
Pesta dikediaman Julio terlihat sederhana, sengaja mereka tidak mengundang banyak orang karena permintaan Mike. Pria itu masih dalam masa menata hati untuk menerima takdirnya sekarang. Takdir kehidupan yang sudah membuatnya berjalan sampai sekarang ini.
Mike yang sedang berdiri dengan segelas minuman ditanganya tampak menatap lurus kedepan, dimana seorang gadis sedang tersenyum manis kepada seseorang.
Tangannya menggoyangkan gelas ditangannya yang berisikan anggur merah. Menyesapnya pelan hingga terasa sampai di tenggorokannya.
Melihat Hawa yang tersenyum bahagia membuat hatinya merasa nyeri, kenapa Hawa bisa terlihat bahagia seperti itu bersama Mario, sedangkan bersamanya dulu gadis itu tidak pernah tersenyum sebahagia itu.
Sebuah tangan menyentuh lengannya membuatnya menoleh, Livia terseyum padanya. Mike menatap lekat wanita yang sudah menjadi istrinya ini, sebenarnya Livia juga wanita yang cantik dan baik, hanya saja Mike memang belum merasakan adanya perasaan lebih kepada teman wanitanya sejak sekolah dulu. Tapi sekarang takdir yang membuat mereka menjadi dekat dan memiliki sebuah ikatan yang tidak main-main.
"Ada apa?" tanya Mike.
"Mama menyuruh kita kesana." Livia menujuk dengan dagunya kearah kedua orang tua Mike sendang berbincang dengan kedua orang tua Hawa.
"Hm." Mike mengikuti apa yang orang tuanya katakan.
Pria itu mencoba bangkit dari rasa penyesalan dan mencoba untuk memulai dengan kehidupan yang baru, apalagi sekarang dirinya sudah memiliki tanggung jawab terhadap istri dan juga calon anaknya, dirinya akan berusaha merubah hidupnya lebih baik lagi.
"Mah, Pah." Mike memanggil kedua orang tuanya yang sedang membelakanginya dan asik berbincang.
Vania dan Julio menoleh. "Sini nak." Vania menarik Livia untuk mendekat. "Kenalkan ini Om Nathan dan Tante Ayana, mereka kedua orang tua Malika." Ucap Vania pada Livia.
"Selamat nak, semoga kalian selalu bahagia." Ucap Ayana yang tersenyum dan memberi selamat untuk Livia.
"Terima kasih Tante." Livia membalas senyum.
"Kamu tahu kan Livia, mereka itu memiliki perusahaan terbesar di negara ini. Selain itu mereka juga memiliki anak-anak yang tampan dan cantik, apalagi Lika yang cantik dan baik." Tutur Vania yang memuji Hawa didepan Livia.
Livia yang mendengarnya hanya tersenyum masam, melirik Mike pria itu hanya diam dan berbincang dengan papa Hawa.
"Selain itu Lika juga gadis baik-baik dan tidak neko-neko jadi dia sangat menjadi menantu idaman Mama." Vania terus saja memuji Hawa didepan menantunya itu.
"Mbak bisa saja, menantu Mbak juga cantik dan baik. Pasti juga akan menjadi menantu idaman." Ayana menyentuh lengan Livia dan terseyum. "Iya kan sayang." ucapnya menatap Livia lembut.
__ADS_1
Livia hanya tersenyum, tanpa bisa membalas ucapan Ayana, Livia sadar jika dirinya belum sepenuhnya diterima dikeluarga suaminya karena dirinya memang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Hawa.
Setelah berbincang cukup lama, Julio tiba-tiba menyingung soal hubungan Mario dengan Hawa.
"Jadi kapan putrimu akan menikah?" Tanya Julio yang cukup didengar mereka yang berada disana.
Nathan tersenyum. "Sebentar lagi, tunggu saja undangan dariku." Jawabnya yang membuat Julio dan Mike penasaran.
Bukan hanya mereka, para reader juga penasaran kapan Mario dan Hawa menjadi pasangan halal 🤣.
Setelah memberikan selamat kepada mempelai, meskipun dengan rasa yang tertahan karena cemburu, akhirnya Mario membawa pulang kekasihnya yang sejak tadi sudah menguap karena nagatuk.
Keduanya berada didalam mobil Mario, Hawa duduk bersandar dengan tangan menggenggam tangan Mario, bukan Mario yang menggenggam melainkan Hawa.
Mario hanya tersenyum, sepertinya kekasihnya hari ini terlihat manja.
"Sayang kamu tidak lupakan sebentar lagi kita akan menikah?" Tanya Mario yang melirik Hawa.
"Memangnya kapan Om?" tanya Hawa, yang mencoba untuk tetap membuka matanya meksipun rasa ngantuk menyerangnya, tapi dirinya enggan untuk tertidur.
"Emm." Hawa tampak berpikir. "Boleh tidak kalau setelah aku ujian sekolah." Cicit Hawa menatap Mario dengan penuh harap.
Mario menatap wajah kekasihnya yang berharap. "Kapan?" Tanya Mario balik.
"Apanya?" Hawa balik bertanya.
"Ujian sekolah?" Tanya Mario lagi.
"Oh.." Hawa Tersenyum. "Lusa." jawabnya singkat.
Mario tampak berpikir, Hawa sekarang masih duduk di bangku kelas 11 dan sebentar lagi akan naik kelas 12. Kalau sudah seperti ini, Mario juga tidak tega untuk menganggu konsentrasi kekasihnya, meskipun dirinya bisa melakukan hal lebih untuk mempermudah sekolah Hawa, tapi Mario rasa Hawa tidak akan mau mengikuti jalur cepat mengunakan namanya.
"Ya sudah tidak apa-apa, tapi setelah selesai kita akan menikah." Lanjut Mario yang seketika membuat senyum Hawa mengembang sempurna.
__ADS_1
"Ahhh Hubby baik deh, jadi makin cinta."
Cup
Tanpa sadar karena sangking senangnya, Hawa memajukan tubuhnya dan mencium pipi Mario.
"Apa? katakan lagi." Mario ingin mendengar kembali panggilan Hawa.
"Apa?" Tanya Hawa yang tidak mengerti.
"Tadi kamu panggil aku dengan sebutan apa?" Tanya Mario lagi.
Hawa tampak berpikir, dan sedetik kemudian, Hawa mengigit bibir bawahnya dengan wajah merona malu, ketika tersadar.
Mario yang melihat tingkah Hawa gemas sendiri.
"H-Hubby.." Cicit Hawa pelan, dengan wajah merona.
"Ulangi lagi?" Pinta Mario.
"Em, Hubby."
Mario tersenyum lebar dengan binar bahagia. "I love you honey."
Bluss
Wajah Hawa semakin memerah seperti tomat, gadis itu terlalu baper mendengar panggilan Mario.
"Ya aku suka panggilan yang kamu berikan." Mario terseyum menatap Hawa, dan mengusap kepala Hawa penuh sayang.
.
.
__ADS_1
Tinggalkan jejak sayang 💋