
Mario menepuk pucuk kepala Hawa, saat gadis itu diam mematung mendengar ucapannya.
"Kenapa? kamu tidak mau aku lamar?" Tanya Mario dengan menatap Hawa sekilas.
Mobilnya membelah jalan yang hampir sore, jalanan sedikit ramai karena para pekerja kantor sudah membubarkan diri.
Hawa menggeleng, tapi kemudian mengangguk, gadis itu bingung ingin menjawab apa.
Mario yang melihatnya terkekeh. "Tidak usah dipikirkan cukup kamu tinggu saja." Ucap Mario ambigu membuat Hawa menatap Mario bingung.
"Tunggu apa Om?" Tanya Hawa dengan penasaran.
"Tunggu Om halallin kamu." Eyaa..eya...eya..
Mario mulai modus, membuat pipi Hawa langsung merona malu sekaligus salting.
"Ish, Om modus." Gumam Hawa menahan senyum.
Mario tertawa, tangannya menyentuh tangan Hawa untuk dia genggam.
"Aku tidak modus sayang, hanya saja ingin serius." Ucap Mario dengan santai tapi memiliki arti yang serius.
Entah kenapa hati Hawa berdebar saat mendengar Mario memanggilnya sayang, berbeda dengan Mike yang memanggilnya, terasa biasa saja.
"Jadi mereka sudah lama bertemu." Ucap Nathan pada dua orang pria yang duduk didepannya.
"Tiga tahun lalu mereka pernah bertemu, dan pria itu kembali ke Indonesia hanya untuk menemui nona muda." Jelas pria yang berpakaiannya serba hitam itu.
Nathan menatap foto-foto yang berada ditangannya, dan foto terakhir membuatnya kesal.
"Berani sekali dia menyentuh putriku." Kesalnya dengan marah.
Foto itu memperlihatkan Mario yang seperti mencium pipi Hawa, dan yang sebenarnya Mario hanya berbisik pada Hawa saat di bioskop pertama kali mereka bertemu.
Jika yang menagmbil gambar dari samping maka foto itu terlihat jika Mario sedang mencium Hawa ditempat umum. Jadi yang menagmbil gambar mereka saat di bioskop adalah orang suruhan Nathan.
"Lalu bagaimana dengan Mike." Tanya Nathan pada pria satunya, yang mengenakan pakaian yang sama.
"Sepetinya besok mereka akan pergi berlibur kepuncak, dan tuan Mike mengajak nona muda." Ujar pria yang memberi laporan.
Nathan mengembuskan napas kasar. "Awasi terus pria itu, jangan sampai lengah dan menyakiti putriku." Ucap Nathan pada keduanya.
"Baik tuan."
Nathan mengangguk dan meyeuruh kedua pria itu pergi.
"Jika kamu tahu foto ini Ay, pasti kamu akan pingsan." Gumam Nathan mengingat Istrinya.
__ADS_1
Jika bersama Mario, kisah cintanya terulang kembali, dan Nathan seperti bernostalgia saat dirinya muda dulu.
.
.
"Yak belum buka." Hawa manatap pasar malam yang belum buka, para pekerja dan penjual masih menyiapkan dagangan dan juga menyiapkan lahan permainan ataupun berapa pertujukan yang akan mereka mainkan untuk mendapatkan uang.
Mario berdiri disamping Hawa dengan kedua tangan yang berada didalam sakunya.
"Ini masih sore Hawa, tidak ada pasar malam yang bukanya sore." Ucap Mario menjelaskan.
Bukannya menghibur Hawa, Mario justru membuat wajah Hawa semakin ditekuk.
"Tapikan Hawa jarang kesini Om, Malah tidak pernah." Tuturnya dengan wajah yang masih masam.
"Kenapa tidak pernah, apa Adam tindak pernah mengajakmu." Tanya Mario.
"Mana mau, yang ada kak Adam selalu sibuk dikantor sama papa." Ucap Hawa bercerita.
Mario hanya mengangguk, Adam Malik Adhitama seorang anak keturunan keluarga terpandang dan kaya, pantas saja diusianya yang masih remaja Adam sudah terjun di dunia bisnis. Karena seorang Adam adalah pewaris utama Adhitama Grub.
"Mike? apa dia tidak_"
"Tidak, bahkan kak Mike juga tidak ada waktu." Ucap Hawa lebih cepat. "Kak Mike juga sedang sibuk dengan urusannya, tapi akhir-akhir ini ada yang berbeda." Ucap Hawa menatap Mario.
