
Niko hanya duduk dibelakang Ami dan Olive yang sedang mengajari anak-anak belajar membaca dan berhitung, semangat mereka sangat antusias hingga mereka selalu bersemangat untuk mengikuti sesi tahap belajar mengeja dan berhitung.
"Nak, adek-adek sekalian, pertemuan belajar kita hari ini sudah cukup ya, kalian semua hebat kak Olive senang dengan kemajuan mengeja kalian hari ini."
"Horreee.." Anak-anak berteriak kegirangan.
"Nah, untuk besok kita bertemu lagi ya, dan besok kak Ami akan bawakan kalian pewarna dan buku gambar, jadi besok kita akan menggambar jika yang gambarnya bagus kakak akan kasih hadiah untuk kalian, bagaimana mau.!!"
"Mau..!!"
Olive dan Ami tertawa senang, anak-anak pun juga senang. Mereka berpamitan pada kedua gadis itu dan Niko pun juga kebagian jatah.
"Kalian keren." Niko memuji kedua gadis yang salah satunya adalah calon nggota keluarganya.
"Hanya bantuan kecil, biar mereka juga tahu bacaan." Jawab Ami dengan tersenyum.
Drt...Drt..Drt..
Ponsel Ami berdering, siapa lagi jika bukan sang suami.
"Bentar ya, gue angkat telepon dulu."
"Dih, pasti dicari pak om-om suamiku." Ledek Olive hanya mendapat juluran lidah dari Olive.
Niko hanya terseyum. "Kenalin gue Niko." Pria itu mengulurkan tangannya pada Olive.
Olive menerimanya. "Olive."
"Namanya yang bagus."
Keduanya tersenyum lalu melangkah pergi menuju mobil Niko.
"Ck, gue dijemput suami." Ucap Ami dengan wajah cemberut.
"Lah, aku sama sapa dong." Ucap Olive yang tiba-tiba kesal.
"Dianter kak Niko lah, emangnya mau jalan kaki."
Ami menatap Olive kesal. karena Ami pikir Olive hanya berakting.
Olive menghela napas. "Emangnya kak Niko, mau nagaterin aku?" tanya Olive dengan wajah memelas.
Niko yang melihatnya menampilkan tampang masa bodoh. "Tuh kan, dia aja gak jawab." Sedih Olive yang membuat bibir Niko berkedut.
"Gue anterin." Ucap Niko langsung masuk ke dalam mobilnya ketika dia melihat mobil mewah dibelakangnya siapa lagi jika bukan suami dari adik tirinya.
__ADS_1
"Nah tuh suami gue, bye Olive. Kak jangan macam-macam sama sahabat gue kalau gak mau kena kutukan." Ami tertawa sambil berlari kecil meledek Olive yang membulatkan matanya kesal.
Ucapan Ami mengingatkannya pada seseorang yang pernah dia sumpahi, dan Olive merasa menyesal telah mengatakannya. Tapi untuk meminta maaf dan bertemu lagi Olive tidak mau.
Olive ikut naik mobil Niko, dirinya sudah masuk ke mobil Niko tapi di kursi belakang.
"Gue bukan supir, dan Lo bukan majikan gue." Ucap Niko dengan ketus.
Olive mendelik, tapi dirinya sadar diri mendengar ucapan Niko dan pindah duduk kedepan.
"Sorry, aku pikir kamu risih kalau aku duduk depan." cicit Olive dengan pelan. Membuat Niko hanya menoleh sebentar.
.
.
"Siapa sayang.." Nathan mencium kening istrinya ketika Ami baru duduk dikursi penumpang depan.
"Siapa? apa?" Jawab Ami lemot.
Nathan menghidupkan mesin mobilnya dan pergi dari sana. Setelah mobil Niko pergi.
"Ck, mobil tadi siapa? aku baru lihat." Nathan menatap istrinya sekilas.
Ami yang baru sadar siapa yang dimaksud. "Oh, itu anak om Mustafa, namanya Niko dia tadi jemput aku sekolah dan kita baru kenalan." Jawab Ami jujur dengan menarik napas lelah. Ami menekan tuas kursi miliknya agar dirinya bisa menyederkan tubuhnya lebih rileks.
"Hm, kalau cewek Nini sayang." Ucap Ami dengan nada pelan, mata gadis itu sudah mulai terpejam.
