
Hawa mengerjapkan kedua matanya pelan, belum sepenuhnya sadar, dirinya merasakan berat dibangian perut.
Tersadar tiba-tiba jantungnya berdebar kencang, matanya kembali terpejam agar yang dia rasakan hanya sebuah mimpi. Tapi ketika membuka matanya kembali dirinya menyadari jika itu bukan mimpi.
Perlahan kepalanya mendongak melihat keatas perutnya, yang terdapat tangan kekar melingkar erat.
"Ini_"
"Sudah bangun heem?" Suara berat nan serak membuat Hawa menoleh ke sumber suara.
Tenggorokannya tercekat dan lidahnya terasa kelu melihat pria yang sedang terseyum menatapnya.
"O-Om Mario."
#Flashback On
Mario yang melihat dimana titik lokasi yang berwarna merah tersenyum.
Ternyata Mike membawa gadisnya kepuncak dan menginap di villa keluarga.
"Kemanapun kau membawanya, pasti aku akan menemukannya." Gumam Mario yang tersenyum menyeringai.
Selama gelang yang dia beri Hawa pakai, pasti dirinya tidak akan kehilangan jejak gadisnya. Karena gelang yang Mario kasih sudah Ia desain demikian rupa untuk menaruh alat pelacak yang dia sisipkan. Karena sebelum membelinya Mario sudah memesan gelang yang ternyata hanya ada tiga yang di jual, dan Hawa salah satu pemiliknya.
Dari sanalah Mario tahu. Karena tidak ingin terjadi apa-apa Mario akhirnya menyusul Hawa dan menyelinap ke dalam kamar gadis itu ketika mereka semua menghabiskan waktu di luar vila.
meskipun Mario tahu jika Hawa dalam pengawas, dirinya tetap tidak bisa melepas begitu saja karena perasaanya terhadap Hawa sudah diketahui Mike maupun Vania.
__ADS_1
#Flashback of
"Kenapa_" Hawa yang melihat kamarnya berbeda semakin terkejut. "Om aku dimana?" Tanya Hawa dengan wajah yang sudah takut, matanya mulai berkaca-kaca.
"Hey, tenang." Mario bangkit untuk duduk dan menangkup pipi Hawa.
"Kamu masih di vila, tapi dikamar yang berbeda." Ucap Mario mencoba menenangkan Hawa.
"Maksudnya." Hawa mencoba untuk tenang, dan mencerna ucapan Mario.
"Terkadang kehidupan sekitar kita belum tentu baik, aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu padamu. Percayalah aku hanya ingin menjagamu."
Meskipun tidak mengerti apa yang Mario maksud, tapi kepala Hawa tetap mengangguk.
Mario tersenyum, gadisnya memang penurut.
"Entahlah, yang jelas aku tidak bisa membiarkan mu pergi dengan Mike, meskipun pengawal papamu ada tapi mereka memantau dengan jarak aman." Jawab Mario sambil menenggak air putih yang dia ambil.
"Apa kak Mike orang jahat?" Tanya Hawa polos.
Mike menatap Hawa intens, "Tidak, hanya saja dia tidak bisa disaingi. Dan suatu saat kamu pasti tahu." Mario tersenyum tipis.
Setelah hampir satu jam mengobrol, Hawa memutuskan untuk keluar dari kamar dengan mengendap-endap, dirinya takut ketahuan jika baru keluar dari kamar yang tidak boleh ditempati.
"Setelah keluar, bersikaplah biasa saja, jika ditanya jawablah habis tersesat."
Hawa tersenyum sendiri ketika mengingat pesan Mario yang memberinya instruksi, entah mengapa bukanya solusi jika ketahuan, tapi malah lelucon menurutnya.
__ADS_1
"Kak Mike."
Deg
Mike yang baru saja keluar dari kamar terkejut mendengar suara Hawa yang berada didepannya.
"Kak Mike ngapain?" Tanya Hawa yang bingung.
Mike pun menggerakkan matanya gelisah, takut jika jawabannya mengundang curiga Hawa.
"Ah, itu aku melakukan sesuatu dari_"
"Kamar Livia?" Hawa mengerutkan keningnya.
"Ah iya.." Mike pun tersenyum kikuk. "Kamu sendiri ngapain pagi-pagi sudah diluar?" Tanya Mike balik.
Kini gantian Hawa yang bingung ingin menjawab apa, dirinya tidak pandai berbohong.
"Ingat berbohong demi kebaikan diri sendiri karena dalam keadaan terdesak tidak masalah."
Ucapan Mario melintas begitu saja, "Aku tadi ingin jalan-jalan kak, tapi salah mengambil jalan." Jawab Hawa sambil tersenyum tenang.
"Kalau begitu biar aku temani."
Hawa bernapas lega, Mike mempercayai dirinya.
"Ternyata belajar berbohong suatu keberuntungan juga." Hawa cekikikan dalam hati.
__ADS_1