
Hawa duduk termenung di samping ranjang Mario yang terbaring lemah, pria yang terlihat gagah itu kini sedang terbaring lemah karena mengalami dehidrasi, Mario kelelahan karena kurang istrinya. Tenaga dan staminanya menurun dan membuatnya seperti ini.
Rasa bersalah Hawa semakin menyeruak saat mendengar gejala yang Mario Alami sampai terbaring lemah seperti ini. Hawa benar-benar merasa gadis yang paling egois.
"Om, maafin aku." hanya itu yang Hawa ucapkan terus menerus, gadis itu terlihat begitu sedih melihat keadaan Mario seperti ini, karena dirinya juga ikut andil dengan keadaan Mario.
Tak lama pintu ruangan terbuka, Vania masuk dengan wajah kahawatir seperti seorang ibu yang mengkhawatirkan anaknya.
"Sayang apa yang terjadi?" Vania bertanya pada Hawa, gadis itu berdiri dan bingung ingin menjawab apa.
"Kenapa kamu bisa seperti ini nak." Vania menangis melihat Mario yang terbaring lemah. selama ini Mario tidak pernah lemah seperti ini, pria ini terlalu kebal dengan yang namanya sakit.
"Om Mario kecapean Mah, daya tahan tubuhnya menurun." Tutur Hawa pelan.
Vania mengusap kepala Mario dengan sayang. Meskipun bukan darah dagingnya tapi Vania menyayangi Mario seperti anaknya sendiri.
"Sayang, Mama titip Mario dulu ya. Ada teman Mama juga yang dirawat disini." Ucap Vania yang berdiri dari duduknya.
"Iya mah." Hanya itu yang bisa Hawa katakan.
Hawa sudah mengirim pesan untuk Mamanya jika dirinya belum bisa pulang karena menunggu Mario di rumah sakit. Gadis itu menggenggam tangan Mario, tangannya terlihat kecil jika dalam genggaman seperti ini, entah mengapa Hawa bisa mencintai pria dewasa seperti Mario. Apakah takdirnya memang harus seperti ini.
Setelah tiga jam terlelap, kini Mario mulai membuka matanya perlahan, pria itu mengerjapkan mantanya menatap sekeliling. Dirinya mulai menyadari jika sedang berada dirumah sakit.
Menggerakkan tangannya Mario merasakan berat dan saat menunduk, Mario melihat Hawa yang terlelap memeluk tangannya.
Bibir pucatnya tersenyum, saat melihat gadisnya menunggu hingga tertidur.
__ADS_1
Tangan kanan Mario yang terdapat selang infus terangkat mengusap kepala Hawa.
"S-sayang." Suara Mario terdengar serak karena baru saja sadar, pria itu mengusap kepala Hawa sampai gadis itu terbangun.
"Om, Om sudah bangun." Senyum bahagia Hawa terlihat jelas, mekipun kedua matanya mulai berkaca-kaca.
"Kamu ketiduran hm." Mario tersenyum tipis.
"Maafin aku Om, hiks-hiks.." Air mata Hawa meluncur begitu saja ketika berbicara, dadanya terasa sesak karena rasa bersalahnya.
"Hey, kenapa menangis." Mario yang melihat Hawa menangis menjadi panik. "Kamu tidak salah, ini semua memang sudah resiko." Mario mencoba untuk menenangkan Hawa. "Jangan menyalakan dirimu, karena aku yang tidak bisa menjaga diriku sendiri."
Perbedaan usia mereka membuat Mario yang lebih dewasa, dirinya yang mencoba untuk mengerti dengan kekasihnya yang memang masih remaja. Sisi kelembutan Mario hanya tampak pada Hawa, pria itu akan sangat hangat jika dengan orang yang tepat.
"Tapi Om seperti ini juga karena aku, aku egois yang mementingkan diriku sendiri, membuat Om harus kelelahan karena pulang pergi tanpa istirahat." Hawa mengusap air matanya, kesedihan dan rasa bersalah itu masih ada. Tapi saat melihat senyum Mario, itu berarti Mario sudah lebih baik dan Hawa lega melihatnya.
"Kamu mengkhawatirkan aku?" tanya Mario sambil mengusap pipi Hawa.
Mario tersenyum. "Dan kamu mencintaiku." Ucapnya lagi dengan bibir yang tertarik membentuk senyum simpul.
"Em, itu." Hawa bingung lebih tepatnya dia malu untuk mengatakan jika dirinya memang mencintai Mario.
Kamu tidak mencintaiku?" Tanya Mario yang melihat Hawa hanya diam.
"Tidak." Jawab Hawa sambil menggeleng.
"Tidak?" Mario mengangkat satu alisnya.
__ADS_1
"Ehh, bukan itu. Aku_" Hawa malu jika mengatakan secara langsung, karena memang dirinya tidak pernah mengatakan cinta lewat bibirnya.
"Lalu apa?" Mario menujukan ekpresi datar dengan tatapan tidak bisa terbaca, Hawa yang melihat itu semakin dilanda rasa bingung.
"Aku mencintai Om." Ucap Hawa cepat.
Mario tersenyum. "Aku sudah tau, kalau gadis kecil ini mencintaiku." Mario tertawa ketika melihat wajah Hawa yang merona malu. "Aku hanya suka jika kamu sering mengatakan itu."
Semakin panas saja wajah Hawa itu, mendengar ucapan manis Mario.
"Minggu depan aku menagih janjimu." Ucapan Mario membuat Hawa bingung.
"Janji? janji apa Om?" Tanya Hawa yang tidak mengingat, gadis itu barusaha mengingat apa yang dia janjikan.
"Jangan pura-pura lupa sayang, aku tidak suka janji kamu yang begitu penting kamu lupakan." Mario menatap Hawa dengan kesal.
"Aku tidak pura-pura, tapi aku_"
Seketika Hawa mengingat janji apa yang dia katakan pada Mario.
"Menikah..!" Kata Hawa seketika saat mengingat.
"Ya, dan kamu tidak lupa kan. Kita akan menikah Minggu depan."
.
.
__ADS_1
Holaa... Undangan siap? jangan lupa hadir 🤣🤣🤣