My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Mendebarkan


__ADS_3

Pesawat yang mereka tumpangi sampai di bandara internasional Soekarno Hatta. Nathan sudah ditunggu oleh aisistenya yaitu Ando dipintu keluar.


Sepanjang perjalanan Ami tetap saja terlelap, dan itu semakin membuat dugaan Nathan semakin kuat.


Kali ini dirinya tidak akan kecolongan lagi, Nathan ingin membawa Ami kedoter untuk periksa.


"Ndo kita kerumah sakit." Ucap Nathan yang sudah duduk di kursi penumpang, Ami yang masih belum sepenuhnya sadar, karena dari dalam Nathan yang menggendong Ami, kata Ami tubuhnya terasa lemas.


"Siapa yang sakit?" Tanya Ando dengan bingung ketika mendengar perintah Nathan.


"Tidak ada, dan jangan banyak tanya." Ucap Nathan dengan kesal.


Ando hanya mencebik, tapi juga melakukan mobilnya menuju rumah sakit yang Nathan minta.


"Pulang BulMad malah tambah galak." Gumam Ando yang tidak didengar oleh Nathan.


Ando pun memikirkan sesuatu yang mungkin saja terjadi di antara keduanya saat bulan madu, contohnya Ami yang sedang palang merah Indonesia dan tentu saja tidak bisa mengadon membuat Nathan kesal.


Memikirkan itu membuat Ando tertawa sendiri.


"Kau menertawaiku." Protes Nathan yang mendengar Ando tertawa.


Ando menggeleng. "Memangnya lu badut gue ketawain." Jawab Ando yang masih menahan tawa.


Nathan menatap tajam Ando dari kursi belakang, sedangkan Ando hanya cuek dengan wajah tengilnya.


"Sayang bangun." Nathan mengusap wajah Ami, dan menciumi kecil wajah dan bibir Ami lembut.


Ando yang melihat aksi Nathan dari kaca spion membuatnya melotot, Nathan sengaja membalasnya. Dengan kesal Ando keluar dari dalam mobil.


"Nathan sialan..! tidak tahu apa kalau gue jomblo." Gerutunya dengan bibir bersungut-sungut kesal.


Engh


Ami mengerjapkan matanya. "Sudah sampai?" Tanyanya yang mulai membuka matanya lebar.


Nathan terseyum, dan mengusap pipinya lembut. "Kita kerumah sakit sebatar,"

__ADS_1


Ami mengerutkan keningnya. "Siapa yang sakit? Hubby sakit?" Tanya Ami yang tanganya langsung menyentuh kening Nathan. "Tidak panas, masih normal." Gumamnya menatap Nathan.


Nathan malah tergelak. "Aku baik-baik saja sayang, hanya saja_" Kedua mata Nathan menatap lekat wajah Ami, dan tatapannya turun kebawah. "Disini mungkin sudah ada Nathan junior." Ucapnya sambil mengelus perut rata Ami.


Ami tidak menjawab melainkan mencerna ucapan Nathan barusan, dan pertanyaan Nathan waktu di pesawat membuat Ami kembali berfikir.


"Ayo." Nathan pun mengajak Ami untuk keluar dari mobil, mereka keluar dengan wajah yang berekspresi beda, jika Nathan full senyum maka Ami masih tengah memikirkan apa mungkin dirinya hamil, mengingat itu entah mengapa hatinya menghangat. Dia juga menunggu kabar bahagia itu datang.


Ando melengos, melihat Nathan yang tersenyum menatapnya. Dia masih kesal.


"Dasar Coconut jelek." Kesal Ando yang melihat Nathan seperti mengejeknya.


Nathan mengajak Ami menemui dokter spesialis Obgyn, dokter wanita yang Nathan minta, ingatkan Nathan jika dia tidak akan membiarkan laki-laki mendekat pada istrinya. Nathan lebih posesif dari pada Allanaro dulu.


Apalagi Istrinya yang masih belia, membuat Nathan merasa harus selalu menjaga pola makan agar tumbuhnya tetap bugar dan kekar, sungguh menjadi Nathan yang memiliki istri cantik dan masih muda butuh perjuangan untuk mempertahankan kualitas tumbuhnya seperti tenaga mungkin. 😂


"Kenapa? kamu sudah ngantuk lagi?" Tanya Nathan yang berada di kursi tunggu, duduk bersebelahan dengan Ami, beruntung tidak terlalu ramai karena waktu menunjukan pukul empat sore, dan hanya ada tiga orang yang menunggu giliran termasuk dirinya.


