalam yang menyuruhnya untuk masuk.


"Bapak memanggil saya?" Tanya Hawa yang melihat kepala sekolah duduk di kursinya.


"Ya, karena seseorang ingin bertemu dengan mu Hawa." Ucap kepala sekolah yang langsung berdiri.


"Tunggu saja sebentar, bapak masih ada urusan." Ucap kepala sekolah tersenyum dan sambil berlalu.


Hawa bingung, siapa yang ingin bertemu dengannya.

__ADS_1


Tak lama pintu kembali terbuka, Hawa yang sedang duduk menoleh kebelakang, dan melihat Mario yang menutup pintu lalu menguncinya.


"Om." Sontak Hawa langsung berdiri, dengan memasang wajah cemberut.


"Hey, kenapa wajah kamu jelek begitu." Ucap Mario sambil meletakkan sesuatu diatas meja.


Hawa semakin menekuk wajahnya, mendengar ucapan Mario.


Mario yang melihatnya gemas sendiri. "Kenapa? apa ada yang bikin kesal kamu." Mario duduk disamping Hawa, yang sudah kembali duduk.


Gadis itu menyandarkan tubuhnya di sofa dengan kedua tangan menyilang didada.


Melihat wajah masam Hawa membuat Mario gemas sendiri, semakin lucu dan imut.


Cup


"Om..!!" pekik Hawa yang mendapat ciuman tiba-tiba.


"Mau aku cium lagi?" Tanya Mario tanpa rasa bersalah.


Hawa langsung melotot tajam, "Nyebelin." Kedua tangannya memukul dada Mario membabi buta, bukanya sakit Mario malah tertawa.


"Sudahlah, sifatmu itu mencerminkan jika kamu cemburu, dan aku menyukainya." Ucap Mario percaya diri.


"Ish, narsis, aku nggak cemburu. Om nyebelin... nyebelin... nyebelin.. pokoknya." Kesal Hawa.


Mario langsung menarik kedua tangan Hawa, membuat tubuh Hawa langsung masuk kedalam pelukannya.


Hawa langsung diam, kepalanya Ia sandarkan didada bidang Mario, mendengarkan irama detak jantung Mario yang begitu merdu.


"Hawa." Panggil Mario setelah keduanya cukup lama diam.


"Hem." Hawa hanya berdehem, dirinya begitu merasa nyaman berada dipelukan Mario, terasa hangat.


Tangan Mario mengelus rambut Hawa lembu. Dirinya merasa begitu bahagia, karena Hawa Mario seperti memiliki tujuan hidup, karena Hawa Mario bisa bertahan untuk terus berjuang demi masa depannya. Meskipun terlahir dari keluarga kaya tapi Mario memilih berdiri dengan kakinya sendiri karena baginya tidak mudah untuk mendapatkan putri keluarga Adhitama. Harta banyak saja tidak cukup, apalagi kekayaan dari orangtuanya, pasti Nathan Adhitama tidak akan mudah menerimanya.


Semua ini dia lakukan untuk gadis kecilnya yang sudah mencuri hatinya sejak dini, dan sebentar lagi dirinya akan menuai hasil yang dia bangun dari nol, mendapatkan Hawa dengan penuh perjuangan, terutama restu dari Nathan Adhitama.


"Hawa, maukah kau menikah denganku."


.

__ADS_1


.


SAJEN kembang kopi boleh merapat 🤣🤣🤣


__ADS_2