
Ami datang datang dengan membawa nampan minuman dan cemilan untuk tamunya.
"Silahkan tuan, diminum. Nak Mario juga." Ucap Ami dengan senyum.
Nathan yang melihat mendengus kesal, sedangkan Mario mengulum senyum, dia tahu jika calon mertuanya sedang kesal lantaran dirinya datang terlalu cepat.
"Terima kasih nyonya." Jawab Marvin dengan senyum juga.
"Ck, tidak perlu kau menggoda istriku dengan senyummu itu, aku tahu kau pria kesepian." Ucapan Nathan membuat Ami membulatkan kedua matanya.
"Byy, Ngak Sopan." Ami menatap suaminya dengan tajam.
Lagi-lagi Nathan mendengus kesal.
Marvin hanya terkekeh, sedangkan Mario geleng kepala. Kecemburuan Nathan membuat pria itu terlihat begitu mencintai istrinya, dan itu memang benar.
"Perkenalkan saya Marvin Maurer orang tua Mario." Ucap Marvin membuka obrolan, karena tadi mereka belum sempat berkenalan.
"Maksud kami datang kemari ingin melamar Putri anda tuan Nathan dan nyonya."
Glek
Nathan terpaku, dirinya tidak menyangka jika mereka akan datang secepat ini.
"Dan saya yakin jika anda tidak akan melanggar kesepakatan yang dibuat sudah anda lakukan." Tambah Mario semakin membuat Nathan tak berkutik.
"Ck, itu kau yang memaksa, dan aku belum mengiyakan." Ucap Nathan yang mengelak, tapi setengahnya tidak juga seperti itu.
"Dan Anda menyetujui paksaan saya tuan." Mario terseyum meneyringai, membuat Nathan semakin kesal.
Ami yang melihat raut wajah suaminya ingin sekali tertawa, tapi dia tahu jika suaminya belum rela melepaskan putrinya.
"Jadi bagaimana? apakah lamaran anak saya diterima? lagi pula saya yakin jika anda sudah banyak pertimbangan untuk menerima putra tunggal saya." Ucap Marvin serius.
Nathan hanya menghela napas, sebenarnya dia juga ingin mempunyai menantu seperti Mario, tapi kenapa harus sekarang dia saat putrinya masih begitu belia.
__ADS_1
"Tapi putri saya masih di bawah umur apa tidak sebaiknya menunggu sampai umurnya cukup." Ucap Nathan yang memang belum benar-benar rela jika putrinya di pinang.
"Saya rasa anda lebih paham dan berpengalaman soal itu tuan."
Skak, ucapan Mario membuatnya tak berkutik hingga mati kutu, Ami yang melihat reaksi suaminya menjadi gemas sendiri.
Tak lama terdengar suara sepasang pria dan wanita masuk kedalam rumah.
"Ish kak jangan meledekku terus." Kesal Hawa pada Adam yang sejak tadi menggodanya.
"Tapi kamu suka kan." Ucap Adam sambil merangkul leher Hawa sampai membuat gadis mungil itu terlihat teraniaya.
Keduanya melangkah lebih dalam, dan tiba-tiba kaki Adam berhenti lebih dulu, membuat Hawa terhuyung kebelakang.
"Kak Adam, sakit tau." Kesal Hawa yang lehernya seperti tercekik. Adam langsung melepaskan rangkulannya dileher Hawa.
Hawa mengusap lehernya yang terasa sakit, sambil bersungut kesal, dirinya belum menyadari jika orang-orang yang duduk menatapnya.
"Hawa.." Panggil Ami untuk menyadarkan putrinya.
"Hawa kemari nak.." Ami melambaikan tangan menyuruh Hawa duduk disampingnya.
Langkah kaki Hawa begitu berat, dirinya tidak tahu apa yang mereka bicarakan, dan siapa pria yang duduk disamping Mario, sejak tadi pria itu menatapnya.
Adam memilih pergi masuk ke kamar, dirinya tidak ingin ikut campur.
"Nah ini putri saya tuan Marvin." Ucap Ami yang menyentuh bahu Hawa.
Hawa tersenyum kikuk, saat duduk diantara kedua orang tuanya.
"Ha-hawa tuan." Ucap Hawa gugup.
Marvin tersenyum lebar. "Panggil saja Daddy seperti Mario memanggilku, senang melihatmu gadis manis. Pantas saja Mario menyukaimu sejak kecil." Ucap Marvin sambil terkekeh pelan.
"Daddy.. Sprich nicht über die Vergangenheit." Ucap Mario penuh penekanan.
__ADS_1
Marvin tidak menggubris dia senang melihat wajah Mario yang kesal sekaligus memerah antara marah dan juga malu.
"Daddy.." Gumam Hawa dengan bingung.
"Sayang_" Mario tidak jadi melakukan saat tatapan tajam Nathan layangkan. "Maksudnya beliau adalah orang tua kandungku." Ralat Mario.
"Ya, saya papa Mario kandung, sendang kan selama ini Mario dirawat oleh nyonya Jenny dan anaknya." Terang Marvin.
Mereka memang sudah tau kecuali Hawa sendiri.
"Dan sekarang kedatangan Daddy kemari untuk melamar nak Hawa untuk puteraku Mario."
Glek
Hawa menelan ludah, meskipun sudah mendengar dari bibir Mario, tapi saat ini mendengar langsung papanya Mario yang meminta membuat jantung Hawa berdebar kencang.
Ami mengusap lengan putrinya sayang. "Tidak apa-apa, apapun keputusanmu akan kami terima, Mama dan papa merestui kamu." Ucap Ami lembut.
Hawa menatap wajah ibunya yang tersenyum tulus, lalu bergantian menatap Nathan yang sama sekali tidak berekspresi. Hawa mencoba memahami raut wajah papanya tapi Hawa tidak bisa menebak.
"Byy," Panggil Ami dengan lembut.
Nathan yang tadinya enggan menatap wajah Hawa kini beralih menatap wajah putrinya yang begitu dia cintai.
Nathan tersenyum lembut. "Bagi papa kamu princess papa meskipun sampai besar nanti, dan papa tidak akan menghalangi kebahagiaan putri papa meskipun kamu akan meninggalkan kami papa sebenarnya tidak rela." Ucap Nathan dengan perasaan berkecamuk.
Nathan mengehela napas. "Tapi anak sialan itu, sudah membuktikan jika dia pantas mendapatkanmu, dan papa akan tepati janji papa untuk merestui hubungan kalian."
Hawa tersenyum haru. "Papa." Gadis itu memeluk Nathan erat, bagaimana pun papanya adalah cinta pertamanya, pria yang pertama kali mengajarinya berjalan, dan selalu melindunginya agar dirinya tidak jatuh.
Rasanya sesak jika dirinya meninggalkan orang yang dia cintai.
Ami ikut tersenyum, dan mengelus kepala Hawa, dirinya merasa terharu melihat suaminya begitu lapang menyerahkan putrinya yang dia jaga dan sayangi dengan sepenuh jiwanya.
Siapa yang tidak akan sedih melihat putri semata wayangnya yang dia anggap masih kecil ternyata sudah membuat pria seperti Mario berjuang untuk dirinya, bahkan pria itu mengklaim putrinya menjadi miliknya sejak usia 6 tahun.
__ADS_1