"Jadi sejak tadi kamu bersama pria lain dan tidak mau aku jemput." Ucap Nathan dengan nada kesal. "Kamu lebih memilih naik mobil dengan warna mencolok norak seperti itu, dari pada naik mobil aku." Lagi-lagi Nathan seperti melupakan kekesalannya.
"Sayang, kamu tahu. Kalau kamu itu hanya milik aku, dan aku cemburu kalau kamu dekat dengan wanita lain, kamu dengar tid_"
Nathan melebarkannya matanya, sejak tadi dia mengoceh dengan kesal ternayata istirnya sudah terlelap.
"Fik, gue bicara sama angin." Ucap Nathan dengan menghela napas sabar.
.
.
.
Sejak tadi didalam mobil Niko hanya hening tidak ada bersuara, entah apa yang dipikirkan keduanya sampai tidak ada yang berniat untuk membuka obrolan.
Niko sejak tadi melirik gadis yang duduk di sampingnya, hanya diam dengan tatapan kesamping jendela.
__ADS_1
Mobil Niko memasuki kafe yang cukup terkenal dipusat kota, kafe tempat dirinya suka nongkrong dengan teman-temannya.
"Kenapa kesini kak?" Tanya Olive dengan bingung, pasalnya kafe ini juga tempat favorit seseorang.
"Gue laper dan gue butuh makan." Jawab Niko dengan ketus.
Olive hanya menghela napas. "Lo kalau mau disini silahkan, tapi gue ngak jamin kalau Lo akan aman disini." Ucap Niko sengaja untuk membuat Olive turun.
Olive manyun. "Yang bikin ngak aman itu kamu." gumam Olive yang akhirnya ikut turun, tidak ada pilihan lain meskipun dirinya enggan untuk masuk kedalam.
Sore hari kafe memang ramai, dan Olive sudah beberapa kali datang ketempat ini, bersama seseorang yang sudah membuatnya sakit hati.
Kini tubuh Olive memang tak berisi seperti beberapa bulan lalu, gadis itu mampu melewati beragam diet yang dia terapkan, tujuannya agar dirinya percaya diri dan lebih hidup sehat memilah makanan.
Karena menunggu jalannya Olive lama, Niko yang tidak sabaran menarik tangan Olive untuk dia genggam.
"Jalan aja kayak siput." Gerutu Niko tanpa melihat wajah Olive yang tegang akibat tangannya yang di genggam Niko.
Niko memilih meja tempat biasa dia berkumpul, cukup ramai pengunjung mereka memilih duduk berhadapan.
Niko menatap Olive yang sejak tadi hanya diam menunduk, gadis itu seperti banyak pikiran.
"Lo mau pesan apa?" Tanya Niko membuat Olive mendongak, dan tatapan mereka bertemu.
"Em, Salad buah aja kak." Ucap Olive yang langsung memutus tatapannya lebih dulu.
Niko hanya mengaguk. "Wanita ternayata ribet ya, takut gemuk hanya karena makanan." ucap Niko santai.
Olive menatap Niko sekilas lalu kembali menunduk tanpa menjawab ucapan Niko.
"Gue kira masalah yang paling berat adalah gak bisa makan banyak, dan salah satunya seperti Lo." Ucap Niko lagi yang ingin melihat wajah Olive, karena sejak tadi Olive hanya menunduk.
Benar saja, Olive mendongak menatap Niko yang tersenyum.
"Bukan masalah hidup tapi hanya masalah berat badan yang bikin tambah masalah hidup."
Mendegar jawaban Olive membuat Niko bingung sendiri.
"Olive." Ando yang baru masuk dan ingin mencari tempat duduk pun melihat gadis yang sudah susah untuk dia temui dan hubungi.
Melihat Olive Ando terseyum. "Sayang mau kemana?" Tanya wanita yang menggandeng lengan Ando.
Ando pun hanya diam ketika matanya melihat sesuatu yang membuatnya tidak suka.
"Ck, makannya blepotan, kayak anak kecil tau." Niko mengusap sudut bibir Olive dengan ibu jarinya yang terdapat saus salad buah.
__ADS_1
"Engh." Tubuh Olive mematung, perlakuan Niko membuatnya Dejavu.