
Nathan mengendarai mobilnya menuju kantor setelah tadi meninjau lokasi proyek yang sedang dia bangun. Perdebatannya dengan Hilda membuatnya harus mencari arsitek dan kontraktor baru.
"Ck, jika bukan teman, malas gue berurusan dengan Wanita."
Nathan menerima kerja sama dengan Hilda hanya karena wanita itu teman sekolahnya dulu. Dan Nathan memang tidak pernah menjalin kerjasama dengan lawan jenis, dan baru sekarang dia tahu jika lama berdekatan dengan lawan jenis membuat mereka bisa melakukan apapun.
Sampainya di kantor, Nathan kembali dibuat pusing dengan kedatangan Maudy yang sudah entah berapa lama menunggunya, karena didepan meja wanita itu terdapat tiga gelas jus.
"Nat, aku menunggumu sejak tadi." Keluh Maudy dengan wajah masam. "Perutku sampai begah menghabiskan tiga gelas jus." Adunya agar dapat perhatian, tapi Nathan malah cuek dan kembali duduk di kursinya.
"Ndo keruangan gue sekarang." Ucap Nathan pada sambungan telepon kantor.
Maudy yang dia abaikan merasa kesal.
"Nat, bisa sebentar saja kita bicara." Ucap Maudy yang berdiri disamping Nathan duduk.
Nathan menatap Maudy sekilas. "Apalagi, kita sudah tidak ada urusan." Ucap Nathan datar.
Maudy mengepalkan kedua tangannya kuat. "Kamu tidak bisa berbuat seperti ini Nat, aku masih mencintai kamu dan aku ingin pernikahan kita di lanjutkan." Ucap Maudy dengan tegas, wanita itu sudah lelah mendapat perlakuan Nathan yang cuek dan dingin.
Nathan menatap Maudy dengan kening berkerut. "Pernikahan mana yang kamu maksud? tidak akan pernah ada pernikahan di antara kita, karena memang tidak akan pernah terjadi." Tegas Nathan dengan suara berat.
"Tapi Nat aku_"
Brak
"Upss, ada ulet bulu disini." Ucap gadis yang baru saja masuk keruangan Nathan dengan masih memakai seragam sekolahnya.
"Kau..!!" Maudy nampak terkejut melihat wanita yang mendesahh dibawah kungkungan tubuh Nathan ternyata masih seorang siswi.
"Hay, Tante ulet bulu." Ami tersenyum dan mendekati suaminya yang duduk di kursi, tanpa malu Ami langsung duduk di atas pangkuan Nathan.
__ADS_1
"Tumben kesini." Nathan mencium pipi Ami, dan mengelus punggung istri kecilnya.
Maudy yang melihat memalingkan wajahnya, geram dan marah.
"Em, aku ingin minta ijin untuk datang ke acara teman sekolah." ucap Ami mengusap wajah Nathan dengan sengaja didepan mata Maudy.
Nathan mengecup telapak tangan Ami yang berada di wajahnya.
Karena kesal dan tidak sanggup melihat pria yang dia cintai bermesraan dengan wanita lain Maudy memilih pergi dengan luka di hati.
"Kemana? tempat siapa?" Tanya Nathan yang tak menghiraukan kepergian Maudy.
Maudy yang mendengar dan melihat Nathan tidak mencegahnya untuk pergi mengepalkan kedua tangannya dan berlalu pergi.
"Em," Ami mengigit bibir bawahnya, dirinya takut jika bicara jujur Nathan tidak memberi ijin, padahal Olive sudah menunggunya di lobby dan mereka tadi sudah membeli hadiah.
"Jangan digigit." Nathan mengusap bibir bawah Ami yang digigit sendiri. "Hanya aku yang boleh mengigitnya." Nathan langsung menyesap bibir bawah Ami bergantian, tangannya memeluk pinggang gadisnya dengan sedikit menekan tubuhnya.
"By, Emp." Suara decapan bibir keduanya menggema di dalam ruangan Nathan yang kedap suara. Hingga bunyi pintu mengagetkan mereka berdua.
Brak
"Astaga mata gue..!!" Ando membalikan tubuhnya, ketika melihat dua sejoli sedang memadu kasih, hingga suara keduanya begitu membuat telinga Ando panas.
"By, ahh sudah." Ucap Ami yang mendorong wajah Nathan agar melepas tautan bibir mereka.
"Ck, mengganggu saja." Kesal Nathan yang merasa kesenangan terganggu.
Ami mengusap bibir Nathan yang terdapat sisa saliva mereka yang menempel.
"Ck, kalian selalu saja bikin gue mupeng tau ngak." Kesal Ando yang sudah membalikkan tubuhnya, tapi masih melihat Ami yang duduk dipangkuan Nathan, karena Ami ingin beranjak Nathan tidak mengijinkan.
__ADS_1
"Lu Dateng diwaktu yang tidak tepat, Sialan lu..!" Kesal Nathan membuat Ami tersenyum.
"Yang nyuruh gue kesini siapa? kok lu jadi bos ngeselin sih." Ando menatap Nathan sinis.
"Seharusnya lu sebagai bawahan sopan, ketuk pintu bukan main slonong masuk, kalau bini gue telanjang gimana? mau gue colok mata lu." Omel Nathan panjang lebar membuat Ami tertawa.
"Udah si kak, ngalah sama bos, tar dipecat nangis." Ledek Ami sambil menatap Ando tertawa.
"Eh, bocil lu ngeledek gue. Berani lu sama gue." Ando ingin maju mendekati Ami, tapi langkahnya terhenti.
"Sini lu berani sama bini gue, mau beneran gue pecat." Nathan menatap tajam Ando membuat pria itu berhenti bergerak.
"Sialan lu Nat, bos lucnat." Kesalnya lalu duduk di kursi depan Nathan.
"Bocil lu minggir gih, bikin mata gue empet tau ngak liat lu duduk di situ." Ando melirik cara duduk Ami yang menurutnya sangat mmh...
"Bini-bini gue, gak usah ngatur lu."
Ando geleng kepala, sahabat sekaligus bosnya sudah benar-benar berubah, Nathan sekarang bisa di ajak bercanda.
"By, aku boleh pergi ya." Tanya Ami lagi yang ingat Olive sudah menunggunya lama dibawah.
"Tapi ingat beri kabar, dan jangan pernah menyuruh pak Husein pergi." Titah Nathan yang di angguki oleh Ami.
"Oke, makasih hubby." Ami menangkup wajah Nathan dan mencium kedua pipi Nathan, terakhir mengecup bibir tebal itu sekilas.
"Bye, hubby.. bye-nye kak Ando jelek." Ami berjalan keluar dengan wajah senang.
"Peliharaan lu bos, unik." Ucap Ando sambil tersenyum.
"Dia boneka hidup gue." Balas Nathan dengan senyum tipis.
__ADS_1
Kedua orang itu berbincang mengenai pekerjaan dan Nathan melupakan pertanyaan jika Ami pergi ke pesta siapa.