My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
SEASON 2~ Terima lamaranku


__ADS_3

Mario keluar dari gedung Adhitama dengan wajah datar, pria itu tidak menoleh kanan dan kiri meskipun banyak orang yang sedang menatapnya.


Wajah Mario begitu asing di perusahaan Adhitama, sehingga membuat karyawan terutama wanita menatap Mario dengan banyak bisik-bisik.


"Kamu Dimana Awa? sudah pulang sekolah?" Tanya Mario lewat sambungan telepon.


"Em, Awa baru sampai rumah Om, ada apa?" Jawab suara lembut dari seberang telepon.


"Apa Mike yang menjemputmu?" Tanya Mario lagi sudah seperti seorang ayah yang mengintrogasi anaknya. Tapi kini Mario berlagak seperti seorang kekasih yang mengkhawatirkan Hawa.


"Ya, kak Mike yang jemput Hawa."


Mario menghela napas, merasakan hatinya yang sedikit sakit merasa tidak terima. Tapi mau bagaimana lagi sekarang Hawa masih menjadi tunangan Mario.


"Baiklah, tunggu aku di rumah."


Tut..


Mario memutus sambungan teleponnya pada Hawa secara sepihak.


"Mike tidak aku ijinkan kau menyentuh milikku." Ucap Mario dengan raut wajah marah.


Bagaimana tidak marah jika Mario mendengar percakapan Mike dengan Hawa, saat Mike ingin mengajak Hawa berlibur weekend ini.


Bagaimana Mario bisa tahu?


Mudah bagi seorang Mario mendapatkan informasi, Mario adalah pemilik perusahaan yang bekerja di bidang telekomunikasi dan bidang IT. Jadi tidak sulit bagi Mario Maurer untuk mengintai belahan jiwanya.


Mario menjalankan mobilnya menuju rumah besar Adhitama. Pria itu tidak takut menunjukkan dirinya didepan kedua orang tua Hawa. Justru yang Mario ingin seperti ini.


Mike bisa saja melakukan banyak hal untuk mendapatkan Hawa, Mario tahu perkelahian dirinya dan Mike malam itu, memancing Mike untuk membalasnya.

__ADS_1


Setalah hampir tiga puluh menit berkendara, mobil Mario sampai didepan rumah besar milik keluarga Adhitama.


"Maaf tuan Anda ingin bertemu siapa?" Tanya satpam penjaga pos depan, pintu gerbang.


"Saya_"


"Pak Totok dia teman Awa." Hawa berlari kecil menuju pintu gerbang.


Gadis itu baru saja keluar dan melihat bagian depan mobil Mario dan satpam rumahnya sedang mengobrol.


"Non." Pak Totok menunduk sedikit.


"Dia teman Awa, lain kali biarkan dia masuk." Ucap Hawa yang langsung diangguki oleh satpam.


Bukan tanpa alasan Hawa menyuruh satpam itu memperbolehkan Mario masuk.


Karena pada dasarnya Mario adalah anak dari keluarga Julio otomatis kerabat dari tunanganya itu.


"Kenapa kamu bilang seperti itu pada satpam tadi." Tanya Mario saat Hawa sudah duduk didalam mobilnya.


Hawa masih sibuk memakai sealbead miliknya.


"Om kenapa ini susah." Keluh Hawa yang belum bisa menarik sealbead milikinya.


Mario menghela napas. "Pelan-pelan agar tidak nyangkut." Mario mencondongkan tubuhnya didepan Hawa.


Hawa berhenti bernapas sejenak, bibirnya mengatup rapat dengan kepala yang tidak bergerak sama sekali.


Posisi Mario begitu dekat dengan wajah Hawa bahkan sangat dekat hingga jika Hawa bergerak sedikit saja hidungnya akan menyentuh pipi Mario.


Mario yang menyadari Hawa hanya diam pun menoleh dan_

__ADS_1


Deg..Deg...Deg..


Jantung keduanya begitu berdetak cepat, Mario menatap wajah Hawa yang juga menatapnya. Tatapan Mario turun kebawah melihat bibir pink alami milik Hawa.


Mario menelan ludah kasar, tenggorokannya terasa kering melihat bibir ranum Hawa yang begitu segar


"Emph.." Hawa membulatkan kedua matanya, saat merasakan bibir tebal dan hangat Mario menyentuh bibirnya untuk kedua kali.


Mario memejamkan mata, merasakan bibir lembut dan kenyal Hawa sampai kerelung hatinya, seketika rasa hangat menjalar disetiap aliran darahnya.


"Engh.." Hawa yang masih mematung perlahan menggerakkan bibirnya yang kaku, karena Hawa memang belum pernah merasakan ciuman, dan ini adalah ciuman pertamanya dan kedua dengan orang yang sama.


Mario tersenyum dalam hati, ketika bibir gadisnya mulai bergerak membalas sapuan lidah dan bibir lembutnya, meskipun masih kaku, tapi Mario bahagia karena Hawa tidak menolaknya.


"Pemula yang bagus." Ucap Mario dengan senyum tampanya.


Hawa menuduk malu, wajahnya merona dengan napas yang masih tersengal. Ciuman yang Hawa rasakan barusan berbeda dengan waktu itu, kini Hawa merasakan lidah dan bibir Mario menari-nari dipermukaan bibirnya, lain saat itu Mario hanya menempelkan saja.


Mario teekekeh, wajah Hawa yang merona semakin membuatnya tidak sabar untuk memiliki gadisnya.


"Hawa.."


"Ya.." Hawa menatap Om ganteng dari samping, tapi sayangnya memang ganteng.


"Terima lamaran ku."


.


.


Oh nooo... No no no no???

__ADS_1


__ADS_2