My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Waktu untuk sendiri


__ADS_3

Nathan yang melihat Ami menghindar hanya menghela napas dengan tatapan sendu, dirinya sengaja datang lebih pagi hanya untuk melihat gadis itu baik-baik saja. Dan melihat Ami yang masuk sekolah membuat Nathan merasa lega.


Lelah tubuh dan lelah pikiran itulah yang Nathan rasakan sejak kemarin. Hari ini dirinya akan ke kantor untuk menyibukkan pikiranya, sejak semalam dirinya susah memejamkan mata hingga menjelang pagi dan itu membuatnya merasa lelah.


Dan karena sudah melihat Ami yang baik-baik saja, Nathan pun pergi keluar dari sekolah dengan mengendarai mobilnya, meskipun sempat menjadi pusat perhatian oleh para gadis belia Nathan rela menunggu Ami demi melihat gadis itu.


Tersenyum, Nathan melakukan hal konyol demi istri kecilnya yang sudah membuatnya kembali merasakan sesak.


Jika dulu memiliki perasaan pada Sena hanya sepihak, Nathan tidak sekacau ini, meskipun harus pergi dari negaranya, tujuan Nathan hanya untuk memantapkan hatinya, terbukti hanya beberapa saat saja dirinya sudah tak merasakan hal itu lagi. Dan kini Nathan merasakan hal yang membuatnya seperti orang bodoh.


Sepertinya mereka butuh waktu untuk sendiri.


Setelah sampai di kantor Nathan masuk kedalam ruanganya, di atas meja Nathan melihat sebuah kotak hadiah.


"Ck, kurang kerjaan." Ucap Nathan meraih kotak itu dan kembali keluar.


Bugh


"Sin Siapa yang menaruh ini di meja saya." Nathan melempar kotak hadiah itu di atas meja Sinta, membuat Sinta kaget.


"Em_saya tidak tahu pak." Ucap Sinta jujur karena dia memang belum masuk keruangan bosnya.


Ando yang keluar melihat Nathan yang sedang bicara pada Sinta.


"Ada apa bro?" Tanya Ando yang melihat wajah syok Sinta.


"Mulai sekarang jangan ada yang masuk sembarangan tanpa ijin saya, dan lagi jangan boleh siapapun menaruh hadiah di meja saya." Setelah mengatakan itu Nathan pergi tanpa menjawab pertanyaan dari Ando.


"Apa sih." Ando pun meraih kotak itu dan melihat apa isinya.

__ADS_1


"Ck, ada-ada saja yang kirim." Gumam Ando yang melihat sebuah kemeja bermerk didalam kotak itu. "Kamu tahu siapa yang kasih?" Ando melirik Sinta yang hanya geleng kepala.


Ando pun hanya mengangguk dan pergi membawa kotak kado itu.


Nathan kembali masuk dan duduk di kursi kebesarannya, tak lama pintu kembali terbuka Ando ikut masuk.


"Ck, bisa kan ketuk pintu dulu sebelum masuk." Ketus Nathan menatap Ando kesal. Dirinya benar sedang dalam mood buruk.


"Lah, pake nyalahin gak ketuk pintu, biasanya juga gitu." Ando menatap bos-nya dan duduk didepan Nathan.


"Ck, pergi gih kalau cuma ganggu." Usir Nathan dengan kesal.


"Ya ampun, lu kayak suami yang gak dapet jatah Nat, sumpah." Ando geleng kepala melihat Nathan yang hari ini sensian.


Nathan hanya diam, memilih sibuk pada pekerjaannya.


"Sepertinya ada penggemar yang kirim lu hadiah." Ando terseyum licik, dia membuka kertas yang berada di dalam kotak itu.


"Hahaha tampan si, tapi sayang sukanya anak kecil." Ucap Ando meledek Nathan yang menatap tajam.


"Sial." Nathan melempar berkas pada Ando membuat Ando semakin tertawa kencang.


"Gue saranin lu hati-hati banyak pelakor yang bertebaran di mana-mana, dan gue rasa meskipun lu di embat pelakor istri lu kagak bakalan kehilangan lu." Setelah mengatakan itu Ando memilih pergi sebelum macan garang itu mengamuk lebih mengerikan.


"Asisten Sialan..!!" Dan benar saja Nathan melempar kembali berkas untuk Ando, beruntung pria itu sudah gesit keluar ruangan.


.


.

__ADS_1


Ami selesai mengerjakan soal pelajaran pertama, dirinya bernapas lega. Untung tadi malam Olive mengingatkannya untuk belajar sebentar, dan ternayata Olive benar, kalau saja dirinya tidak belajar pasti kesulitan untuk soal hari ini.


"Mi, gimana gampang." Tanya Olive yang menoleh kebelakang melihat sahabatnya itu.


"Sippp, rebes." Balas Ami dengan mengacung kan jempolnya.


Masih ada satu Maya pelajaran lagi yang harus mereka selesaikan, sebelum kembali pulang.


Dan niat Ami akan pulang ke apartemen Nathan untuk mengambil seragam sekolah dan buku pelajaran, Ami masih ingin menjaga jarak.


Dan Olive bersedia untuk menemani sahabatnya pulang ke apartemen, karena Olive pemasaran dengan tempat tinggal Ami setelah menikah.


Dug.


"Auwss.." Ami meringis ketika kepalanya terkena bola basket, dirinya tidak melihat jiga ada bola yang meluncur mendekatinya.


"Ay, kamu tidak apa-apa." Zian menghampiri Ami yang mengusap kepalanya.


"Sakit." tanya Zian lagi sambil ikut mengelus kepala Ami.


"Maaf aku tidak sengaja." Zian merasa bersalah.


"Bolanya aja yang tidak tahu aturan, pake nampol kepala gue segala."


Zian malah tersenyum. "Mana ada bola pake aturan, yang ada pemainnya yang pake aturan." Zian geleng-geleng kepala, mendengar getutuan Ami.


Rencananya Zian akan mengutarakan perasaannya setelah ujian sekolah selesai, Zian rasa dia benar-benar menyukainya gadis didepanya ini.


"Ya.. itu maksud gue." Balas Ami dengan terseyum.

__ADS_1


"Yaudah dimaafin gak ini." Tanya Zian yang sudah mengulurkan tangannya, disekitar mereka juga banyak murid yang lain bahkan Nesya ikut melihat keakraban keduanya yang membuatnya mengepalkan kedua tangannya.


"Oke..dimaafkan mazehh."


__ADS_2