My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Kalau hubby sudah bertindak


__ADS_3

"Sayang, tunggu aku sebentar." Teriak Nathan ketika masuk ke kamar mandi, sedang-kan Ami sudah siap dengan seragam sekolahnya.


"Dari tadi di tungguin lama." Gumam Ami yang berjualan ke dapur kecil diaparteman itu. Dia membuat roti oles dan dua gelas kopi dan cokelat panas kesukaan mereka.


Lima belas menit kemudian Nathan sudah keluar, tapi penampilan Nathan membuat Ami geleng kepala.


Jika biasanya Nathan keluar kamar sudah berpenampilan rapi, tapi lihatlah penampilan pria itu sekarang, sangat berantakan.


"Apa sekarang kebiasaan mu sudah berubah." Ucap Ami yang mendekati Nathan dan menarik dasi yang terikat asal di leher Nathan.


Ami memasangkan dasi suaminya. "Jika penampilan hubby seperti ini, pasti kak Ando akan mengataiku tidak pecus."


Nathan mengulum senyum, dia suka berdekatan dengan istri kecilnya seperti ini.


"Senagaja biar kamu melayaniku, tidak hanya di atase ranjang saja." Balas Nathan mencium pipi Ami yang sudah merona.


Ami mengingat percintaan panas mereka berdua tadi malam, dan Ami sudah tidak merasakan begitu sakit seperti seminggu yang lalu.


"Ish, jangan bahas itu lagi." Kesalnya dengan memeluk dada Nathan.


Nathan tertawa. "Tapi aku suka, bahkan sangat menyukainya." Nathan memeluk pinggang Ami membuat tubuh mereka tanpa jarak.


"Em, sudah siang nanti aku telat." Cicit Ami yang gugup ditatap Nathan seperti itu. Padahal mereka sudah melakukan hal yang lebih intens dari ini.


"Aku akan mengantarmu." Nathan mengecup kening dan pipi Ami dan melepaskan pelukannya.


"Tidak usah lagi pula_"


"Sekalian ada yang ingin aku urusan disana." potong Nathan yang tidak ingin dibantah.


Ami hanya pasrah, dirinya hanya takut jika teman sekolahnya melihat dirinya dengan Nathan dalam satu mobil.


Lima belas menit mobil mewah Nathan berhenti diparkiran sekolah di samping mobil-mobil para guru. Ami menghela napas menatap Nathan cemberut.

__ADS_1


"Apa bedanya turun di luar dan sini." Ucap Nathan dengan santai.


Sebelum masuk gerbang sekolah Ami sudah menyuruh Nathan untuk menurunkannya di pinggir jalan, tapi sepertinya suaminya itu ingin membuatnya kesal sehingga di bawa masuk sampai parkiran.


"Awas ya, gak ada jatah makan memakan." Setelah mengatakan itu Ami keluar, karena sudah melihat situasi aman.


"Eh, sayang ngak bisa_ Ah sial..!" Nathan mengusap wajahnya kasar. "Sekarang dia punya kata keramat." Gumamnya dengan kesal.


Istrinya sudah bisa mengancamnya, dia tahu jika dirinya tidak bisa menjauh dari tubuh nikmat milik Istrinya.


"Mi." Olive langsung menghampiri Ami dan mengajak ke bangku pojok sedikit jauh dari para siswa/i yang berada di dalam kelas.


"Apaan sih." Ami menatap Olive dengan jengah.


"Ihh, muka nya jangan kayak gitu." Protes Olive yang melihat wajah Ami seperti malas.


"Hm, apa Olive Odelia sayang." Ami membuat senyum aneh membuat Olive tertawa.


"Hahah, jangan ngelawak lah, serius aku tuh." Olive mencubit pipi Ami.


"Am..em..am..em.. apa?" Tanya Ami gemas.


"Orang yang udah sekap kamu juga udah ketangkep." Jelas Olive hanya membuat Ami mengangguk.


"Gak heran sih, kalau hubby gue udah bertindak." Ami terseyum jenaka.


"Idih, masih bisa senyum kaya gitu." Olive melirik Ami sinis.


"Huh, gue cuma gak habis pikir sama mereka berdua, bisa-bisanya Nesya main sama ketua osis." Ucap Ami lirih.


Kejadian di gudang belakang kemarin memang tidak ada yang tahu dan dirahasiakan, hanya mereka saja yang tahu bersama kepsek dan guru. Selain itu mereka di suruh tutup mulut agar tidak membuat malu sekolah dan orang yang menjadi tersangka.


"Hm, dan mereka bakal dikeluarin dong." Ucap Olive.

__ADS_1


"Bisa jadi."


Meskipun sering dibuly dan di perlakukan kasar, tapi ketika melihat Nesya yang menangis saat di giring guru dan satpam membuat Ami juga merasa kasihan.


Setiap musibah ada hikmahnya, dan mungkin dibalik musibah yang menimpa Nesya, gadis itu akan semakin memperbaiki diri.


.


.


Nathan menatap tajam dua pria berseragam dengan kepala menunduk.


Kedua pria yang juga seorang siswa disekolah itu merasa ketakutan karena kejadian kemaren mereka tertangkap.


"Jadi kalian tidak mau bicara." Tegas Nathan menatap tajam keduanya yang hanya menunduk takut.


"K-kami tidak tahu pak, kami hanya disuruh seorang wanita dipinggir jalan dan dikasih uang untuk melakukan penyekapan itu." Ungkapnya dengan jujur.


Karena uang mereka melakukan tindak kriminal di dalam lingkup sekolah, dan membahayakan orang lain.


Nathan menghembuskan napas kasar.


"Sebaiknya, anda keluarkan saja mereka." Tegas Nathan menatap kepala sekolah dan beberapa guru yang ada disana.


"Kami juga sudah membicarakan masalah ini pada guru yang lain pak, karena perbuatan mereka menjerumus kriminal kami sepakat untuk mengeluarkan mereka dari sekolah." Tutur kepsek dengan tegas.


Disana juga ada Nesya dan ketua osis berserta kedua orang tua mereka masing-masing yang merasa malu dan terpukul mengetahui perilaku anak-anak mereka.


"Bagus, dan saya tidak ingin terjadi sesuatu yang membahayakan istri saya lagi."


jederr


Nesya yang mendengarnya syok. "I-istri, Miami Istri." Nesya tiba tak sadarkan diri, membuat panik orang tuanya.

__ADS_1


l


__ADS_2