
Mario menepati janjinya untuk menunda acara pernikahan mereka sampai Hawa selesai melewati ujian akhir kenaikan kelas, pria itu tidak akan pernah memaksa jika memang hal baik.
Sedangkan Hawa hari ini mulai mengikuti ujian pertama di sekolah, begitu juga Adam dan semua siswa.
Didalam kelas semua tampak fokus, Sasa juga sama halnya dengan Hawa, gadis itu belajar dengan rajin agar tidak tinggal kelas, tidak hanya Sasa, Hawa dan semua siswa sama.
"Waktu kalian tinggal sepuluh menit lagi." Ucap guru pengawas dikelas itu.
Tampak terdengar suara sorakan, tapi setelah itu mereka kembali fokus untuk menyelesaikan.
Di kantor Julio, Mario masih datang untuk membantu, setidaknya mungkin ini hari terakhir karena Mike sudah mau kembali bergabung.
Julio senang karena perusahaan miliknya tidak jadi gulung tikar, pria itu senang karena Mario berhasil membuat usahanya tidak bangkrut. Dan untuk melepaskan perjodohan Mike dan Hawa, Julio tidak lagi mempermasalahkan itu, dan sekarang mereka sudah memiliki kehidupan sendiri-sendiri.
"Halo.." Mario keluar ruangan Julio untuk mengangkat panggilan dari Fabio yang ada di Swiss.
"..."
Mario tampak serius mendengarkan ucapan Fabio diseberang sana.
"Baiklah, kau handel dulu sebelum aku sampai." Ucap Mario dengan serius.
"Hm, terima kasih Fabio." Mario memutuskan sambungan teleponnya, menghela napas Mario bergegas pergi dan memesan tiket.
Sambil berjalan Mario menghubungi seseorang, pria itu menempelkan benda pintarnya ditelinga. Tapi sudah deringan terkahir dan belum diangkat juga.
"Mungkin masih ujian." Gumamnya yang langsung masuk ke mobilnya dan pergi.
"Ah, akhirnya selesai tepat waktu." Sasa merentangkan tangannya dan menggerakkan jarinya yang terasa pegal, begitu juga dengan Hawa melalukan hal yang sama.
"Laper abis mikir keras, ke kantin yuk." Ucap Sasa pada Hawa.
__ADS_1
"Em, sama perasaan otak yang bekerja kenapa perut yang keroncongan." Ucapan Hawa membuat Sasa tertawa.
"Karena perut kenyang, otak akan bekerja dengan baik, setelah ini kita akan bekerja keras lagi." Ucap Sasa yang disambut dengan tawa dari bibir Hawa.
Hawa mengambil ponselnya di dalam tas, tanpa mengecek Hawa langsung memasukkannya ke saku.
Keduanya berjalan menuju kantin berdua, tapi ditengah jalan keduanya berpapasan dengan Robert ketua Osis dan pria paling good looking disekolah favorit itu.
"Mau kemana kalian?" Tanya Robert pada keduanya.
Robert hanya berdua dengan temannya yang kemana-mana buntuti.
"Kantin kak." Jawab Sasa karena Hawa hanya diam saja.
"Oh, yaudah kita temenin." Ucap Robert.
Sasa hanya mengaguk. Mereka tidak mempermasalahkan itu karena Robert adalah teman Adam selain Arfin yang berada satu tingkat dari mereka.
Sampainya dikantin memang sudah ramai karena jam istirahat. Robert memilih bangku paling pojok, yang memang bangku mereka yang kosong, tidak ada yang berani duduk karena itu wilayah mereka.
"Kak Adam mana?" Tanya Hawa pada kedua cowok didepanya ini.
"Biasa sama si Arfin, tar juga nyusul." Jawab Robert yang hanya diangguki oleh Hawa.
Sasa dan teman Robert satunya sedang memesan makanan untuk mereka, tidak lupa juga untuk Adam dan Arfin yang belum datang.
"Lika.." Panggil Robert menatap Hawa yang sedang menunduk.
"Ya." Hawa mendongak. "Kenapa kak?" Tanya Hawa karena Robert diam setelah memanggilnya.
"Em, itu aku." Robert bingung ingin mengatakan apa yang ingin dia sampaikan, dirinya merasa kurang pede, tapi jika bukan Hawa mungkin Robert akan bisa bersikap biasa saja.
__ADS_1
"Kenapa kak?" Tanya Hawa lagi.
Robert menarik napas dalam dan mengeluarkan pelan sebelum bicara.
"Aku tidak tahu sejak kapan perasaan ini muncul, tapi sejak aku mengenalmu, sejak itu perasaan suka itu muncul dan_"
"Sayang.."
Tiba-tiba suara seseorang membuat perkataan Robert yang belum selesai terhenti.
Hawa yang tadinya bingung dan merasa tersudut kini bisa bernapas lega, saat mendengar suara seseorang yang sangat dia kenal.
"Byy.." Jawab Hawa pelan tapi masih didengar oleh kedua pria itu.
Jangan ditanya bagaimana keadaan dikantin itu, sudah pasti mereka menjadi pusat perhatian, bahkan ada yang mengabdikan dengan foto.
Mario tersenyum saat Hawa menatapnya, dan wajahnya kembali datar saat tatapannya tertuju pada pria yang sudah mencoba untuk mengungkapkan isi hatinya.
Jangan di kira Mario tidak mendengar percakapan mereka, apa kalian lupa jika Mario CEO perusahaan yang bergelut di bidang telekomunikasi dan IT, sudah pasti dia memiliki alat untuk melindungi wanitanya dari buaya seperti Robert.
Robert sendiri terkejut mendengar panggilan mereka, ucapanya pupus sebelum selesai, dan kini hatinya ikut pupus sebelum berlabuh.
Kasihan...
.
.
.
Jangan lupa LIKE, KOMEN 🥰🥰
__ADS_1