
"Dy, tumben kamu tidak ke rumah sakit?" Tanya Tuan Mahendra yang baru saja pulang dari kantor dan melihat putrinya itu duduk didepan televisi dengan cemilan ditangannya.
"Nanti malam lah, jadwal Maudy." Jawabnya tersenyum tipis.
Maudy menikamati kegiatan santainya, dan dia menunggu ada berita yang menayangkan istri dari pengusaha sukses muda yang meninggal karena keracunan makanan.
Tuan Mahendra hanya mengaguk, beliau ikut duduk disamping putrinya. "Apa kamu tidak ingin menikah." Tiba-tiba tuan Mahendra bertanya.
Isterinya nyonya Mayang datang dengan membawa secangkir teh untuk sang suami yang baru saja pulang dari kantor.
"Iya sayang, apa kamu tidak mau menerima lamaran Niko?" Tanya Nyonya Mayang yang sudah ikut duduk disamping suaminya.
"Ck, kalian kenapa sih, aku belum mau menikah." Ketus Maudy kesal.
Setelah batalnya tunangan Maudy dan Nathan waktu itu, Niko pria yang memang menyukai Maudy sejak Meraka bekerja di rumah sakit yang sama, dan Niko mulai menaruh hati pada Maudy, tapi Maudy selalu menghindar jika Niko berusaha mendekatinya. Karena Maudy hanya ingin Nathan yang menjadi miliknya.
"Tapi usia kamu sudah tak lagi muda nak, Niko pria baik dan mapan, kamu ingin mencari yang seperti apa lagi." Nyonya Mayang ingin putrinya segera mendapat pendamping karena usia Maudy sudah matang sebagai perempuan.
Maudy memutar kedua bola matanya malas. "Mama Maudy hanya ingin menikah dengan Nathan titik." Kekehnya dengan tegas.
Nyonya Mayang menatap suaminya yang memijat keningnya. "Apa kamu tidak tahu jika pria itu sudah menolak mu dan memper_"
Ting..Tong..Ting...tong..
Bel pintu rumah berbunyi nyaring, membuat ucapan tuan Mahendra terpotong.
Pelayan disana segera membukakan pintu untuk tamunya.
__ADS_1
"Selamat sore, kami ingin bertemu dengan nona Maudy Mahendra, apa ada dirumah." Tanya pria yang berseragam polisi lengkap ditemani dengan seorang wanita polwan.
"A-ada pak." pelayan itu sedikit gugup.
"Siapa mbak?" Tanya Tuan Mahendra dari dalam yang sudah mendekati pintu, diikuti Istri dan anaknya.
"A-anu tuan." Pelayan itu belum menjawab dan lebih menyingkir.
"Ada apa pak?" tanya tuan Mahendra terkejut melihat ada polisi dirumahnya.
"Selamat sore pak, kami dari kepolisian ingin menangkap putri anda, ini surat penangkapannya." Polisi itu memberikan surat ijin penangkapan atas nama Maudy Mahendra.
"Maudy." Tuan Mahendra menatap tajam Maudy yang terdiam kaku.
"Nak, apa yang kamu lakukan." Nyonya Mayang sudah panik, sedangkan tuan Mahendra sudah tidak bisa berkata-kata lagi.
Surat itu jelas berisi jika putrinya terlibat dalam pembunuhan dengan menaruh racun di dalam makanan.
"Lebih, baik anda ikut kami dan jelaskan dikantor polisi." Maudy dipaksa masuk kedalam mobil yang akan membawanya ke kantor polisi. Nyonya Mayang sudah syok dan tak sadarkan diri.
.
.
Nathan mengekori istrinya kemanapun pergi, sejak pulang dari rumah sakit Ami mendiamkan Nathan tanpa mau bicara.
Nathan sudah frustasi menghadapi istirnya yang sedang merajuk, apalagi bawaan ibu hamil sengatlah mengerikan.
__ADS_1
"Sayang, jangan makan banyak begitu, belum nasi." Nathan sejak tadi kahawatir melihat Ami yang hampir menghabiskan rujak dan petis buah yang tadi mereka beli.
Bukan apa-apa, Nathan hanya takut jika istrinya sakit perut, dan kasihan dengan calon bayinya.
Ami masih asik makan dengan duduk didepan televisi, bahkan seragam sekolahnya belum dilepas.
"Ay, kamu dengar gak sih aku ngomong." Tegas Nathan yang sudah kesal karena omongannya tidak didengar. "Setidaknya kamu jaga anak aku yang ada di rahim kamu, dan jangan seenaknya makan berlebihan, kamu tidak tahu bisa saja membahayakan makanan yang kamu makan itu." Lanjut Nathan dengan menatap istrinya yang berhenti mengunyah.
Ami menatap Nathan kesal. "Jadi kamu pikir aku akan mencelakai bayiku sendiri, dan ingat dia anak aku juga, bukan hanya anak kamu..!!" Setelah mengatakan itu, Ami berjalan menuju dapur, membuang sisa makanan yang dia beli ke dalam kotak sampah dengan kesal Ami melemparnya.
Brak
Ami menutup pintu kamar dan menguncinya dari dalam, bukan kamar Nathan tapi kamar lamanya yang di tinggali pertama kali datang keaparteman.
"Ay..buka pintunya.." Nathan mengetuk pintu kamar yang dikunci dari dalam. "Ay, aku minta maaf. Buka pintunya sayang." Nathan terus membujuk Ami agar membuka pintu, dirinya terlalu kesal hingga berkata seperti itu, Nathan tidak ingin terjadi sesuatu dengan bayinya.
"Ay, buka ay." Nathan terus mengetuk hingga deringan ponselnya menghentikan aktifitasnya.
"Ke kantor polisi Nat, gue tunggu." Ucap Ando dari seberang sana.
"Oke.."
Setelah itu Nathan bergegas mencari kunci mobilnya, bicara dengan Ami bisa nanti. Setelah pulang dari kantor polisi.
Ami yang kesal dan jengkel lebih memilih merendam tumbuhnya di dalam bathtub, tidak peduli jika suaminya mengetuk pintu memanggil dirinya.
Kesal dan marah tentu saja, Ami cemburu ketika suaminya digoda dan hanya diam saja, apalagi tidak mau menjawab jika dia adalah istrinya, dan bukan keponakanya.
__ADS_1
Karena kesal Ami sampai mendiamkan Nathan, dan ditambah perkataan Nathan yang terkesan membentaknya membuat Ami kian dongkol.
"Jangan harap dapet jatah malam ini."