"Tidak, hanya saja." Ami mengusap perutnya dan tersenyum menatap Nathan. "Apa mungkin dia sudah hadir." Ucapnya dengan penuh harap.


Nathan ikut menyentuh tangan Ami yang berada diatas perutnya. "Semoga saja, tapi menurutku Nathan junior sudah hadir, karena kamu sejak beberapa hari suka tidur tidak lelah." Ucapan Nathan seketika membuat Ami tertawa.


"Jangan tertawa, pasti kamu sendang mengingat malam menyebalkan itu." Kesal Nathan dengan cemberut.


Ami malah semakin tertawa keras, hingga tanganya sampai menutup mulutnya untuk mereda.


"Maaf By, sungguh kejadian itu sangat lucu." Ami masih dengan sisa tertawanya.


Nathan semakin cemberut dengan wajah masam, seumur menikah baru saat itu dirinya bermain dengan lawan yang tertidur.


Mereka saling berbincang dan mengobrol tidak terasa sampai giliran nama Ami dipanggil.


"Nyonya Ayana..!"


"Iya sus."


Nathan berdiri dan menggandeng tangan istrinya lembut, untuk masuk keruangan dokter yang bernama Rahma.

__ADS_1


"Selamat sore tuan dan nyonya." Ucap ramah dokter Rahma, dokter yang masih cantik diusianya yang sudah kepala empat.


"Sore Dok." Nathan dan Ami duduk di kursi depan dokter Rahma.


Nathan yang bicara lebih dulu, menceritakan keanehan yang di alami sang Istri yang sepertinya gejala ibu hamil, Nathan sangat antusias hingga membuat Ami duduk diam tanpa harus bicara menjelaskan. Karena suaminya sudah bicara dengan detail.


"Baiklah kita coba dulu pakai alat testpack, mendengar cerita tuan saya jadi ikut bersemangat untuk melihat hasilnya." Dokter itu tersenyum. Dia menyukai pria yang sangat antusias menyambut kehadiran buah hati, karena itu berarti mereka sudah siap untuk mendapatkan titipan anugrah yang Tuhan berikan.


"Nyonya, silahkan pakai ini untuk menampung air kencing anda." Suster memberikan wadah kecil untuk Ami pakai, dan sebuah testpack.


Ami terseyum dan mengaguk, dia masuk ke bilik toilet didalam ruangan itu.


Nathan menunggu dengan harap-harap cemas, pria itu sampai tidak sabar hingga membuat duduknya tidak tenang.


Dokter Rahma dan suster saling lirik, merasa lucu pria tampan dan semaco Nathan dengan wajah cemas akibat menunggu hasil testpack yang istrinya lakukan.


Tak lama Ami keluar dengan wajah bingung melihat Nathan yang langsung berdiri menghampirinya.


"Bagaimana sayang?" Tanya Nathan dengan tidak sabaran.


Ami menggeleng, tapi Nathan sudah mencerna arti dari gelengan kepala Ami.


Wajah Nathan seketika berubah kecewa, namun bibirnya masih bisa menampilkan senyum. "Tidak apa-apa mungkin belum saatnya_"


"Alat testpacknya jatuh ke dalam closed By." Lirih Ami dengan wajah malu.


Sedangkan Nathan menelan ludahnya kasar. "Terus."


"Aku belum sempat cek." Lirih Ami lagi, membuat Nathan mengusap wajahnya kasar.


"Sus, berikan alat testpack yang baru." Ucap Nathan cepat, dirinya merasa bodoh dengan mengartikan gelengan kepala Istrinya tadi.


"Ini tuan." Suster itu memberikan yang baru.


"Ingat sayang jangan sampai masuk lagi." pesan Nathan membuat Ami mendelik, karena ucapan Nathan yang cukup didengar oleh dokter.


Dokter Rahma hanya geleng kepala merasa kali pasiennya sungguh unik.

__ADS_1


Sedangkan Ami didalam toilet hanya diam dengan tatapan mata pada benda pipih kecil itu yang perlahan memperlihatkan garis merah satu.


Ami menghela napas cukup dalam, bibirnya tersenyum dengan hati yang tidak bisa di gambarkan.


__ADS_2