
Seperti yang dikatakan Nathan, kini Ami tersenyum lebar dengan menutup matanya, menghirup udara yang baru bagi dirinya.
"Ayo, kenapa malah berdiri disini." Ucap Nathan dengan memeluk istrinya dari belakang.
Nathan sengaja menggunakan jet pribadinya, karena membawa sang istri. Dirinya ingin bekerja sekaligus honeymoon yang belum pernah mereka lakukan sejak setelah menikah.
Ami semakin melebarkan senyumnya, gadis itu tidak merasa lelah ataupun pusing karena jetlag, Ami malah begitu senang.
Tiga jam perjalanan udara tidak membuatnya lelah.
"Em, sepertinya aku akan betah disini." Ucap Ami membuat Nathan terseyum, dan dengan gerakan cepat Nathan mengendong Istrinya dari belakang seperti bridal style.
"By, turunin aku." Ami merengek malu, melihat beberapa orang kru pesawat yang melihatnya digendong Nathan. Apalagi melihat Ando yang mendelik menatapnya.
Ya, Ando ikut bersama Nathan karena Nathan ingin segera meneyelsaikan pekerjaanya disini, dan sisa waktunya akan Ia habiskan bersama sang Istri.
Nathan juga memberi tahu kedua orang tuanya jika keluar kota bersama sang Istri, dan tentu saja Indira merasa senang.
Perusahan pusat untuk sementara di pegang papanya Allan.
Nathan tidak memperdulikan rengekan istirnya dia terus berjalan hingga sampai didepan pintu mobil yang menjemputnya Nathan menurunkan Ami.
"Kalau tidak begitu, kamu pasti masih berdiri di sana." Kesal Nathan tapi dengan bibir tersenyum.
Ami hanya mencebik, lalu masuk kedalam mobil setelah Nathan membukakannya pintu mobil.
Nathan ikut masuk, setelah Ami masuk, dan Ando setelah menaruh koper mereka di bagasi Ia ikut masuk duduk di kursi penumpang depan.
Mobil yang mereka tumpangi bergerak meninggalkan bandara dan menuju hotel yang sudah disiapkan, Nathan menggunakan supir untuk menjemput mereka di bandara.
"Tidurlah jika lelah." Ucap Nathan yang menyandarkan kepala Ami di dadanya.
Didalam pesawat gadis itu tidak bisa tidur, meskipun Nathan sekali menggempurnya tapi nyatanya ketika Nathan membuka mata, gadis itu masih terjaga. Biasanya jika setelah bercinta Ami akan terlelap, dan tidak untuk di pesawat tadi.
__ADS_1
"Em, sepertinya aku tidak lelah, aku hanya ingin makan." Ucap Ami sambil menoleh kebelakang, dimana mobil yang mereka tumpangi baru saja melewati kedai penjual makanan khas kota M.
"Kamu lihat apa?" Nathan ikut menoleh kebelakang.
"Tidak." Ami kembali menatap lurus kedepan.
"Kedai tadi memang terkenal dengan makanan khas dikota ini tuan, mungkin nona ingin memakannya." Celetuk supir Nathan yang memang penduduk asli kota M.
"Wahh, gas kalau gitu. Putar balik." Bukan Nathan yang bicara, tapi Ando yang juga kepengen makan.
Ami terseyum lebar, dan Nathan melihatnya.
"Putar balik." Titah Nathan yang langsung membuat supir itu putar memutar kemudi setirnya.
Setelah sampai diparkiran, mereka keluar dengan menatap kesekiling kedai yang ramai pengunjung.
"By, kita duduk disebelah sana."Ucap Ami menunjuk tempat yang lumayan bagus untuk mereka duduk.
"Kal, lebih baik kita pisah dari mereka, dari pada harus menjadi obat nyamuk." Ucap Ando yang malas bergabung dengan Nathan, sudah pasti kedua pasangan lucnat itu saling memamerkan kemesraannya.
"Baik tuan." Haikal hanya tersenyum. Pria dua puluh lima tahun itu menurut.
"Ternyata disini beda By, sama di jakarta." Ucap Ami membuat Nathan terseyum.
"Kenapa?" Tanya Nathan dengan penasaran.
"Di Jakarta banyak polusi, di sini udara masih sejuk." Ucap Ami dengan bahagia.
Mereka memang sampai di kota M sore hari.
"Em, kamu benar."
Tak lama pesanan mereka datang, dan Ami sudah tak sabar ingin mencicipi makanan khas yang ada di kota itu, dari yang gurih sampai yang manis Ami sudah tidak sabar.
__ADS_1
"Uhhh, sudah tidak sabar ingin mencicipi mereka." Ucapnya dengan menggosokkan kedua tangannya, dan tatapan berbinar dikedua matanya.
Nathan sejak tadi memperhatikan tingkah istrinya, tidak biasanya Ami bertingkah seperti itu, apa memang dia yang tidak pernah melihatnya.
"By, ini enak." Ucapnya, yang baru saja mencicipi kuah yang ada di depannya.
"Habiskan, kalau begitu." Nathan hanya terseyum, memandangi wajah Istrinya yang begitu bahagia.
Hanya dengan makanan saja Ami sudah sebahagia ini, dan Nathan belum pernah memberikan gadis itu hadiah selain hadian kalung di saat Ami ulang tahun waktu itu.
"Sayang, kamu tidak memakai cincin pernikahan kita." Ucap Nathan yang memang belum pernah melihat Ami memakai cincin pernikahan.
Ami segera menelan makanan yang dia makan, "Tidak, tapi aku menaruhnya di sini." Ami menelurkan kalung yang dia pakai, dan disana ada cincin yang Ami gunakan sebagai bandul.
Nathan mengerutkan keningnya, "Tadi aku tidak melihatnya." Tanyanya penasaran, karena disaat mereka bercinta tadi Nathan tidak melihat jika Istrinya memakai kalung, dan sekarang Ami memakai kalung.
"Memang, karena aku hanya menyimpannya saja." Jawabnya jujur. "Terima kasih sudah memberikan aku cincin yang pernah aku incar di toko waktu dulu." Ami menatap Nathan dengan menyengir, memamerkan deretan giginya yang rapi.
"Kamu masih ingat." Entah mengapa dada Nathan tiba-tiba berdebar.
"Em." Ami mengangguk." Dan aku tidak percaya jika Hubby juga mengingatnya." Keduanya tertawa.
Ya, Nathan sengaja membelikan cincin yang pernah Ami coba disaat dirinya dengan Maudy sedang membeli cincin pertunangan.
Dan siapa sangka, kini merekalah yang menjadi sepasang suami Istri.
.
.
Makanan khas kota M, yang dipesan oleh Miami 😩
__ADS_1