
Ando tersenyum menyeringai, Ternyata apa yang dikatakan Nathan benar. Dalang dibalik semua adalah Maudy.
"Terima kasih pak atas bantuannya, dan rekaman cctv ini akan menjadi bukti yang kuat untuk kami." Ando menyalami manager restoran itu, sedangkan pria yang menerima suapan dari Maudy resiko dipecat.
Ando akan membawa pria itu sebagai saksi untuk kasus Maudy yang akan di proses hukum. Karena kejadian keracuan makanan yang korbannya adalah Loli sudah masuk laporan ke pihak berwajib. Dan barang bukti yang Ando bawa untuk berjaga-jaga jika Maudy mengelak.
Maudy putri dari kalangan orang berada, tuan Mahendra juga memiliki nama di dunia bisnis dan Maudy sendiri adalah seorang dokter, tapi sifat Maudy jauh dari kata berwibawa.
"Kak, apa wanita itu sudah gila mau meracuni orang." Heran Olive yang memang tidak tahu siapa Maudy dan ada hubungan apa dengan suami sahabatnya itu dulu. "Dokter kok otaknya pembunuh." Kesal Olive yang masih mengingat Vidio cctv tadi, jika Maudy memeberikan uang dan bungkusan kecil pada salah satu pegawai di sana.
"Kamu belum merasakan bagaimana sakit hati dicampakkan oleh orang yang kita cintai, dan itulah yang dirasakan Maudy, hingga dia berambisi dan egois melakukan cara apapun untuk mendapatkan apa yang dia pikir harus menjadi miliknya. Contohnya Nathan." Ando menoleh pada Olive sebentar.
"Tapi kan cinta gak bisa dipaksakan, lagian wanita itu cantik dan berpendidikan terus ngapain coba masih mengharapkan suami orang. Mau jadi pelakor." Kesal Olive lagi, membuat Ando mengehela napas.
Bocil disebelah sepetinya masih terlalu polos.
"Sudah ngapain bahas dia." Ketus Ando yang malas mendengarkan ocehan Olive.
"Dih, aku kan cuma tanya, kok kakak yang sewot." Olive mencebik.
Ando hanya diam, dirinya enggan meladeni bocah gadis disampingnya. Karena jika di teruskan pasti hanya membuat kepalanya sakit.
.
.
"By, kamu tidak kembali ke kantor." Tanya Ami yang duduk disamping suaminya.
Loli dirawat diruangan VVIP, dan sejak tadi gadis itu belum sadarkan diri karena efek obat yang diberikan dokter.
"Kita tunggu dia sadar dan kedua orang tuanya datang, setelah itu kita pulang." Nathan mengusap kepala sang Istri.
"Apa hari ini dia rewel." Ucap Nathan dengan tangan mengelus perut Istrinya dari balik baju.
"Tidak, tapi_"
Ceklek
Pintu ruangan terbuka dan terlihat dua orang paru baya masuk.
"Loli, kenapa kamu bisa seperti ini nak." Ibu Loli langsung menangis tersedu, melihat putrinya terbaring dirumah sakit.
Papa Loli mengusap punggung Istrinya untuk menenangkan. "Sabar Ma."
"Pak." Ami mendekati kedua orang tua Loli.
Nathan berdiri disamping Istrinya. "Maaf, boleh saya bicara sebentar diluar."
__ADS_1
Papa Loli hanya mengangguk. Mereka keluar untuk berbicara sedangkan Ami menunggu didalam.
Tak lama mata Loli terbuka, gadis itu sadar. "Loli.." Ibu Loli langsung mencium dan memeluk putrinya.
"Mah." Suara Loli yang parau.
Ami terseyum dengan mata berkaca-kaca. Temanya sudah sadar.
"Mi.." Loli menatap Ami yang hanya diam berdiri.
"Maaf Lol, gara-gara aku kamu menjadi seperti ini." Ucap Ami yang masih merasa bersalah, andai saja bukan Loli pasti dirinya kehilangan bayinya.
Loli tersenyum tipis, "Tidak apa, ini hanya kecelakaan."
Ami terharu, teman Nesya yang dulu membulinya kini berubah begitu baik.
"Maaf Lol," Ami memeluk Loli.
"Tidak apa, kita sekarang sahabat." Loli berkata tulus dan mengusap punggung Ami.
Setelah berbincang Nathan mengajak Ami pulang, dirinya tidak mau jika ibu dari anaknya kelelahan dan berdampak pada janinnya.
