My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Aset masa depan


__ADS_3

Nathan memeluk tubuh istrinya yang basah oleh peluh akibat ulahnya tadi, bagaimana bisa mereka bermain kocokan arisan di siang hari.


Nathan terseyum melihat wajah Ami yang begitu seksi, dengan lembut Nathan mengusap keringat dikening Ami.


"Aku rasa setelah ini kamu akan menyukainya sayang." Ucap Nathan dengan ekspresi menyebalkan untuk Ami.


Nathan terseyum. "Bagaimana cukup memuaskan." Nathan menaik turunkan alisnya menggoda Ami.


"Ck kamu nyebelin By." Ami memukul dada Nathan dengan kepalan tangannya.


Nathan menatap dalam wajah cantik Ami yang selalu membuatnya merasa tenang.


"Engh, kenapa malah dipengang." Pekik Nathan ketika tangan Ami berada diaset masa depannya.


"Penasaran By." Ucap Ami sambil nyengir.


Nathan membulatkan matanya. "Mau merasakannya?" Tanyanya dengan wajah berharap.


Jujur dirinya ingin sekali menyentuh Istrinya, tapi dilain sisi Nathan tidak ingin membuat Ami menyesal.


Menyesal karena Ami masih sekolah, Nathan tidak ingin membuat gadis itu sedih.


"Apa boleh?" Tanya Ami dengan wajah polos.


"Kenapa tidak, kita sudah menjadi sepasang suami istri yang sah." jemari Nathan mengelus wajah cantik Istrinya.

__ADS_1


"Bukan itu By, tapi aku masih sekolah." Ucap Ami lirih dengan kepala menunduk.


"Hey." Nathan mengangkat dagu Ami agar menatapnya. "Tidak ada larangan jika masih sekolah tidak boleh melakukan itu." Ucap Nathan mencoba untuk mempengaruhi pikiran Ami. Dirinya sudah merasa tersiksa karena belum memiliki Ami seutuhnya.


Ami mengigit bibir bawahnya, gadis itu nampak berfikir, dirinya juga merasa bersalah karena belum memberikan haknya sebagai seorang Istri dan menjalani kewajibannya melayani sang suami.


"Sudahlah jika tidak bisa juga tidak apa." Ucap Nathan yang mencoba menekan keinginanya demi Ami yang belum bisa memberikan haknya.


Nathan merebahkan tubuhnya di samping sang istri, dirinya memeluk tubuh Ami dagang hangat.


meskipun gejolak dalam tubuhnya belum padam, tapi Nathan mencoba untuk meredamnya.


"By, apa ini sakit." Ucap Ami lirih dengan tangan menyentuh aset masa depan suaminya.


Nathan tidak menjawab melainkan diam menikamati apa yang Istrinya lakukan.


"Engh, jangan menyiksaku sayang."


Nathan membuka matanya menatap wajah Ami dengan sayu.


Ami yang ditatap penuh gairah oleh Nathan, mengigit bibir bawahnya.


"Bagaimana kalu kita coba." Ucap Ami dengan wajah memelas, seperti memohon dan juga penasaran.


"Tapi aku tidak bisa berhenti sayang, jika kamu menyerah."

__ADS_1


Keduanya seperti akan melakukan perlombaan yang sama-sama tidak ingin melukai perasaan.


Ami mengembuskan napas dalam, sebelum mengambil keputusan.


"Tapi janji By, kamu tidak akan meninggalkanku setelah kamu pakai."


Ami menatap Nathan intens, "Kamu pikir mudah untuk meninggalkanmu." Nathan merapatkan tubuhnya pada tubuh Ami.


"Percayalah hanya maut yang bisa memudahkan kita."


Cup


Nathan mengecup bibir Ami dengan lembut, bibir yang sudah membuatnya candu tidak ada yang lainya.


Kali ini dirinya tidak ingin gagal Ami harus menjadi miliknya seutuhnya.


"Byyy." Ami memejamkan mata dengan kepala mendongak, merasakan sentuhan bibir Nathan yang selalu membuatnya melayang.


"Aku mencintaimu Ayana, sangat mencintaimu." Nathan bicara didepan bibir Ami, napas keduanya sudah memburu dengan gairah yang sama-sama ingin melakukan hal lebih.


"Apa boleh?" Tanya Nathan sebelum dirinya benar-benar membuat Ami menjerit dibawahnya.


"Em, Ami mengangguk," Pancaran matanya begitu sayu.


Nathan terseyum, "Aku berjanji akan pelan-pelan."

__ADS_1


Nathan mengecup kening Ami untuk menyakinkan gadis yang akan menjadi wanita seutuhnya untuk Nathan.


"Arrgh By sakit!"


__ADS_2