"Berubah lebih manis, tidak galak dan marah-marah lagi." Ucap Hawa.
Mario hanya menghela napas, dirinya mulai tahu jika Mike pasti akan melakukan sesuatu setelah kejadian itu.
Drt..Drt..
Ponsel Mario bergetar, melihat nama Fabio membuat Mario mengangkat panggilanya.
"Ya Fabio." Tanya Mario dengan menatap lurus kedepan, mendengarkan Fabio yang bicara dari seberang sana.
Hawa hanya memeperhatikan wajah Mario yang nampak serius mendengarkan panggilan telepon.
"Apa aku harus kembali?" Tanya Mario sambil menatap wajah Hawa yang juga menatapnya.
"Baiklah, besok aku akan kembali ke Swiss."
Hawa menelan ludah kasar, dan kenapa mendengar Mario ingin pergi tiba-tiba hatinya merasa tidak rela.
Mario kembali memasukkan ponselnya setelah panggilnya berakhir.
"Jadi Om mau pulang ke Swiss lagi." Tanya Hawa dengan wajah sendu.
__ADS_1
"Ya, Bisnisku disana membutuhkan ku, aku sudah terlalu lama meninggalkannya." Jawab Mario sambil tersenyum, tapi entah mengapa hatinya merasa tidak rela meninggalkan Hawa.
Hawa menunduk kedua tangannya mencekram besi pagar pembatas pasar malam, dadanya tiba-tiba merasa sesak mendengar Mario ingin pergi.
"Hey, kenapa diam." Mario menyentuh pipi Hawa, membuat gambar gadis itu mendongak.
"Tidak apa-apa." Jawab Hawa dengan sebiasa mungkin.
"Tidak apa-apa, tapi wajahmu terlihat sedih? apa karena aku akan pergi?" entah dapat kepercayaan dari mana sehingga Mario melontarkan pertanyaan itu. Seakan dirinya begitu berarti untuk Hawa.
"Em, tidak tahu juga." Hawa mengehela napas. "Tapi mendengar Om akan pergi entah kenapa tiba-tiba perasaanku tidak rela jika Om akan kembali ke Swiss." Ucap Hawa jujur.
Mario mengembangkan senyum, ucapan Hawa bagaikan simbol lampu hijau untuk perasanannya.
"Apa jika aku tinggal kau akan senang?" Tanya Mario dengan letupan didalam dada yang membuncah.
"Apa bisa Om tetap tinggal?" Hawa balik bertanya, membuat senyum Mario semakin lebar.
Tut...
"Halo Fabio." Ucap Mario setelah panggilanya terhubung.
"Aku tidak bisa kembali cepat, gadis kecilku tidak mengijinkanku pergi." Mario melirik Hawa yang membulatkan kedua mata, melihat itu Mario langsung merangkul bahu Hawa.
"Aku serahkan pekerjaan ku untukmu, dan ingat jangan menyuruhku pulang lagi, karena aku tidak ingin membuat gadisku sedih dan merajuk.
Buhg
"Auwss sakit sayang." Mario mengaduh bohong, ketika Hawa menyiikut perutnya.
Sedangkan Fabio di belahan bumi yang berbeda, tengah mengumpati Mario yang tidak bisa pulang, lantaran gadisnya merajuk.
"Sukurin, lagian Om kalau ngomong suka asal." Ucap Hawa dengan wajah ditekuk, menurut Mario sangat menggemaskan.
"Demi kamu, aku rela kehilangan ribuan dolar hanya untuk tetap tinggal."
Hawa tersipu malu, bibirnya tersenyum mendengar ucapan Mario.
"Demi kamu Hawa, dan jangan kecewakan aku." Mario mencium pucuk kepala Hawa, dan memeluknya dari belakang.
Tanpa diduga, keduanya sudah terikat memiliki perasaan yang sama, hanya saja bairkan takdir hidup yang melangkah kemana cinta mereka akan berhenti berlabuh.
"Em, tidak tahu. Karena Hawa tidak tahu ingin melakukan apa?" Jawab Hawa yang menoleh kebelakang untuk melihat wajah Mario.
Keduanya seperti sepasang kekasih yang dimabuk cinta, padahal status keduanya entah seperti apa. Hanya rasa saling nyaman yang mendominasi keduanya.
"Cukup percaya padaku, dan yakinlah jika aku benar-benar mencintaimu."
__ADS_1
Pemandangan sore adalah pemandangan terindah untuk mereka berdua, kalimat demi kalimat yang Mario ucapkan semakin membuat hati seorang Hawa berbunga-bunga.