My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Uang sogok


__ADS_3

Libur panjang telah usai, Ami dan Olive kembali ke sekolah dengan suasan baru dankelas baru, mereka begitu senang karena tidak tinggal kelas, dan Olive kembali mendapat peringkat satu sedangkan Ami peringkat tujuh. Ami memang tidak sepintar Olive, tapi setidaknya dia tidak pernah mendapatkan nilai jelek.


Semua sudah berbeda, kakak kelas meraka sudah selesai mengabdi disekolah Pertiwi, dan kini datanglah siswa/siswi baru di sekolah mereka yang siap untuk menimba ilmu selama tiga tahun.


Ami dan Olive berjalan di lorong sekolah menuju kantin, didepan mading pengumuman sekolah begitu ramai Olive dan Ami yang penasaran pun mendekati kerumunan para siswa/i itu.


"Dih, gue kira dia bukan gadis seperti itu." Ucap siswi yang melihat Olive dan Ami melewatinya.


Ami melirik siswi itu dengan kening berkerut.


"Mereka ngomongin apa sih." Ucap Olive yang langsung menerobos kerumunan itu, karena tumbuhnya yang berisi jadi dengan mudah Olive mencari celah.


"OMG, ini." Olive menutup mulutnya, dengan mata melotot.


"Apaan sih." Ami ikut bergeser kedepan dan ketika sampai di belakang Olive matanya ikut membola.


"Sekarang udah gak miskin dong ya, udah tajir apalagi gebetannya bukan Om-Om sembarangan."


"Iya, dih taunya dia suka deketin pria tua yang tajir, kasihan kak Zian dong."


"Iyuuhh, kalau gue sih udah malu gak punya muka di sekolah." Masih banyak hinaan dan kata-kata yang tidak pantas mereka ucapkan. Ami merampas semua foto-foto yang tertempel di mading dengan marah.


"Si jal*ng sok malu, padahal suhu."

__ADS_1


"Ngomong apa loe.!!" Ami mendorong dada siswi lain yang mengatainya jal*ng. "Tau apa lo tentang hidup gue hah..!!" Karena kesal dan marah dikatai jal*ng Ami sampai mendorong terus tubuh siswi itu hingga jatuh ke lantai.


"Mi, udah Mi. Nanti kena masalah." Olive mencoba untuk membuat sahabatnya tenang.


Ami menatap tajam siswi yang baru saja berdiri dibantu temanya. "Lo inget baik-baik, gue bukan seperti apa yang kalian lihat, jangan sampai kalian menyesal setelah ini." Setelah mengatakan itu Ami pergi dengan amarahnya.


Semua siswa/i yang disana bersorak meneriaki Ami yang pergi dengan Olive.


"Sialan..! siapa yang udah nyebarin foto-foto ini." Ami meremas kuat kertas foto yang ada ditangannya.


Fotonya dengan Nathan yang tersebar di sekolah, jika hanya foto Ami tidak akan semarah ini, tapi kata-kata mereka yang tentu saja tidak bener membuatnya marah dan emosi.


"Hay, bi*ch." Nesya dan Loli menghadang langkah Ami dengan tatapan remeh. "Bagaimana hari pertama masuk, senang." Nesya memutari tubuh Ami dengan tatapan jijik. "Ck, ternayata lo hal*ng berkedok Cinderella." Nesya tertawa sinis.


"Huh, gue kira selera pak Nathan bukan cewek miskin kayak Lo, tapi_ "Nesya melirik Ami dari atas sampai bawah. "Ternayata lo..!" Nesya menujuk wajah Ami. "Selera lo yang ketinggian."


Nesya dan Loli tertawa, mereka begitu senang mendapat celah keburukan rivalnya, apalagi dengan bukti foto-foto yang sengaja Nesya ambil waktu itu yang tidak sengaja melihat Ami keluar dari pusat wisata dan di digendong oleh Nathan.


Bugh


Ami mendorong tubuh Nesya sampai jatuh kelantai. "Memangnya kenapa kalau selera gue tinggi hah, ngiri lo yang hanya kak Zian saja Lo gak bisa dapetin." Nada Ami terdengar sinis, sekarang dirinya tidak akan takut untuk melayani kegilaan Nesya yang merasa berkuasa, karena mulai sekarang Ami memiliki pawang yang akan jadi garda terdepan untuk memebelanya.


"Kau..!!" Nesya berdiri dan langsung mendorong Ami kuat hingga tubuh Ami terpelanting ke belakang. Karen menoleh kebelakang kening Ami menghantam pot bunga besar yang ada di belakangnya.

__ADS_1


"Ami..!" Olive langung berlari menghampiri sahabatnya. "Mi, berdarah." Olive yang panik langsung meminta tolong. Sedangkan Nesya tersenyum culas dan langsung menggeret Loli pergi dengan wajah ketakutan.


"Nes, lu keterlauan kalau sampai kita di DO bagaimana?" Ucap Loli ketakutan.


"Ck, Lo bela dia apa gue sih, Cemen Lo." Nesya mendorong dada Loli dan pergi begitu saja. Membuat Loli semakin takut. "Nes tungguin."


Olive di bantu beberapa siswi lain untuk membawa Ami ke UKS, kening Ami mengalami luka dan berdarah, bahkan wajah Ami sudah pucat.


"Mi jangan pingsan dong, Aku takut kena marah lakik kamu." Gumam Olive sambil memapah sahabatnya.


"Ay.." Zian yang baru keluar dari ruang guru berpapasan dengan Olive yang membawa Ami dengan kening terluka. "Dia kenapa?" Tanya Zian yang terlihat panik.


"Em, kecelakaan kak gak sengaja." Jawab Olive seadanya.


"Sini biar gue gendong." Zian langsung mengambil tubuh Ami untuk digendong ala bridal ke ruang UKS yang tidak jauh lagi.


Zian ada keperluan dengan gurunya, oleh karena itu dia datang ke sekolah setelah hari kelulusan.


"Ay, sabar ya." Zian berdiri disamping Ami yang sedang di tangani oleh petugas diruang UKS.


Sedangkan Olive duduk diseberang Zian menatap sahabatnya sendu, karena jika sedang bersamanya Olive menjadi mata-mata untuk Nathan, Olive menerima komisi uang jajan dari Nathan, dan itu hanya mereka berdua yang tahu, dan Olive sudah mendapat uang sogok yang lumayan banyak.


"Duh, nanti bicara apa sama pak Nathan." Ucap Olive dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2