
Sore hari setelah pergulatan panas mereka di atas ranjang, Nathan praktis tidak menyentuh pekerjaan dan hanya mengikuti kemana pun Istrinya pergi. Walaupun hanya ke kamar mandi Nathan tidak mau menjauh dan membuat Ami kesal bukan main.
Mana bisa orang mau buang hajat ditungguin didepan mata, karena kesal Ami mengancam suaminya.
"Kalau Hubby ngintilin aku terus, jangan harap malam ini ada jatah haha hihi."
Brak
Ami langsung menutup pintu kamar mandi dengan kencang, membuat Nathan langsung diam didepan pintu yang tertutup rapat.
"Demi bolak-balik di atas ranjang." Gumam Nathan yang masih setia didepan pintu kamar mandi untuk menunggu Istrinya.
Sepuluh menit, dua puluh menit, Nathan sudah mondar mandir gelisah, karena sang istri belum juga keluar.
"Sayang.. kenapa lama sekali."
Tok..tok..tok..
Nathan terus mengetuk pintu kamar mandi dengan kesal.
"Apaan sih by," Ami menekuk wajahnya kesal melihat suaminya yang super menjengkelkan hari ini.
"Kamu lama." Nathan langsung menarik Ami untuk duduk di atas ranjang.
"Kamu aneh by." Ami menelisik wajah suaminya. "Apa kita pulang saja ke Jakarta, aku takut_"
__ADS_1
"Memangnya aku kenapa?"Nathan melihat dirinya sendiri.
"Aku takut kalau kamu di tempelin jin penunggu_"
"Huss kamu bicara apa." Nathan menutup mulut Istrinya. "Tidak ada hal seperti itu, aku hanya ingin selalu dekat sama kamu." Kesalnya yang langsung memeluk Ami yang duduk didepannya.
"Justru kerena kamu seperti ini, membuatku takut." Ami sedikit mendorong tubuh suaminya.
"Ck, kamu tidak mau aku peluk." Ucap Nathan dengan wajah masam.
Ami yang melihat perubahan di wajah suaminya semakin bingung.
"Apa dia benar-benar suamiku." Batinya berbicara.
.
.
"Hm, katanya dia hanya mengalami cidera dikaki saja saat melakukan peraga busana." jawab Allan yang duduk di kursi kerjanya.
Allan baru saja mendapat kabar dari putrinya yang sedang berada di Paris, jika Aileen mengalami cidera kecil saat peraga busana. Dan beruntung hanya cidera kecil jadi tidak terlalu parah.
"Anak itu sudah memiliki umur yang matang, tapi belum juga mau menikah." Keluh Indira yang duduk disofa kecil hanya cukup untuk dua orang saja.
"Dia masih ingin bebas sayang, jaka waktunya pasti Aileen akan menikah." Allan mendekati sang Istri dan duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Tapi kapan bang, kedua anak kita selalu sibuk dengan karirnya, beruntung Al sudah menikah." Indira menyandarkan kepalanya di dada suaminya, kedua tangannya melingkar di perut Allan.
"Ya, dan ternayata aku sudah setua ini." Allan terkekeh.
Dirinya yang sudah kepala enam, merasa hidupnya sudah tak lama lagi, Allan begitu mencintai keluarganya terutama sang Istri yang setia menemaninya.
"Hm, dan mungkin kita akan mendapatkan cucu." Indira tersenyum, mengecup kecil rahang Allan.
"Kamu membuatnya bangun sayang." Allan menatap kebawah, dan Indira mengikutinya.
"Em, kata reader dia terong premium yang membuatku mabuk." Indira cekikikan.
Pletak.
"Auwss..sakit bang." Indira menekuk wajahnya, karena keningnya terasa sakit mendapat jitakan dari suaminya.
"Kamu selalu mabuk jika sudah merasakannya." Allan terseyum meneyringai. "Dan sepetinya sekarang dia menginginkan ini." Tangan Allan menyentuh bagian bawah milik Indira, membuat Indira mendelik.
"Bang, jangan mulai." Peringatnya hanya alasan.
"Ck, sok jual mahal."
Emph
Allan langsung menyerang bibir ranum istrinya yang sampai sekarang membuatnya candu, meskipun usianya yang sudah tidak muda lagi, Allan selalu hidup sehat hingga sampai usianya yang sudah kepala enam, tumbuhnya masih terlihat bugar.
__ADS_1
"Bang.. Ahh"