My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Bikin uuhh


__ADS_3

Wajah Ami yang awalnya biasa menjadi tegang, tatapan matanya berubah tajam.


Nathan yang melihat perubahan raut wajah Ami tersenyum sinis. "Apa kamu tidak punya mulut untuk bicara." Nathan mengikis jarak di antara keduanya menjadi sangat dekat.


"Apa ini juga sudah dia cicipi." Jarinya mengusap bibir bawah Ami, dengan tatapan mata yang tak lepas menatap wajah yang berubah menahan amarah. "Beberapa? berapa dia membayarmu hanya untuk_"


Plak


Tangan Ami menyentuh pipi Nathan, bukan elusan, tapi sebuah tamparan.


Ami menatap tajam Nathan dengan napas memburu, "Berapun yang dia kasih, bukan urusan anda." Jarinya menujuk wajah Nathan.


Nathan mwneyntuh pipinya yang ditampar, tatapan matanya berubah tajam dengan rahang mengeras.


"Dan seharusnya anda ingat, jika kita tidak akan saling ikut campur urusan masing-masing." Setelah mengatakan itu, Ami meninggalkan Nathan. Namun belum sempat menjauh, tumbuhnya sudah melayang di atas pundak pria bermulut kejam itu.


"Lepas..!!" Ami meronta. Nathan menggendongnya seperti karung beras, membuat kepalanya terasa pusing.

__ADS_1


Brug


Nathan melemparkan tubuh Ami di atas ranjangnya, ranjang yang tidak pernah ditiduri oleh wanita manapun.


"Dan sekarang aku ingatkan, jika kamu tidak akan bisa merubah apapun keputusan dariku." Nathan mengungkung tubuh kecil Ami di bawahnya, tangannya Ami berada di atas kepalanya dengan cekalan tangan besar Nathan.


"Lepas, anda keterluan.!! pria kejam, tidak punya perasaan, aku membenci_ emph." Ami membelalakan matanya, kepalanya menggeleng untuk menghindari ciuman bibir, sungguh Ami tidak ingin berakhir di tiduri oleh Nathan, dia belum siap.


Namun tenaga Ami kalah dengan Nathan, pria itu mampu membuat Ami bungkam dengan lumattan di bibirnya, memberi sapuan lidah disekitar bibir Ami, Nathan merasakan bibir gadis itu bergetar, dengan memejamkan matanya.


"Tidak ada yang bisa menyentuh ini." Nathan melumatt sedikit bibir bawah Ami. "Selain aku." Ucapnya yang kembali memberi pelajaran pada Istri kecilnya yang sudah membuatnya marah. Nathan meluapkan amarahnya dengan mencumbu bibir Ami, rasa manis menjalar di sekujur tubuhnya, meskipun Ami masih pasif soal berciuman sebisa mungkin Nathan membuat gadis itu terbuai, dan terbukti Ami membuka bibirnya membuat Nathan semakin dalam mengeksplor rasa di dalamnya.


"Hah..hah..hah.." Napas Ami ngos-ngosan, dadanya naik turun, "Kau_ emph.." Hanya sebentar, Nathan kemabli melumatt bibir itu rakus, dirinya semakin dalam mencumbu bibir Ami, menuntun gadis itu untuk membalas cumbuannya.


Satu menit


Lima menit

__ADS_1


Sepuluh menit


Lima belas menit, Nathan baru melepaskan cumbuannya, itupun karena Ami sudah benar-benar kehabisan napas, dan Nathan harus memberi jeda.


"Pemula yang bagus." Ucap Nathan mengusap bibir Ami yang basah, sisa ciuman mereka.


Napas Ami berkejaran, matanya terlihat sayu dengan dada naik turun, seperti habis lari maraton.


Nathan menatap lekat wajah gadis di sampingnya, tangan kirinya menyangga kepalanya agar bisa melihat wajah Ami, Nathan berbaring miring disamping Ami yang tidur telentang.


"Istirahatlah.." Ucap Nathan dengan mengusap wajah Ami, gadis itu memejamkan matanya, namun napasnya belum juga stabil.


Nathan terkekeh, dirinya tahu jika ini adalah hal gila yang baru untuk Ami rasakan, dan Nathan menyukainya.


"Mine, no one can have you but me.." Nathan tersenyum, lalu dirinya ikut merebahkan tubuhnya di samping Ami, mencoba meredam gelayar yang sudah membuat adik kecilnya meronta.


"Shitt.." Umpatnya, dengan perasaan kesal, karena harus menahan hasrat setelah ciuman panas tadi.

__ADS_1


'Bersabarlah jerk.' Gumam Nathan yang ikut memejamkan matanya, memeluk tubuh Ami untuk yang pertama kali.


__ADS_2