
"Bagaimana saksi? sah?"
"Sah..!!"
"Alhamdulillah.."
Lantunan doa kembali dilanjutkan setelah kata Alhamdulillah didengar. Hari ini mereka resmi menjadi sepasang suami istri.
Aldrick Nathan Adhitama resmi menikahi Ayana Malika Ifana dengan mengucapkan ijab kabul di depan wali dan penghulu yang menikahkan mereka.
Sejak tadi Ami hanya menunduk ketika di bawa keluar, dan Nathan juga sama sekali tidak melihat wajah calon isterinya yang kini sudah sah menjadi istrinya.
Meskipun Nathan mendengar mama dan juga kerabat dekatnya mengatakan jika Ami cantik tapi Nathan sama sekali tidak tertarik untuk melihatnya, pria itu hanya diam dengan wajah datar, tidak ada senyum bagi kedua meskipun sudah resmi menikah.
__ADS_1
"Selamat ya sayang, mulai hari ini kamu menjadi anggota keluarga Adhitama." Indira memeluk menantunya dengan senyum bahagia.
"Terima kasih Tante." Ucap Ami tersenyum sekilas. Dirinya sadar jika ucapan ibu mertuanya adalah sebagai pengingat dirinya yang sekarang bukanlah orang biasa, tapi Ami yang sekarang membawa nama besar Adhitama yang harus dia jaga.
Tanggung jawab seorang istri yang memiliki suami dengan nama besar tidak membuat Ami bahagia. Justru dirinya seperti akan terperangkap di kandang emas.
"Jangan panggil Tante sayang, panggil Mama." Indira mengusap wajah cantik Ami dengan dibalut riasan natural dan mengunakan pakaian adat modern.
"Selamat nak, papa harap kamu bisa menjadi suami dan kepala kelaurga yang baik untuk istrimu." Ucap Allan memeluk putranya, Allan bisa melihat bagaimana kesedihan dan ketidakrelaan di mata putranya, sepetinya Nathan keberatan dengan pernikahan ini.
"Terima kasih pah." Hanya itu yang keluar dari bibir Nathan sedari tadi yang hanya bungkam.
"Selamat nak, sampai kapan pun kamu akan menjadi anak gadis bunda." Raya menangis dengan memeluk putri tunggalnya, yang resmi di nikahi pria tampan dan kaya raya seperti Nathan.
__ADS_1
Awalnya Raya ingin menolak pernikahan ini karena tidak tega melihat putrinya nikah di usia yang muda, tapi disini Raya tidak bisa melakukannya apapun ketika mengingat konsekuensi apa yang dia dapatkan jika tidak mau menerima lamaran untuk Ami.
"Bunda jangan khawatir, Ami akan selalu ada untuk Bunda, bila perlu Ami akan tinggal sama bunda." Ami tersenyum dengan manis, senyum untuk menenangkan bundanya yang menagis terisak, jika bisa Ami ingin menangis meraung di dalam pelukan bundanya, tapi tidak Ami lakukan karena kahawatir dengan bundanya.
"Mana bisa begitu." Raya terkekeh dalam tangisnya, mendengar ucapan Ami. "Kamu harus ikut suamimu kemana pun pergi dan tinggal, doa bunda selalu menyertaimu." Raya kembali memeluk Ami, "Maafkan bunda yang belum bisa memberikanmu ke kebahagiaan."
Sekuat tenaga Ami tidak ingin menangis di depan bundanya, "Bunda adalah bunda yang terbaik untuk Ami, Ami sudah bahagia bersama bunda." Ami tetap menampilkan senyum nya yang tegar.
Mereka yang melihat ibu dan anak itu merasa haru, apalagi melihat pengantin wanita yang menampakan wajah tegar malah membuat mereka yang melihat sedih.
Nathan hanya diam tanpa mau ikut campur, dirinya memilih pergi mendekati saudaranya yang lain.
'Maaf bunda, Ami sudah menghancurkan harapan bunda.' Gumam Ami dalam hati, memeluk Raya.
__ADS_1