
Ami berangkat sekolah memilih untuk naik ojek, dia tidak bisa mengayuh sepedanya lagi karena di bagian miliknya masih terasa sedikit sakit.
Naik mobil yang Nathan siapakan juga tidak mungkin dirinya tidak ingin membuat satu sekolah geger lagi setelah foto-fotonya bersama Nathan tersebar, apalagi keluara dari mobil bagus milik suaminya.
Ditengah jalan ojek yang Ami naiki tiba-tiba di salip mobil dan terpaksa membuat ojek itu minggir.
"Ay.."
"Kak Zian." Ami menatap pemuda yang baru saja turun dari mobil yang berhenti dan berdiri didepannya.
"Pak, bapak boleh pergi ini ongkosnya." Zian menwberikan selembar uang pada ojek yang mengantar Ami.
"Eh, gak gitu pak aku_"
"Ay, aku mau bicara." Zian mencekal tangan Ami agar gadis itu tidak pergi. "Tidak apa pak, dia teman saya." Kata Zian lagi menyuruh ojek itu pergi.
"Lepas kak." Ami sedikit mengivaskan tangan Zian agar melepas cekalanya.
"Aku minta maaf, kalau ucapanku waktu itu membuatmu terluka Ay, maaf." Ucap Zian tiba-tiba. Pria itu sengaja mencegat Ami hanya untuk meminta maaf, dan kembali untuk mendekati gadis yang dia incar.
Ami menatap Zian dengan alis terangkat sebelah. "Hanya itu?" Tanya Ami dengan santai.
Dirinya tidak bodoh jika Zian datang hanya minta maaf saja, pasti ada maksud lain.
"Ya, dan nanti siang kami dan Olive aku undang untuk datang ke kafe, ada acara kecil-kecilan." Ucap Zian dengan tersenyum. "Aku harap kamu bisa datang, karena hari ini hari spesial aku." Zian mengusap kepala Ami lembut.
Mereka bicara di pinggir jalan raya, "Ayo aku antar, sebentar lagi bel masuk." Zian menarik tangan Ami untuk masuk ke dalam mobilnya, jika biasanya Zian akan membawa motor besarnya ke sekolah kali ini pria itu membawa mobil.
Didalam mobil Ami hanya diam, gadis itu hanya menatap jendela melihat pemandangan diluar.
__ADS_1
Zian tersenyum tipis, dirinya merasa senang karena bisa kembali dekat dengan gadis yang dirinya sukai.
Tak lama mobilnya sampai didepan gerbang sekolah, beruntung pintu gerbang masih terbuka.
"Maksih kak." Ucap Ami yang ingin keluar, tapi tangannya kembali dicekal Zian.
"Jangan lupa datang." Zian tersenyum dan melepas tangannya agar Ami bisa keluar.
Ami hanya mengaguk kecil, dirinya tidak tahu mau datang atau tidak.
Sampainya di lorong kelas Ami kembali melihat nenek lampir yang sedang menatapnya sinis.
"Cih, gak puas satu, masih bisa Lo gaet Zian lagi." Sinis Nesya menghadang jalan Ami didepanya.
Gadis itu tidak ada hentinya mengganggu Ami.
"Memangnya kenapa? iri, karena mereka lebih milih gue dari pada lu mak lampir." Ami meledek dengan tatapan meremehkan, membuat Nesya emosi.
Bel sekolah berbunyi membuat Ami tersenyum puas, dan berjalan melewati Nesya dan Loli dengan menabrak bahu keduanya.
"Miami sialan..!!" Nesya menatap tajam punggung Ami yang semakin menjauh. Dirinya tidak akan pernah berhenti sebelum mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Mi.." Olive melambaikan tangannya ketika melihat sahabatnya masuk. "Kak Zian ngundang kita ke acara ulang tahun nya." Ucap Olive dengan senyum.
"Oh, acara ulang tahun." Jawab Ami cuek.
"Ihh.. kok gitu, mau dateng gak, Mayan makan enak gratis." Ucap Olive lagi, membuat Ami mencebik.
"Makan enak gratis, gue bisa beli makanan paling enak di kota ini." Ucap Ami sombong.
__ADS_1
"Sombong mentang-mentang istri sultan." Olive menyenggol bahu Ami, dan mereka tertawa.
.
.
.
"Nat tunggu dulu gak bisa kayak gini dong." Hilda mengejar Nathan yang ingin masuk mobil.
Nathan berdecak malas, wanita itu sejak tadi mengganggunya.
"Kamu kenapa berubah sih." Kesal Hilda menatap Nathan yang hanya berwajah datar.
"Apa karena wanita yang bercumbu dengan mu itu, apa dia lebih baik dari aku." Ucap Hilda yang tidak tahu malu.
Nathan menatap Hilda tajam. "Siapa kau berani membandingkan wanitaku dengan dirimu hah." Nathan berbicara dengan dingin.
"Aku, aku wanita yang setara dengan kami, kita sama-sama pintar dalam berbisnis, tapi dia? dia hanya bisa memuaskan mu saja bukan." Hilda berbicara dengan nada merendahkan membuat Nathan geram.
"Cukup, jangan pernah kau bandingkan dirimu dengan wanitaku yang lebih dari dirimu, mulai sekarang kerja sama kita berhenti, saya tidak mau bekerja dengan orang seperti dirimu, mulai sekarang jangan pernah kamu menampakkan wajahmu di depanku lagi." Nathan menatap Hilda penuh ancaman.
Hilda terdiam kaku, mulutnya tidak bisa dikontrol dan menyebabkan kerugian besar dalam bisnisnya.
"Nat, kamu becanda kan, kerja sama kita baru dimulai tidak mungkin kamu membatalkan hanya karena gadis it_"
"Cukup Hilda..!! gadis itu istriku, jangan sebut dirinya murahan dengan mulut kotormu itu." Setelah mengatakan itu Nathan meninggalkan Hilda yang berdiri mematung syok dan terkejut dengan apa yang dia dengar.
"Istri..jadi Nathan sudah menikah." Gumamnya dengan lirih, kini hancur sudah harga dirinya didepan Nathan. Pria itu ternyata bercumbu dengan istrinya, dan bukan jal*ng bayaran.
__ADS_1
Ya tuhan kenapa aku menghancurkan karir ku sendiri.