
"Kamu disini..?" Nathan terkejut melihat pria dirangkul adiknya yaitu Aileen, itu berarti pria itulah kekasih adiknya.
Allan hanya geleng kepala, kenapa juga putrinya itu memilih pria yang tidak jauh-jauh dari keluarga mereka.
"Loh, Ditya?" Indira baru saja ikut bergabung dengan Ami, Indira juga sempat terkejut dengan adanya Ditya anak dari kakak sepupunya.
"Malam Tante." Ditya mencium tangan Indira dan juga Allan.
"Mama kenal dia?" Tanya Nathan yang memang lupa dengan Ditya.
Ya pria pengabdi negara itu adalah Ditya, pria yang sudah menaklukkan hati Aileen yang menjadi wanita banyak pasangan. Tapi ketika bertemu Ditya Aileen seperti magnet yang tertarik kearah pria yang memiliki lesung pipi itu.
"Mama dan papa mengenal Ditya?" Aileen juga ikut bertanya.
Indira dan Allan saling tatap, dan tersenyum. "Ayo kita bicara sambil makan malam saja, papa sudah lapar." Ajak Allan yang langsung merangkul bahu Istrinya, sedangkan Ami yang bengong, langsung mendapat pelukan dari Nathan.
"Ingat hanya boleh melihat aku saja." Ucap Nathan yang langsung menarik kepala Ami untuk dipeluk didadanya.
Aileen mengajak kekasihnya untuk menuju meja makan, hidangan sudah lengkap dan tertata rapi.
"Mah, Pah apa dia anak Om Riko?" Tanya Nathan yang sejak tadi sudah gatal ingin bicara. Dan sampainya mereka duduk Nathan langsung bicara, sedangkan para wanita mengambilkan makanan diatas piring untuk para suami.
Nathan ingat jika terakhir bertemu dengan Riko dibandara jika dia ingin mengunjungi anaknya yang seorang abdi negara. Dan Nathan samar-samar mengingat nama Ditya.
"Hem, dia anak pertama Om Riko." Allan menjawab. "Apa papamu tahu jika kamu menjalin hubungan dengan Aileen?" Tanya Nathan pada Ditya.
"Cukup Ai." Ditya menginterupsi Aileen yang menaruh nasi dipiringnya.
"Belum Om, kemarin Papa dan Mama hanya sebentar disini, dan kebetulan Aileen juga belum bisa pulang ke tanah air. Jadi bulan depan papa dan mama akan kesini lagi untuk bertemu Om." Jawab Ditya pelan namun tersirat ketegasan, menunjukan jika dirinya pria yang berkomitmen, dan bisa dipercaya.
Allan mengaguk, sedangkan Nathan masih tidak percaya. Ternyata pria yang selama ini membantunya masih kerabatnya dari sang Mama.
Aileen yang sudah duduk menjadi hanya diam, gadis yang suka banyak bicara itu tiba-tiba hilang suara.
Aileen tidak tahu jika Ditya yang menjadi kekasihnya adalah anak dari kerabat sang Mama. Ditya yang besar di Paris dan mengikuti kemiliteran memang tidak pernah hadir di acara besar keluarga, sedangkan Aileen yang tidak menyukai pesta juga tidak begitu perduli dirinya paling lama berada di pesta keluarga hanya tiga puluh menit.
__ADS_1
Begitupun juga dengan Nathan, bidang mereka tidak sama hingga mereka tidak pernah bertemu meskipun Nathan selalu hadir di acara keluarga dan Ditya tidak bisa sembarang pergi ataupun ijin saat mendapat tugas kemiliteran.
Indira menatap putrinya yang hanya diam, dia tahu apa yang sedang Aileen pikirkan. Indira menoleh pada suaminya dan menggenggam tangannya, memberi isyarat agar bisa mengambil keputusan yang bijak, dia juga ingin melihat putrinya bahagia dengan pilihannya, karena Aileen adalah seorang wanita dan indira tidak mau memaksa seperti Nathan, meskipun pada akhirnya Nathan begitu bucin sebucin-bucinya.
Allan mengehela napas, dia juga memang sudah tahu siapa pria-pria yang menjadi teman dekat ataupun teman kencan putrinya.
Nathan tidak berkomentar, dia tidak ikut campur soal urusan percintaan sang adik, hanya saja jika pilihan adiknya salah, Nathan akan bertindak. Untuk kali ini adalah mutlak keputusan dari kedua orang tuanya.
Aileen menatap Ditya yang menggenggam tangannya. Aileen melihat senyum tipis Ditya yang seolah mengatakan semua akan baik-baik saja, Aileen membalas senyum Ditya juga dengan senyum tipis.
