
Acara tahlil dan mengirim doa pun selesai, kerabat dan saudara semua pamit untuk pulang. Semua sudah mengikhlaskan kepergian Oma Lili yang sudah tenang di alam sana.
Ami membantu beberapa art di dapur, setelah acara selesai semua sibuk dengan urusan masing-masing. Ami yang tidak tahu harus apa, memilih untuk membantu membereskannya pekerjaan di dapur.
Bunda Raya juga menghadiri acara tahlil dan doa tadi, beliau pulang lebih dulu dan kembali datang kesana sebelum acara di mulai.
"Ami.." Bunda Raya menghampiri Ami yang sedang mengelap tangannya, karena baru saja membantu mencuci piring dan gelas yang kotor. Meskipun sudah di peringatkan oleh art di sana tapi Ami tetap kekeh membantu.
"Bunda.." Ami menghampiri bunda Raya dengan senyum. "Maaf Ami baru tahu kalau_"
"Seharusnya kamu bisa memikirkan hal penting mana yang kamu pilih, memang ujian sekolah kamu juga penting, tapi apa kamu tidak bisa ijin lebih dulu untuk melihat Oma Lili yang terakhir kali dan menghormatinya untuk terakhir kali." Raya menatap Ami kecewa. Keluarga Nathan bukan kelaurga sembarangan dan Ami sebagai menantu yang baru beberapa bulan sudah membuatnya merasa malu, karena Ami tidak tidak menghormati kelaurga Nathan.
"Bukan gitu bun_"
"Bukan kamu yang malu, tapi bunda." Ucap Raya lagi lalu meninggalkan Ami yang diam mematung dengan mata yang sudah terasa panas.
Apakah ini salahnya yang tidak diberi tahu, atau salahnya yang malah datang ketika semua sudah terlambat untuk mengucapkan bela sungkawa. Rasanya hati Ami begitu sakit, melihat dan mendengar bundanya yang menyalahkannya tanpa mau mendengar penjelasnya.
__ADS_1
Kenapa mereka tidak ada yang bisa mengerti dengan perasaannya. Setelah mendengar ungkapan Nathan yang memang mencintai wanita lain, sekarang dirinyalah harus menerima kemarahan bundanya yang jelas-jelas bukan salahnya.
"Ay.." Nathan muncul tiba-tiba didepanya. Membuat Ami mengusap air matanya menggunakan kedua tangannya.
"Kenapa_"
Maaf permisi." Ami meninggalkan Nathan yang masih ingin bicara, gadis itu memilih pergi dengan membawa perasan yang terluka.
"Ay, tunggu dulu." Nathan mencekal tangan Ami. Sejak tadi dirinya sudah menahan untuk tidak membuat keributan ketika masih banyak orang, karena sejak tadi Ami selalu menghindarinya ketika Nathan ingin bicara.
"Lepas, saya mau pergi." Ami mengibaskan tangan Nathan yang mencekal tangannya kuat, membuatnya sedikit kesakitan.
"Lepas..!! Sakit."
Nathan melepas cengkraman tangannya, menatap pergelangan tangan Ami yang merah, gadis itu mengusapnya. "Maaf aku tidak_"
"Sudah terbiasa bahkan lebih dari sakit di tanganku." Ketus Ami tanpa melihat wajah Nathan yang melihatnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
__ADS_1
"Jika tidak ada yang ingin dikata_"
"Kenapa kamu selalu menghindar?" Potong Nathan yang sudah tidak tahan dengan sifat dingin Ami.
Ami menaikkan satu alisnya menatap Nathan yang juga menatapnya. "Bukankah kamu sendiri yang berusaha menghindar." Balas Ami dengan wajah biasa saja.
"Jangan membalikan ucapanku." Nathan menatap Ami intens.
"Lalu apa yang harus aku katakan, bukankah kamu sendiri yang tidak mengganggap aku di keluarga ini, bahkan hanya untuk memberi tahu kabar Oma saja kamu tidak memberi tahuku. Atau kamu memang sengaja membuatku terlihat tidak baik di depan keluarga, bahkan bundaku sendiri menyalahkan ku yang tidak ada ketika semua orang memberi penghormatan terakhir untuk Oma, tapi aku." Ami menatap Nathan dengan wajah merebak merah, kedua matanya sudah meneteskan air mata. "Bisakah kamu menghargai keberadaan ku, setidaknya bukan untuk diriku sebagai istri, tapi sebagai menantu untuk Mama Indira." Ami mengusap wajahnya kasar. Dadanya naik turun meluapkan amarahnya.
Nathan menatap wajah Ami yang sudah kacau gadis itu menagis. "Dengarkan aku du_"
"Cukup." Tangan Ami terangkat membuat Nathan berhenti bicara. "Mungkin satu tahun terlalu lama untuk kontrak yang kita sepakati, lebih baik anda segera ajukan gugatan perceraian_"
"Tidak ada perceraian di sini." Nathan menatap tajam Ami, pria itu sudah menahan kesabaran mendengar luapan amarah yang Ami lontaran.
Ami menatap Nathan berani. Kemarahanya mengalahkan ketakutannya. "Kalau begitu saya yang akan menggugat anda." Ami pergi dengan perasaan campur aduk, dadanya sesak, air matanya menetes. Sedangkan Nathan mengepalkan kedua tangannya kuat, menatap tajam punggung Ami yang kian menjauh.
__ADS_1
Sudah cukup Ami menerima pernikahan yang dia sendiri tidak menginginkannya, dan Ami baru sadar jika pernikahannya adalah permainan campur tangan kedua orang tua Nathan, Ami tidak menyalahkan kedua orang tua yang baik padanya. Hanya saja dirinya yang memiliki takdir seperti ini.
Bukan aku yang tidak ingin mencoba menerima pernikahan ini, tapi kamu sendiri yang membuatku untuk sadar dengan pernikahan yang memang berawal dari sebuah permainan..