My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
SEASON 2~Livia alergi


__ADS_3

Hawa yang berbohong akhirnya mengikuti Mike yang membawanya jalan-jalan kesekitar vila.


Vila yang letaknya dekat dengan kebun teh milik penduduk yang tinggal di daerah sana.


Hawa cukup senang menghirup udara pagi yang begitu menyejukkan untuknya, karena jika sudah kembali ke kota, dirinya sudah tidak akan bisa menghirup udara sesejuk ini.


Dari balkon atas, Mario bisa melihat kedua orang yang sedang berjalan beriringan, Hawa dan Mike sedang jalan-jalan.


Mario kembali masuk dirinyanya mengambil laptop yang dia bawa, laptop yang multi fungsi untuknya. Sebagai pengusaha ahli di bidang IT, Mike punya sesuatu yang dia dapatkan.


#Flashback


Nathan menatap Mario dengan kening berkerut. Melihat Mario tiba-tiba membahas putrinya. Meskipun mengetahui sesuatu tapi Nathan berperan pura-pura tidak tahu. "Atas dasar apa kau menyakini jika kamu akan saya restui."


Mario menatap Nathan tegas, tanpa rasa takut apapun.


"Jika Mike pria terbaik untuk Hawa, maka saya akan mundur, tapi jika sebaliknya?" Mario terseyum tipis. "Anda harus merestui saya sebagai menantu."


"Cih, pe-de sekali kau itu." Dengus Nathan kesal.


"Saya rasa anda sudah tahu tuan?" Mario menatap Nathan sambil menyeringai, membuat Nathan semakin kesal dibuatnya.


"Ck, jangan macam-macam kau dengan putriku, seujung kuku pun tidak aku ijinkan kau menyentuhnya." Ancam Nathan dengan serius.


Nathan mengingat foto yang didapatkan anak buahnya, dimana foto itu seolah-olah Mario kan mencium Hawa.


Mario hanya mengangguk saja, toh juga Nathan tidak tahu apa yang dia lakukan pada gadis kecilnya.


"Oh, Tuhan kenapa princess menjadi Ayana remaja." Gumam Nathan yang masih didengar Mario.


"Memiliki suami Om-Om seperti anda." Ucap Mario tanpa rasa takut, jika Nathan akan marah.

__ADS_1


"Kau..!!


Bughh


#Flasback of


"Keberuntungan yang sempurna." Ucap Mario terseyum lebar.


Kali ini tinggal menunggu tanggal mainnya maka, semua akan berakhir.


"Mike, kau bukan tanding ku, meksipun besar dengan keluarga yang sama, tapi kita tetap berbeda." Mario menerawang jauh bagaimana dia besar dikeluarga Julio.


Semua bisa Mario ikuti aturan mereka, dan sekarang Mario hanya ingin menjemput kebahagiaannya yang secara tidak sengaja mereka jauhkan.


"Kak, aku ingin makan bubur." Ucap Hawa yang melihat penjual bubur di pinggi jalan.


Sebuah warung kecil yang menyediakan bubur ayam.


"Tapi kak, aku ingin makan disana." Jawab Hawa yang kekeh.


"Kamu lihatlah tempatnya, belum tentu makanan yang dia jual higenis." Terang Mike, yang sebenarnya menjadi pemicu utama Hawa tidak boleh makan di sana.


"Kak tidak semua makanan tidak higenis, meskipun jual dipinggir jalan." Terang Hawa. "Lihatlah membelinya aja ramai, itu berarti makananya aman." Tunjuk Hawa pada warung kecil itu.


"Terserahlah, wanita memang tidak ada yang mau ngalah." Kesal Mike.


Hawa tersenyum, dan kembali berjalan untuk menuju warung itu, sedangkan Mike mengikuti Hawa dengan wajah kesal.


"Kak Mike mau?" Tanya Hawa sebelum memesan.


"Tidak." Mike menggeleng.

__ADS_1


Hawa mengaguk saja, mungkin Mike tidak terbiasa makan ditempat seperti ini.


"Bu bubur ayamnya satu ya." Ucap Hawa pada penjual ibu-ibu paruh baya.


"Iya neng, tunggu sebentar."


Hawa tersenyum, dan duduk dikursi sebelah Mike yang bermain ponsel.


Hawa mengedarkan pandangannya, dan tanpa sengaja dirinya melihat seseorang yang sedang lari pagi dengan menggunakan topi.


Seketika bibir Hawa tersenyum, ketika melihat pria itu menatapnya dan melambaikan tangan.


"Awa kenapa kamu seperti kena pelet Om Mario sih." Ucap Hawa dalam hati, entah mengapa jika bertemu Mario hatinya merasa berbeda, apalagi jika sudah berdekatan jantungan berdetak lebih cepat.


Tak lama mata Hawa menangkap seseorang kembali, tapi ini adalah seorang wanita yang menuju kearahnya, lebih tepatnya warung penjual bubur.


"Kak Livia." Ucap Hawa tersenyum saat melihat Livia.


Dan Mike yang masih menunduk fokus pada ponselnya pun mengangkat kepalanya.


"Livia." Mike terkejut, melihat Livia tiba-tiba datang. Rahang Mike mengeras saat melihat penampilan Livia yang membuatnya geram.


"Ikut aku." Mike langsung menarik tangan lainnya Livia ketika Livia ingin menyapa mereka.


"Mike, aku ingin beli bubur." Ucap Livia yang diseret Mike paksa menjauh dari Hawa.


"Kak Livia kenapa ya? apa dia alergi kok lehernya merah-merah gitu." Ucap Hawa heran. "Ish, ngeri kali." Hawa bergeridik sendiri.


"Ini neng." Ibu penjual itu memberikan pesanan Hawa.


"Ah, iya Bu terima kasih."

__ADS_1


__ADS_2