Ehem
Allan berdehem untuk membuat kedua insan itu memperhatikannya.
"Pah, Ai tidak tahu kalau_"
"Katakan pada kedua orang tuamu jika kami menunggu kedatangan kalian." Ucap Allan tegas.
Ditya terseyum. "Baik Om."
Ami ikut senang, dirinya tidak menyangka jika pria yang membantu menyelamatkan akan menjadi iparnya.
"By, kak Aileen beruntung ya." Bisik Ami pada Nathan yang fokus memakan makanan yang berada didepannya.
"Kenap?" Ucap Nathan yang tidak mengerti beruntung kenapa, seharunya Ditya yang beruntung mendapatkan adiknya yang cantik dan model internasional.
"Mas Ditya udah ganteng, baik macho apalagi jika terseyum.. duh lesung pipinya ngak nahan." Ami reflek menampilkan ekspresi mengagumi.
Nathan membulatkan kedua matanya, dengan dada yang sudah kembang kempis menahan api cemburu, jika istrinya terang-terangan memuji pria lain, sungguh Nathan tidak terima.
"Apa aku tidak seganteng dia, sehingga kamu memujinya." Ucap Nathan dingin dengan penuh penekanan.
Ami langsung merubah ekspresinya secepat kilat ketika menyadari apa yang barusan dia ucapkan.
Menoleh pada suaminya, Ami hanya bisa menelan ludah kasar, "Em, Byy bukan maksudku_" Tenggorakan Ami tercekat entah kemana perkataan yang akan dia ucapkan, melihat tatapan Nathan yang semakin tajam membuat nyalinya menciut dengan jantung berdebar kencang.
__ADS_1
"Ma*pus gue.. mulut ngak bisa dikompromi." Batin Ami menjerit.
Acara makan malam berjalan dengan lancar, Ditya yang sudah mendapat lampu hijau dan diterima dikeluarga Aileen membuat mereka begitu lega.
Ditya juga memikirkan bagaimana jika dirinya ditolak hanya karena masih kerabat Aileen, tapi ternyata Ditya salah. Kelaurga Aileen tidak mempermasalahkan itu, dan hubungan dengan Aileen benar-benar akan ketahap yang serius.
Aileen berhenti dan berdiri didepan Ditya, keduanya saling berhadapan dengan senyum yang tidak luntur, Aileen mengantar Ditya sampai ke mobil, dan kini keduanya masih berpegangan tangan dan saling bertatap wajah.
"Terima kasih, sudah mau berkunjung." Ucap Aileen yang tiba-tiba menjadi kikuk.
Ditya menatap Aileen dengan tatapan teduh, dan Aileen menyukai tatapan Ditya seperti itu.
"Bukan masalah, karena kamu memang tujuanku." Jawab Ditya mengusap pipi Aileen dengan ibu jarinya.
"Semua sudah selesai, pekerjaanku akan pindah di sini, dan aku tidak akan kembali lagi ke LN, tapi jika memungkinkan sekali dua kali aku diijinkan." Tutur Aileen.
"Good girl," Ditya menepuk kepala Aileen lembut.
Bukan tanpa alasan Aileen bercerita, kepindahannya ada hubungannya dengan sang kekasih, Ditya yang sudah mengabdikan dirinya ditanah air membuat Aileen harus mengikutinya. Meskipun tidak lahir di Indonesia, tapi Ditya keturunan orang Indonesia. Dan papanya pun memiliki perusahaan di Indonesia.
"Em," Aillen mengaguk, entah mengapa jika didepan Ditya Aillen menjadi gadis manja dan penurut.
Ditya manatap lekat bibir ranum kekasihnya yang terlihat natural, dan Aillen yang mengerti arah mata kekasihnya terseyum tipis.
Tanpa pikir panjang Aillen memajukan kepalanya dan menempelkan bibirnya pada bibir Ditya, Aileen mengecup dan memberi lumattan ruangan agar Ditya mau membalasnya.
Jika diluar dua sejoli sedang asik bercumbu, lain dengan kedua insan yang saling diam dengan wajah yang sudah ditebak.
Ami yang bingung ingin membujuk Nathan, tapi tidak tahu dengan cara apa.
Dan Nathan yang cuek, dan hanya diam membuat Ami frustasi.
Rencana kerumah bunda pun gagal sudah, Nathan tidak mengajak Ami untuk kesana, padahal Ami sedang menginginkan sesuatu
Karena kesal dicueki dengan wajah dinginnya, mendadak ide cemerlang menghampiri otaknya.
__ADS_1
"Ck, tunggu By. Setelah ini pasti kamu tidak akan mau mengabaikanku." Gumam Ami dalam hati tersenyum lebar.