
Vania sudah menyiapkan beberapa hidangan yang disukai anak-anak Nathan dan Ami, wanita itu selalu senang menyambut keluarga Adhitama yang akan berkunjung, lebih tepatnya Vania dan Julio yang mengundang mereka.
Julio sedang berada diruang kerjanya bersama Mario, kedua pria itu sedang membicarakan pekerjaan, Mario menceritakan bisnisnya di Swiss bersama sahabatnya, yang mulai berkembang dikenal penduduk di sana.
"Sebenarnya papa ingin kamu yang menghandle kantor papa." Ucap Julio pada putranya.
Mario melirik Julio sambil membaca berkas yang Julio kasih.
Julio berharap putra sulungnya mau membantunya. "Kamu tahu sendiri Mike seperti apa, dia tidak bisa diandalkan." Ucap Julio sambil menghela napas kasar.
Mario meletakan berkas yang sudah dia baca. "Papa beri saja dia kepercayaan dan tanggung jawab, dia hanya ingin dimengerti." Mario menakutkan kedua tangannya kedua sikunya berpangku pada kedua bahu kursi, sambil bersandar. "Mario tahu Mike hanya merasa dirinya selalu dinomor duakan karena kalian selalu mendahulukan aku dalam segala hal."
Julio mencerna ucapan Mario, dan mengingat hal-hal yang sepeti Mario katakan.
"Dan ditambah perjodohan yang kalian lakukan membuatnya terasa seperti terkekang.
Mario bicara seperti apa yang dia lihat didalam diri Mike, watak keduanya memang berbeda meskipun dari rahim yang sama.
"Dan Mario belum bisa memberi jawaban untuk bergabung dikantor papa."
.
__ADS_1
.
"Kamu cantik sekali sayang." Nathan menyentuh kedua sisi pundak Ami dengan tatapan penuh cinta lewat kaca cermin didepanya.
Ami yang masih duduk didepan meja riasnya terseyum manis, menyambut tatapan penuh cinta dari suaminya.
Lima belas tahun usia pernikahan mereka tidak membuat rasa cinta dan perlakuan keduanya memudar, justru Nathan semakin posesif terhadap istrinya dan cinta mereka semakin kuat.
Lima belas tahun dikaruniai tiga anak, yang usianya kini tiga belas tahun si kembar dan enam tahun si bungsu.
"Hubby juga tampan, bahkan lebih emh." Ami menunjukkan ekspresi mengigit dengan tatapan nakal, Nathan yang melihatnya menjadi gemas dan tertawa.
"Nanti setelah pulang dari rumah Julio, aku tidak akan melepasmu." Ucap Nathan sambil mengusap pipi mulus sang istri.
Tidak dengan hubungan rumah tangga saja yang harmonis, tapi hubungan ranjang keduanya juga semakin hangat.
"Sudah nanti kita terlambat." Ami beranjak dari duduknya mengingat mereka harus datang kerumah Julio.
"Ck, mereka itu apa tidak bosan mengundang kita terus." Ucap Nathan sambil menggerutu.
Ami terseyum, "Karena mereka menginginkan Putri kita." Jawab Ami berjalan sambil merangkul lengan suaminya.
__ADS_1
Nathan mengehela napas. "Jujur sayang, aku tidak setuju Hawa menikah dengan Mike." Ucap Nathan membuat Ami menoleh.
Keduanya menuruni tangga bersama, "Kenapa?" Tanya Ami yang tidak mengerti.
"Aku tidak suka sifatnya, sepertinya dia bukan pemuda yang bertanggung jawab." Jelas Nathan pada Ami.
"don't judge a book by cover By." Jawab Ami sambil mengelus lengan Nathan, dia tahu jika suaminya memang selektif dalam hal apapun mengenai Hawa, apalagi soal masa depan putri mereka yang tidak akan Nathan permudah untuk para pria mendapatkan putrinya itu.
"Ck, itu naluri seorang ayah pada putrinya."
Kesal Nathan kerena Ami tidak mengiyakan ucapanya.
Ami hanya geleng kepala, "Iya terserah Hubby." Pasrahnya, karena jika menyangkut Hawa Nathan lebih sensitif.
"Apa Hawa tidak apa-apa?"
"Tidak dia baik-baik saja." Jawab Ami menyakinkan.
Mereka berangkat menuju kediaman Julio untuk menghadiri acara makan malam yang katanya putra sulungnya pulang ke tanah air.
Selain menghormati, mereka juga belum pernah melihat putra pertama Julio dan Vania, karena yang tinggal bersama mereka hanya Mike, itupun Mike jarang hadir di acara makan malam itu.
__ADS_1
.
Next apakah Dedek Emes akan bertemu dengan Om ganteng???ðŸ¤