
Nathan sibuk dengan pekerjaannya, pria itu sudah lama duduk di kursi kebesarannya, jam menunjukkan pukul delapan malam. Tapi Nathan belum juga terlihat untuk menyudahi kegiatanya.
Sedangkan dirumah Ami sudah menunggu gelisah, biasanya Nathan tidak pernah pulang telat, suaminya itu paling lambat pulang sebelum pukul enam dan ini sudah jam delapan malam.
Ami mencoba menghubungi nomor suaminya, tapi tetap tidak bisa sejak terkahir Nathan mengirim pesan jika akan pulang terlambat setelah itu nomornya tidak bisa dihubungi.
"Sesibuk apa sih kamu." Ami kesal, wanita itu melempar ponselnya di atas sofa ruang TV.
Ami menatap meja makan yang masih tertata rapi, dia memasak makanan kesukaan suaminya dan sampai jam segini Nathan belum juga pulang.
Sudah tiga hari suaminya selalu pulang telat, dan jika ditanya Nathan hanya bilang banyak pekerjaan, sampai dirumah pun pria itu masih duduk di depan meja kerjanya, sungguh Ami terkadang dibuat kesal.
Duduk dengan tv yang menyala, Ami mengabaikan dirinya yang juga belum makan, karena menunggu Nathan.
"Nat, kamu belum pulang?" Tanya Ando yang baru saja akan pulang, tapi melihat ruangan kerja Nathan yang lampunya masih menyala.
Nathan mendongak. "Sebentar lagi Ndo." Jawabnya yang kembali fokus.
Ando geleng kepala, "Lu ngak kasihan bini lu nungguin." Ando masuk dan berdiri didepan meja Nathan.
"Hm." Nathan hanya berdehem, untuk menjawab pertanyaan asistennya itu.
Ando pun tidak bisa berkata lagi, pria itu memilih untuk pulang lebih dulu.
Nathan berkutat dengan berkas yang penting, pria itu ingin menyelesaikannya dengan cepat dan segera pulang.
Siapa bilang dia tidak kepikiran Istrinya, Nathan selalu memikirkan Ami, hanya saja untuk beberapa hari kebelakang, waktunya memang berkurang untuk sang Istri.
"Ah, akhirnya." Nathan melepas kacamata bacanya, dan memijat pangkal hidung yang terasa berat karena terlalu lama berkutat dengan berkas dan layar datar didepanya.
Melihat jam yang melingkar di tangannya Nathan mengehela napas, pasti Istrinya sudah menunggunya.
Nathan memang sengaja mematikan ponselnya, agar tidak menggangu pekerjaaan dan cepat selesai.
Pukul sepuluh kurang Nathan baru saja turun dari ruang kerjanya, pria itu kini kembali gila dengan pekerjaan, tapi untuk sekarang dirinya memiliki alasan untuk melakukan itu, jika dulu Nathan hanya ingin menghabiskan waktu untuk bekerja, maka sekarang Nathan mengabiskan waktu bekerja demi untuk sesuatu. Entahlah untuk apa.
Mengendarai mobil dijalan yang lumayan sudah sepi, Nathan bisa menambah kecepatan laju mobilnya agar cepat sampai di apartemen, dirinya berharap Ami tidak menunggunya seperti hari-hari sebelumnya.
Dua puluh menit mobilnya sampai di basement apartemen, pria itu keluar dari mobil dan segera menuju lift yang akan membawanya ke flat miliknya.
Ceklek
__ADS_1
Pintu terbuka, Nathan masuk keadaan apartemen gelap hanya lampu penerangan yang hidup.
Langkah kakinya membawanya masuk kedalam, hingga Nathan berhenti di meja makan dapur, pria itu melihat masakan sang istri yang masih tertata rapi dan seperti belum tersentuh.
"Apa dia tidak makan." Ucapnya pada diri sendiri.
Nathan mengehela napas kasar, lalu berjalan masuk kedalam kamar, padahal pesan yang dia kirim tidak hanya pulang telat, bahkan Nathan juga bilang tidak udah menunggunya untuk makan, tapi Istrinya tidak mau mendengarnya.
Membuka pintu kamar Nathan tidak menemukan sang istri diatas ranjang, pria itu segera menaruh tas kerja dan juga melepas kemeja berserta celana panjangnya, Nathan hanya menggunakan kaus oblong putih.
