My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
SEASON 2~ Susu pisang


__ADS_3

Sampainya dirumah Hawa langsung masuk ke dalam kamarnya, menaruh tasnya dikursi Hawa membuka laci kecil dibawah meja kerjanya.


Tanganya meraih kotak kecil yang dia simpan selama tiga tahun.


Hawa mengambil gelang yang diberikan Mario tiga tahun lalu, gelang yang diberikan saat dirumah sakit untuk terakhir dirinya bertemu.


"Om ganteng." Bibir Hawa menyunggingkan senyum saat melihat gelang itu adalah pemberian Mario, dan pria itu bilang jika dirinya suka dengan nama panggilan yang Hawa berikan.


Ceklek


Hawa yang sedang tersenyum menatap gelang pemberian mario menoleh dan melihat Adam yang masuk kedalam kamarnya dengan masih menggunakan seragam sekolah sama seperti diirinya.


"Kenapa tidak menungguku." Adam langsung menghempaskan tubuhnya di atas ranjang Hawa dengan tidur terlentang.


"Ck, kak sepatumu mengotorinya tempat tidurku!" Ketus Hawa dengan kesal.


Bukannya menjawab Hawa malah menunjukan kekesalannya.


"Sepatu gue bersih, ngak kayak punya lu banyak hama."


Mendengar ucapan Adam tentu saja membuat Hawa mendelik kesal.


"Apa yang dia katakan sama lu?" Tanya Adam masih diposisi yang sama, dimana lenganya untuk menutupi matanya.


Hawa mengernyitkan keningnya, tidak tahu apa maksud dari perkataan saudara kembarnya itu.


"Apa maksudmu kak?" Tanya Hawa yang memang tidak mengerti.


Adam menarik tangannya dan menoleh pada kembarannya.

__ADS_1


"Mike, apa yang dia katakan padamu."


Deg


Hawa terpaku menatap Adam yang juga sedang menatapnya.


Adam beralih untuk duduk, pria itu menatap lekat wajah adiknya dengan intens.


"Meskipun kamu tidak bicara, tapi ingat jika aku adalah saudara kembar mu, apa yang kau rasakan aku juga merasakannya." Ucap Adam.


Kepala Hawa menunduk, gadis itu lupa jika dirinya memiliki keterikatan batin dengan Adam, meskipun bisa menutupi dari kedua orang tuanya, tapi perasaan dalam dirinya bisa Adam rasakan meskipun hanya samar, tapi karena sejak kecil mereka bersama dan mereka sudah bisa merasakan perbedaannya.


"Maaf kak." Cicit Hawa dengan sendu.


Adam menghela napas kasar. " Jangan hanya karena janji bodohmu itu kau menderita." Adam berdiri didepan Hawa. "Ingat kau putri satu-satunya papa dikeluarga Adhitama, tidak ada seorangpun yang berhak menyakitimu diluaran sana."


"Setidaknya kamu lawan dia agar tidak semena-mena sama kamu." Tegas Adam dengan penuh penekanan.


Sifat Adam menurun dari Nathan, pria itu tidak banyak bicara, dan hanya bicara seperlunya saja. Sifat dingin dan datar Adam pun juga sama dengan Nathan.


Hawa terduduk lemas di kursi, gadis yang memiliki hati lembut itu mulai merutuki dirinya yang asal mengucapkan janji, apalagi kepada Vania yang sudah dia anggap Mama keduanya.


"Maafin Hawa."


Di belahan dunia lain seorang pria berusia dua puluh tiga tahun sedang berkutat di depan layar datarya. Sebentar lagi jam makan siang tapi Mario enggan untuk beranjak dari kursi kerjanya.


Pria itu memilih untuk tetap bekerja agar semua pekerjaannya selesai dengan cepat karena dirinya berniat untuk libur panjang dari rutinitas yang selama tiga tahun Ia geluti tanpa libur.


"Rio, makan siang." Fabio masuk dengan membawakan kotak makan siang Mario seperti biasa.

__ADS_1


"Hm." Mario hanya berdehem menanggapi ucapan sahabat sekaligus asistennya itu.


Fabio duduk dikursi depan meja Mario, meletakkan makan siang Mario disana.


"Plus susu rasa pisang." Ucap Fabio langsung mendapat tatapan dari Mario, dan jemari Mario yang tadinya aktif di atas keyboard langsung berhenti.


"Cih, dengar susu pisang saja kau langsung bereaksi." Ucap Fabio yang selalu dibuat penasaran dengan susu pisang yang Mario minum selama tiga tahun ini.


Mario mencoba susu rasa pisang pertama kali saat dirinya akan meninggalkan gadis kecil dirumah sakit.


Mario tersenyum, setelah menyesap susu rasa pisang dari kotaknya hingga tandas.


"Karena rasanya manis, sepeti dia." Ucap Mario dengan senyum yang selalu Fabio lihat, tapi tidak untuk orang lain.


"Lama-lama kau bisa gila Rio, cepatlah selesaikan pekerjaan mu, agar cepat menemui gadis kecilmu itu." Ucap Fabio dengan tertawa.


Fabio Sabahat dekat Mario, dan partner mengembangkan bisnis yang Mario dirikan. Sejak tiga tahun Mario berkerja keras untuk menaikkan perkembangan bisnisnya di bidang yang dia sukai, dan benar saja setelah tiga tahun Mario berhasil membuat namanya dikenal di negara Swiss.


"Tunggu saatnya Fabio, aku akan menjemputnya." Ucap Mario dengan yakin.


Dirinya sudah memperhitungkan semua, jika Hawa sekarang sudah berusia 16th, dan sudah duduk dibangku Sekolah Menengah Atas. Dan tinggal beberapa bulan lagi dirinya akan pulang ke Indonesia untuk menjemput gadisnya disana.


"Semoga saja, dia tidak diambil orang, sebelum kau datang." Ucap Fabio lagi.


Mario menggeleng, tidak itu tidak akan terjadi. Dirinya sudah mengatakan jika Ia akan datang nanti.


"Tidak ada, siapapun tidak ada yang memilikinya." Tegas Mario menatap tajam Fabio.


Beginilah jika Fabio mencari kekesalan Mario mengenai Hawa, Mario akan kesal berakhir Fabio yang mendapat tatapan tajam.

__ADS_1


__ADS_2