My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Mall


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian...


Waktu begitu cepat berlalu, begitupun perjalanan hidup seorang Ayana Malika Ifana.


Gadis ceria dengan kehidupan yang berliku, dan tidak mudah untuk dia jalani, kehidupan yang keras membuatnya terbiasa hidup mandiri dan dewasa.


Sekarang Ami merasakan buah kesabaran dan keikhlasan dirinya menjalani hidupnya selama ini, sebelum menikah dengan pria kaya raya yaitu Nathan Adhitama.


Waktu pun begitu cepat berganti hingga dirinya kini berada di semester akhir sekolah.


Ami kini sedang fokus pada lembar soal yang berada di tangannya, lembar soal ujian yang sedang menunggu untuk dikerjakan.


Hari ini adalah ujian akhir untuk Ami dan juga Olive begitupun beberapa murid yang lainnya di kelas dua belas.


Ujian akhir yang akan menentukan kelulusan atau tidak bagi mereka semua. Dan Ami benar-benar harus giat belajar untuk hal ini.


Bahkan dirinya mengabaikan Nathan selama satu Minggu, karena dirinya hanya fokus pada ujian yang sedang dia hadapi. Meskipun terkadang rasa rasa kantuk menyerang ketika belajar, tapi Ami tetap semangat demi tidak mengecewakan orang-orang yang menyayanginya.


Nathan juga tidak mengganggu masa belajar istrinya, dirinya juga tidak ingin Ami kelelahan karena ia ganggu.


"Uhh, akhirnya." Ami menyelesaikan mata pelajaran terakhir cepat waktu, bahkan masih ada waktu lima menit sebelum bel berbunyi.


Olive pun juga sudah selesai, Ami memberi kode untuk mengumpulkan kedepan dan mereka boleh pulang lebih dulu.


"Fyuuhh, akhirnya. tinggal satu hari semua akan terlewati." Ucap Ami pada Olive yang berdiri disampingnya, dua gadis itu sudah keluar kelas.


"Bagaimana kalau kita pergi ke mall, itung-itung sebagai hari-hari kebersamaan kita." Ucap Olive pada Ami.


Olive memang ingin melanjutkan sekolahnya, tapi tidak di Jakarta, dia akan melanjutkan sekolah di Surabaya dan tinggal di sana bersama nenek dari sang ibu.


"Oke, gasss." Keduanya tertawa dan sedikit berlari untuk menghampiri mobil jemputan istri dari CEO Adhitama itu.


Semenjak pernikahannya dengan Nathan dipublish, kemanapun Ami pergi selalu diantar oleh supir, atau dengan Nathan.


Ami juga tidak tahu jika Nathan menempatkan dua pengawal untuk mengikuti kemanapun istrinya pergi, karena memang dunia bisnis tidak luput dari kejahatan dari lawan bisnis yang tidak suka.


"Pak, kita ke Mall ya." Ucap Ami pada pak supir.


"Baik Non." Mobil BMW hitam itu meninggalkan sekolah.

__ADS_1


"Ol, kamu yakin ingin melanjutkan sekolah di Surabaya?" Tanya Ami dengan menatap Olive serius. "Jadi kamu meninggalkan aku sendiri disini."


Olive menatap wajah sahabatnya itu. "Kamu tahu kan jika nenek aku disana sendiri dan aku disuruh Mama untuk menemaninya sekalian kuliah di sana."


Ami mengehela napas. "Tapi aku tidak yakin jika hanya itu alasan kamu untuk meninggalkan kota.


Olive memalingkan wajahnya, menatap lurus kedepan. Dirinya meninggalkan kota memang bukan karena harus menemani sang nenek, karena disana ada saudara dari sang ibu yang tinggal dengan neneknya.


Olive hanya lelah dan merasa jika terus tinggal di sini, semakin susah untuknya melupakan semuanya, yang terasa berat.


"Ol..!!" Ami menyentuh pundak Olive. "Kamu melamun." Ami menatap wajah sahabatnya, dimata Olive, Ami melihat kesedihan. "Kamu punya masalah." Ami menatap lekat wajah Olive.


"Tidak, aku hanya sedih sebentar lagi kita akan berpisah." Olive tersenyum tipis.


"Makanya kamu jangan pergi, pliss." Ami menangkupkan kedua tangannya memohon.