"Sayang.." Nathan memanggil Ami, pria itu menuju kamar mandi.
"Ay," Nathan masuk kedalam dan melihat istrinya yang berdiri didepan cermin, sedang mencuci wajah.
"Kamu belum tidur." Nathan memeluk Ami dari belakang, mendaratkan kecupan dipipi dan leher Ami.
"Em, kamu sudah pulang." Tangan Ami menyentuh jari Nathan, sehingga terlihat di tangan keduanya terdapat cincin pernikahan.
Nathan tidak menjawab, tangannya memeluk erat perut Ami.
"Kamu belum makan?" Bukanya menjawab, Nathan malah bertanya.
Ami hanya menggeleng, membuat Nathan mendongak, dan menatap wajah cemberut istrinya dari balik cermin.
"Tidak apa-apa," Ami ingin melepaskan tangan Nathan yang berada di perutnya, tapi Nathan mencegahnya.
"Kamu ngambek." Tanya Nathan dengan memiringkan kepalanya, agar bisa melihat wajah Ami langsung.
Ami pun membuang muka, gadis itu tidak menatap sumainya, apa dia tidak tahu jika dirinya ingin makan bersama, seharian Ami hanya berada di apartemen, gadis itu tidak memiliki kegiatan lain. Ingin pergi ke rumah baca tapi hari ini supir tidak masuk, dan Nathan tidak mengijinkannya pergi tanpa supir. Tentu saja Ami merasa kesepian dan kesal apalagi Nathan selalu pulang terlambat dan larut.
"Hey, tatap wajahku." Nathan mencapit dagu Ami, pria itu mengalihkan wajah Ami untuk menatapnya.
"Kamu marah?" Tanya Nathan lagi menatap intens kedua bola mata coklat milik Ami.
Ami masih tidak ingin melihat wajah Nathan, gadis itu mengalihkan tatapannya.
Nathan yang gemas kesal sendiri.
"Emph.." Ami memukul dada Nathan ketika dirinya mendapat serangan tiba-tiba, Nathan melumatt bibirnya dan menyesapnya bergantian.
"Byy." Ami menahan dada Nathan ketika pasokan napasnya sudah menipis, gadis itu menatap Nathan tajam.
__ADS_1
"Masih tidak ingin bicara." Ucap Nathan yang masih ingin memajukan bibirnya, tapi tangan Ami dengan cepat mendorong dada Nathan.
"Menyebalkan." Ami yang kesal meninggalkan Nathan dikamar mandi.
Nathan hanya geleng kepala, Istrinya memang masih remaja jadi perlu di manja.
Ami duduk didepan televisi. Gadis itu enggan untuk masuk kamar, dirinya tadi sudah tertidur di sofa dan bangun untuk mencuci wajah, berharap Nathan sudah pulang tapi ternyata belum.
Nathan yang melihat Ami duduk disofa tidak mendekati, pria itu memilih untuk masuk kedapur dan mengambil makanan untuk istrinya, karena dia sudah makan tadi sore di kantor.
"Makan dulu." Nathan duduk disamping Ami, pria itu membawa sepiring nasi berserta lauk, dan air putih di gelas.
Karena tidak mendapat jawaban, Nathan mengambil sendok dan mengisi dengan makanan lalu menyuapkan pada Ami.
"Aaa." Nathan sudah seperti seorang ayah yang sedang merayu anaknya.
Ami melirik sekilas. "Makan dulu sayang, biar bertenaga jika nanti mau berperang." Ucap Nathan dengan mengulum senyum, karena Ami langsung menatap tajam dirinya.
"Ayo.. buka mulutnya, apa perlu aku pakai cara yang_"
Hap
Ami langsung merampas nasi yang berada disendok dengan mulutnya, gadis itu tahun cara apa yang Nathan maksud.
"Istri aku memang pintar, padahal aku ingin pakai cara yang_ Auws.. sayang sakit." Nathan mengaduh ketika pahanya mendapat cubitan dari jari lentik Ami.
"Sukurin salah siapa suka aneh-aneh." Kesal Ami dengan melirik Nathan sinis.
"Apanya yang aneh, sih." Nathan pun juga kesal karena pahanya menjadi sasaran empuk cubitan Ami yang terasa panas.
Keduanya sama-sama menatap kesal, tapi tak urung Nathan menyuapi Ami sampai habis.
.
.
Like...komen... sayang..🥰🥰🥰
.
.
__ADS_1