
Nathan mengantar Ami kedalam kelasnya, sudah pasti apa yang Nathan lalukan membuat semua mata memandangnya.
"By.." Ami merengek dengan tingkah Nathan yang merangkulnya sejak keluar dari kantin, bahkan sampai dalam kelas.
"Duduklah." Nathan menyuruh Ami untuk duduk di bangkunya, pria itu seperti ayah yang mengantarkan anak TKnya.
Ami menatap ke sekeliling kelasnya, diirinya tahu jika menjadi pusat perhatian, dan ketika dia menoleh mereka pura-pura tidak melihat.
Ami mengehela napas, kali ini hari-hari disekolah akan berubah.
"Kenapa?" Nathan yang mengamati ekspresi istrinya merasa bingung.
"Tidak, sebaiknya Hubby kembali ke kantor." Ucap Ami dengan pelan ketika memanggil Hubby.
"Ya sudah aku pergi, nanti aku jemput." Ucap Nathan dengan senyum, tangan pria itu hanya menepuk lembut kepala Ami, tidak bisa berbuat lebih karena dirinya sadar jika masih di sekolah dan tidak ingin memberi contoh yang tidak baik, meskipun bukan lagi rahasia anak sekolah jika hanya berciuman.
Ami hanya mengaguk dan tersenyum tipis. Setelah Nathan pergi barulah Ami bernapas lega. Ami menatap ke sekeliling temanya yang seperti sibuk sendiri.
Tak lama Olive datang dengan napas tersengal.
__ADS_1
"Abis ngapain lu." Tanya Ami dengan memincing.
Pasalnya setelah dikantin tadi Olive tidak kembali, dan sekarang Olive datang dengan wajah berkeringat seperti dikejar setan.
Olive hanya menggeleng, tangannya memegang dadanya dan merasakan jantungnya seperti ingin lepas.
"Tuhan jantung gue." batin Olive menyentuh bibirnya.
.
.
"Pak Nathan.."
Wali murid yang melihat Nathan masuk ingin berdiri dan mendekati Nathan, tapi pria itu sudah lebih dulu mengangkat tangannya agar mereka tidak mendekat.
"Pak kami_"
"Kalian boleh duduk." Ucap Nathan tanpa ingin mendengar apapun yang dikatakan oleh orang-orang yang sudah membuat kekacauan dan berakhir Istrinya masuk rumah sakit dengan calon bayinya yang tidak bisa diselamatkan.
__ADS_1
Lebih dari sepuluh wali murid yang ikut demo waktu itu, karena memang vokal mereka yang lebih kuat, dari pada yang lain.
Beberapa murid tak lain adalah anak-anak mereka sudah tak bisa lagi masuk sekolah setelah tadi acara penting pengumuman yang Nathan sampaikan.
"Pak Nathan tolong kasihanilah suami saya, jangan buat perusahaan suami saya bangkrut."
"Iya pak, kami mohon."
Nathan menatap mereka satu persatu, dirinya bisa saja mengambil jalan hukum jika mau, tapi dengan apa yang sudah dia lakukan sekarang sepertinya sudah membuat mereka menderita.
"Kalian hanya bisa meminta maaf dan memohon setelah membuat salah, apa kalian tidak memikirkan perasaan orang yang anda hina dan permalukan. Apa jika anak kalian disposisi itu kalian akan diam saja." Nathan bicara tegas, membuat para wali murid menunduk diam.
"Saya rasa apa yang saya lakukan pada kalian, tidak sebanding dengan apa yang kami rasakan dengan kehilangan calon bayi kami."
Nathan memang menarik semua saham dan kerja sama dengan para suami yang istrinya mempermalukan dan menghina Ami. Bahkan Nathan juga mengeluarkan anak-anak mereka dari sekolah.
Dan untuk pelaku yang sudah dengan sengaja melempar bola dan membuat Istrinya kehilangan bayi, Nathan tidak memberi pria itu kesempatan untuk bisa mengeyam pendidikan lagi.
Mungkin inilah jalan Tuhan untuk mengingatkannya sebagaimana sang istri yang memang belum siap memiliki anak.
__ADS_1
Dan keputusan yang dia ambil sekarang adalah bentuk rasa kecewanya dengan perlakuan sesama manusia yang merasa tidak terima. Biarlah disebut dirinya yang jahat karena sudah memutus rezeki seseorang.