My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Gado-gado dan rasa malu


__ADS_3

"By, aku mau itu." Ami menujuk makanan yang tersedia di acara pesta.


Keduanya sedang menghadiri acara pernikahan anak dari rekan bisnis Nathan disebuah hotel berbintang.


Nathan menunjuk stand makanan yang Istrinya tunjuk. "Gado-gado?" Tanya Nathan menatap kembali wajah Ami, untuk memastikan.


"Hu'um sepertinya enak, dan Baby masih ingin makan." Ucapnya pelan dengan senyum manis.


Ami tahu jika suaminya merasa tidak enak dan malu, karena sejak tadi Nathan sudah bolak-balik mengambilkan dirinya makanan, hingga menjadi pusat perhatian beberapa orang yang mengamati mereka.


"Apa perutmu masih muat, maksudnya apa mereka benar-benar masih ingin makan." Tanya Nathan lagi dengan wajah setengah tak percaya.


Ami menunduk sebentar dan menatap suaminya. "Maaf, kami merepotkanmu dan membuatmu malu." Ucapnya dengan wajah sendu.


Nathan yang melihat wajah sendu Istrinya semakin tidak tega, tapi rasa malunya juga lebih besar.


Nathan berusaha tersenyum, "Tidak apa demi kalian, papa akan menuruti permintaan kalian semua." Nathan mengelus perut Istrinya yang buncit, perut Ami lebih besar daripada kehamilan normal, karena sedang mengandung baby kembar.


Dengan menebalkan wajah dan rasa malu Nathan beranjak dari duduknya untuk mengbilkan makanan yang diminta sang istri. Padahal sejak tadi Nathan sudah berusaha untuk tetap tenang disaat lambe julid mulai beraksi.


Meksipun pesta dikalangan orang kaya, tapi bagi yang punya mata dan mulut julid, sama halnya dengan acara pesta orang dikampung.


Dari jarak yang lumayan jauh, tuan rumah juga memperhatikan kedua pasangan itu hingga, mereka berniat untuk menghampiri wanita cantik yang duduk dengan perut buncit itu.

__ADS_1


"Selamat malam nyonya Nathan." Sapa tuan rumah dengan ramah.


Ami terseyum, dan berdiri untuk menyabut uluran tangan wanita yang cantik dengan balutan make up.


"Malam nyonya, tuan." Ami terseyum kikuk, dia berpikir jika kedua suami istri itu sedang memata-matainya.


"Loh pak Dody anda disini." Nathan yang baru saja tiba dengan membawa piring berisi makanan yang Istrinya minta sedikit tak percaya, jika mereka mendatangi istrinya, apalagi Nathan melirik piring bekas makanan Ami masih berada di atas meja.


"Ya, saya perhatikan anda sejak tadi bolak-balik berdiri, maka dari itu saya bawa pelayan untuk mengambilkan makanan yang Istri anda inginkan." Ucap pak Dody mengutarakan maksudnya mendatangi Ami.


Ami yang mendengar membulatkan matanya, dia pikir mereka akan mengatainya rakus atau gentong berjalan, tapi ternyata lain dari yang Ami pikirkan.


Nathan terseyum tidak enak. "Maaf pak, kalau kami membuat anda kurang nyaman." Jawab Nathan yang sadar dengan ngidam Istrinya dan porsi makan Ami yang banyak.


.


.


.


Setelah sempat membuat Nathan malu dipesta, meskipun pada akhirnya mereka malah mendapat penghormatan dari pemilik pesta, kini wanita hamil itu sudah terlelap dikursi mobil sejak sepuluh menit mobil yang dikendarai Nathan berjalan. Ami yang kekenyangan sampai tertidur di dalam mobil.


"Kalian semangat papa, jadi jangan buat mama kalian kesusahan." Nathan terseyum, dengan mengelus perut sang Istri. Dirinya juga terkadang merasa kesal dan frustasi ketika Ami yang terkadang masih meminta hal yang aneh, tapi mengingat yang membuat Istrinya aneh adalah anak-anaknya membuat Nathan sadar jika semua juga karena ulahnya, jika tidak tergoda dengan kenikmatan surgawi wanita, mungkin saja Nathan tidak akan ketagihan dan kecanduan sampai menghasilkan cetakan kembar, dan sekarang Nathan menyadari jika Ami seperti ini, karena hasil bercocok tanam setiap saat.

__ADS_1


Sampainya di apartemen Nathan mengendong Ami yang masih terlelap, pria itu dengan pelan merebahkan Ami di atas ranjang.


Nathan mengehela napas, berat badan Ami memang bertambah, selain itu Ami juga banyak makan membuatnya semakin smlehoi.


Nathan berjalan kearah lemari untuk mengambil pakaian ganti yang nyaman untuk Ami tidur.


"Ck, jangan bilang otak sesat gue bereaksi." Gumamnya saat menggantikan pakaian Ami, Nathan bukan hanya sekali mengantikan pakaian Ami ketika sudah tidur, tapi karena Imin pria itu lemah terhadap tubuh smlehoi sang Istri, membuat otak sesat Nathan tergoda.


Ami yang terlelap tidak tahu apa yang dilakukan suaminya, sedangkan Nathan sudah susah payah menelan salivanya saat melihat dada mulus Ami terpampang jelas, meskipun dua kelembutannya masih tertutup rapat.


"Godaan banget sih, punya bini modelan gini."


Karena Ami tidak suka saat tidur memakai b*r*a, Nathan berusaha menguatkan Iminnya yang cetek agar tidak memangsa daging menggiurkan didepan wajahnya.


"Engh.."


Tanpa diduga ami malah memeluk tangan Nathan didadanya, membuat Nathan semakin frustrasi.


"Yasalam, Ay. Ini tangan nanti bisa khilaf." Ucap Nathan yang sudah merasakan hawa panas dibagian tangannya, dan singkong premium yang tidak punya etika ikut terangsang akibat otak sesatnya mulai bekerja.


"Maaf Ay, kau tidak bisa mendiamkan pemandangan indah yang enak dinikmati.


Perlahan tangannya meremas kedua kelembutan Ami yang semakin bulat dan besar, pelan dan lembut, tapi lama-lama begitu menuntut ketika mendengar leguhan indah dari bibir Ami yang manis.

__ADS_1


"Ssshh, ahhh.."


__ADS_2