My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Dasar Om-Om


__ADS_3

"Hati-hati, nanti aku jemput saat jam makan siang." Ucap Nathan terseyum.


Keduanya masih duduk didalam mobil, Nathan mengantar Ami keyayasan. Setiap pagi Ami memang meminta diantar keyayasan dan akan pulang saat Nathan menjemputnya dijam makan siang, sudah sejak satu bulan lalu dirinya rutin mendatangai yayasan hanya untuk menghilangkan kebosanan dan bermain dengan anak-anak disana.


"Iya By," Ami terseyum, dan mengulurkan tangannya, membuat Nathan ikut mengulurkan tangannya, Ami mencium punggung tangan Nathan, kemudian pria itu mendaratkan kecupan kening, pipi dan bibir sebentar melumattnya.


"Em, sudah." Ucap Ami ketika Nathan ingin memperdalam cumbuannya.


"Kamu pelit sayang." Kesal Nathan dengan mengusap sudut bibir Ami yang basah menggunakan jemarinya.


"Bukan pelit, tapi kamunya lupa tempat." Ami membalas kekesalan Nathan.


Nathan mencebik, "Dasar bumil nyebelin." Ucap Nathan dengan meledek.


"Ck, Dasar Om-Om mesum." Ami mendelik dan keluar dari dalam mobil, melambaikan tangannya dan segera masuk ke dalam, ketika mobil Nathan juga melesat pergi.


"Pagi Mii.." Nesya tersenyum, melihat Ami yaang baru saja datang.


"Hay Nes." Keduanya berpelukan seperti biasa, cium pipi kiri dan kanan.


"Aku masakin makanan yang kamu minta." Ucap Nesya tersenyum senang.


Gadis yang dulu suka membulli Ami dan murid lain itu kini menjadi baik dan ramah. Apalagi Nesya juga sudah banyak berubah dari sifat dan juga perangainya, membuat Ami senang.


"Wahhh,, asik sayang kita makan masakan Tante Nesya lagi." Wajah Ami berbinar tanganya mengusap perutnya.


"Iya dong, buat calon keponakan twins." Nesya tertawa begitupun juga Ami.


Kehidupan Nesya sekarang lebih baik sejak tinggal diyayasan milik Ami, selain bisa membatu mengajar dan mengurus yang lain, Nesya juga begitu senang dan bahagia melihat putra kecilnya yang mendapat kehidupan yang layak, bahkan penghuni yayasan sangat menyayangi putranya itu.

__ADS_1


Terlebih Azam, Nama putra Nesya itu begitu lucu dan menggemaskan, bayi sepuluh bulan itu sudah aktif dengan gerakannya yang bisa merangkak.


"Hay, Azam ganteng." Ami tertawa melihat Azam ketika mendengar suaranya langsung merangkak cepat kearahnya, Azam juga sangat dekat dengan Ami sehingga bayi sepuluh bulan itu begitu gembira melihat kedatangan Mama Ami.


Nesya mengajarkan memanggil Ami Mama, karena Nesya menyebut dirinya Mimi.


"Wah, anak Mama udah jago balap ini." Indira duduk di sofa dengan Azam yang berdiri diantara kedua kakinya, peregangan pada kedua tangan Ami. Ami memang tidak bisa menggendong Azam, lantaran dirinya yang sedang hamil bayi kembar, membuatnya sedikit kesusahan.


"Iya dong Mah, kan Azam udah makin gede." Jawab Nesya dengan menurunkan suara anak kecil.


Azam tertawa ketika Ami menggelitik perut Azam.


Kehamilannya membuatnya sedikit melakukan pergerakan, Ami akan gampang lelah, dan merasakan punggungnya pegal-pegal.


"Mama makan dulu gih, ayo Azam sama Mimi." Nesya meraih putrinya untuk Ia gendong, bayi menggemaskan itu hanya celoteh menggunakan bahasa planet bayi.


"Kita makan bareng Nes." Ucap indira pada Nesya yang mengajak putranya bermain, mobil-mobilan.


"Ayo kita makan sama Mama." Nesya memegangi satu tangan Azam untuk berpegangan, agar Azam terlatih berjalan.


Ruangan pribadi Ami penuh tawa bayi kecil itu dengan segala tingkahnya, dan Ami berharap kelak anak-anaknya juga akan bahagia.


Dikantor Nathan sedang berkutat dengan laptopnya, pekerjaan setiap hari tidak pernah berkurang, tapi pria yang sudah menikah dan akan menjadi seorang ayah itu tetap memprioritaskan Istrinya, jika sebelahnya Nathan pulang saat matahari sudah tenggelam, lain halnya dengan sekarang, pria itu akan pulang sebelum pukul enam sore, dan Nathan akan meninggalkan pekerjaannya ataupun membatalkan pertemuan dengan klien jika sampai memakan waktu lewat dari jam enam, dan Nathan mulai menerapkan semua saat kehamilan Ami berjalan tiga bulan.


Brak


Ando membuka pintu ruangan Nathan tanpa permisi membuat Nathan mendelik tajam.


"Santai bos, pintunya masih aman kok." Ucap Ando dengan gaya menyebalkan untuk Nathan.

__ADS_1


"Nat gue mau ambil cuti." Ucapnya ketika sudah duduk didepan meja Nathan.


Nathan yang masih fokus pada pekerjaanya, mendongak, menatap Ando instens.


"Gue udah lama ngak ambil cuti, gue mau cuti seminggu, dan gue ngak terima penolakan." Ucap Ando dengan nada penekanan. Wajahnya dibuat menyebalkan agar Nathan kesal dan memberinya ijin, jika wajahnya menampilkan memelas, Nathan malah akan mengejeknya. Aneh bukan.


Nathan berpikir sejenak, pantas saja selama beberapa minggu kebelakang Ando terus lembur hingga malam, dan Nathan baru tahu ternyata ada maksud dibalik itu semua. Nathan termasuk kagum dengan sahabatnya itu, dia menyelesaikan tanggung jawabnya lebih dulu sebelum meninggalkannya.


"Gue juga udah atur jadwal metting lu selama seminggu kedepan, jadi tidak usah khawatir." Lanjut Ando mejelaskan.


Nathan mengaguk, tidak asa alasan untuk menolak permintaan Ando, toh sudah lebih dari dua tahun Ando tidak mengambil cutinya.


"Oke, gue beri lu cuti."


Ando terseyum lebar, dengan wajah bahagia.


.


.


.


Yang mau silahturahmi sama Nathan, author kasih alamatnya Ig_nih 😂


.


Rafael Miller ( Nathan Adhitama) 🥰


.

__ADS_1



__ADS_2