Nathan menegdarai mobilnya sendiri, Ando sudah memberi kabar dan Nathan merasa puas jika ada bukti yang akurat untuk menjebloskan Maudy ke dalam jeruji besi.
"By, apa pelakunya sudah tertangkap?" Tanya Ami yang memang belum tahu siapa dalang dibalik keracunan yang menimpa temanya.
Ami hanya menggaguk dan terseyum, dirinya tidak habis fikir, siapa orang yang tega berbuat jahat seperti itu padanya, jika dipikir Ami tidak memiliki musuh.
Hening, keduanya asik dengan pikiran masing-masing.
Krukk..krukk...
Nathan dan Ami saling menoleh, bunyi dalam perut membuyarkan lamunan mereka.
Ami menyengir. "Maaf, cacing ku belum diberi makan." ucapnya dengan pelan.
Nathan membulatkan kedua matanya. "Kamu belum makan." Ami menggeleng.
"Sayang, kamu tahu kan jika dalam perut kamu ada anak kita yang harus diberi makan, kalau kamu tidak makan, anak kita pasti kelaparan dan nanti dia tidak akan cepat tum_"
"Stoopp By." Potong Ami yang mendengar Nathan terus menyerocos.
"Berhenti di depan sana." tidak Ami dengan kesal. Nathan melihat tempat yang Istrinya tunjuk.
Karena tidak ingin membuat mood ibu hamil buruk, Nathan mengikuti apa kata Istrinya.
"Sayang kamu belum makan." ucap Nathan lagi yang menghampiri Ami sedang mengantri.
__ADS_1
"Ssstt, beringsik."
Bagaimana Nathan tidak kesal, jika istrinya belum makan malah mengajak ke penjual rujak dan petis, jelas membuat Nathan frustasi.
"Pak mau rujak dan petisnya lengkap yah, dan sedikit pedas." Ucap Ami dengan berbinar, hidungnya yang mencium bau mangga muda sudah membuat air liur dalam mulutnya ingin menetes.
"Ditunggu neng."
Ami mengaguk mantap. Dia tetap berdiri di sana tanpa perduli suaminya yang menunggunya di kursi.
"Sayang, apa kamu tidak mau duduk." Ucap Nathan yang merasa risih menjadi pusat perhatian sendiri ketika duduk.
"Sebentar lagi By." Ami tidak melihat kearah suaminya, fokusnya hanya melihat bagaimana buah itu cepat jadi dan masuk dalam perutnya.
"Loh, itu Istrinya apa pacarnya mas?" Tanya wanita yang duduk tidak jauh dari Nathan, sejak tadi wanita itu memperhatikan Nathan.
"Adiknya kalik, masa iya Istrinya masih pakai seragam sekolah." Jawab Wanita lain disana.
Mereka bicara kasak kusuk karena gadis yang mengantri itu masih memakai seragam sekolah, sedangkan Nathan pria dewasa yang mempesona.
"Dia_" Nathan ingin menjawab, tapi Ami sudah berdiri didepannya.
"Om, minta uang." Ucapnya ketus dengan menyodorkan tangannya.
Kening Nathan mengernyit mendengar panggilan Ami. "Buruan aku mau bayar." kesalnya lagi karena Nathan lama.
Nathan mengeluarkan uang kertas dari dompetnya. "Lama." sarkas Ami yang langsung pergi untuk membayar.
"Tuh kan, keponakanya. panggilanya saja Om." Ucap wanita tadi dengan senyum lebar.
Nathan hanya garuk kepala.
"Boleh kenalan mas." Wanita tadi mendekat, cukup cantik dengan wajahnya yang putih bersih.
Nathan menelan ludah kasar melihat wanita itu mengedipkan matanya dan membusungkan dadanya.
"Kenalin namaku Ririn, janda kembang baru tiga bulan." Ucap wanita itu dengan gaya sensual.
Nathan semakin bergeridik negeri melihatnya.
Melihat tingkah wanita itu, Nathan sampai lupa jika Istrinya sudah meninggalkannya masuk kedalam mobil.
"Dasar janda gatel."
Tinnn.....tinnnnn...tinnnn..
Suara klakson mobil yang Ami bunyikan membuat semua orang disana kaget, tak terkecuali Nathan sampai menutup kupingnya.
__ADS_1
"Bencana.." Nathan segera berlari untuk masuk kedalam mobilnya.