"Keputusanku sudah bulat Mii," Olive terseyum tipis.


"Ck, kasian dong kak Niko." Ucap Ami dengan bibir manyun.


Ami tidak bisa memaksa kedinginan sahabatnya itu, dan Ami yakin jika ada sesuatu yang disembunyikan sahabatnya itu, karena sejak pesta pernikahan bundanya beberapa bulan yang lalu, sahabatnya itu menjadi lebih pendiam, jika di tanya Olive selalu mengelak seolah dirinya baik-baik saja.


Besok adalah hari terakhir ujian, dan setelahnya mereka akan menghadapi wisuda kelulusan, jika Olive tidak di ragukan lagi dengan nilainya, sedangkan Ami harus bekerja keras agar bisa mendapat nilai yang bagus.


.


.


.


Dikantor Nathan membuka ponselnya yang baru saja menerima pesan masuk, pesan dari anak buahnya yang mengikuti Ami.


"Nona berada di mall xxx tuan." Pesan beserta foto lengkap dikirim.


"Terkadang kamu membuatku khawatir, jika tidak ijin." Ucap Nathan mengehela napas.


Terkadang keteledoran Ami adalah suka tidak meminta ijin jika pergi, meskipun yang dilakukan gadis itu hanya kegiatan biasa tapi Nathan selalu menghawatirkan istrinya jika berada diluar sana, meskipun hanya berjaga-jaga tapi Nathan selalu takut jika ada orang yang menyakiti istrinya diluar sana.


Brak

__ADS_1


Ando masuk keruangan Nathan tanpa mengetuk pintu, pria itu langsung duduk di kursi depan Nathan.


"Nat bini lu diman?" tanyanya langsung.


Mata Nathan memincing mendegar pertanyaan asistennya itu.


Ando yang menyadari tatapan mata Nathan kembali berucap. "Yaelah, bukannya gue mau selingkuhin bini lu, gue cuma mau tau Olive sama bini lu ngak." ralat Ando menghadapi singa jantan yang oper protektif jika menyangkut istrinya.


"Lu, tanya sendiri orangnya. ngapain tanya gue." Nathan tidak memperdulikan Ando, pria itu kembali berkutat dengan pekerjaanya.


"Ck, lu tahu sendiri nomor gue diblokir sama dia." Keluh Ando yang juga kesal, sudah beberapa bulan nomornya di blokir oleh Olive.


"Itu sih derita lu, yang suka nyakitin cewek."


Ami dan Olive berada di sebuah toko baju, mereka asik mencoba beberapa baju yang cocok dana kan di beli.


"Mii, ini udah banyak." Olive menunjukkan kedua tangannya yang penuh dengan gantungan baju.


"Ck, udah si diem aja, gue yang beliin." Ami yang sok dermawan tersenyum jumawa.


"Tapi ini banyak Mii." keluh Olive lagi yang merasa tidak enak.


"Lu harus ganti penampilan, tubuh Lu udah bagus tapi masih ada suka baju kedodoran seperti itu." Ucap Ami menatap penampilan Olive.


"Emangnya salah ya, aku berpakaian seperti ini." Ucap Olive pelan.


Ami yang mendengar merasa bersalah dengan ucapanya tadi, "Bukan itu, maksud gue biar lu lebih modis sedikit dan biar kak Niko semakin kesemsem sama kamu." Ucap Ami sambil terkikik, agar mencairkan suasana yang tidak enak tadi.


Olive menghela napas dalam. Ami memang tidak tahu apa yang terjadi antara dirinya dan juga Niko, hanya saja mereka melihatnya Niko dan Olive adalah sepasang kekasih.


"Kita ke sana." Ami menarik tangan Olive untuk pindah ke tempat lain, tanpa bisa menolak Olive mengikuti.


Karena terlalu bersemangat Ami tidak melihat jika ada troli yang berisi tumpukan baju yang menggunung, dan pelayanan yang mendorong pun tidak tahu jika ada dua gadis yang akan melewatinya.


"Amii awas..!!"


Olive menarik pergelangan tangan Ami, tapi dirinya sendiri yang menghantam troli itu tepat mengenai pinggangnya, hingga Olive terpental menabrak pinggiran meja besi.


"Akkhh." Olive menjerit ketika pelipisnya menghantam meja, itu.

__ADS_1


"Olive..!!"


__ADS_2