
"Byy.."
Ami memasuki ruangan kantor Nathan, tapi didalam ruangan itu tidak ada siapa-siapa.
"Kok nggak ada." Ami berjalan menuju kamar pribadi Nathan, siapa tahu pria itu ada disana.
"Ngak ada juga." Ami kembali menutup pintu, ternyata Nathan tidak ada dikamarnya juga.
Setelah mengantar Olive, Ami langsung menyuruh pak Husein untuk mengantarkannya ke kantor sang suami, dan sampai disana dirinya tidak menemukan Nathan.
Ami mengitari meja kerja Nathan, gadis itu melihat bingkai foto kecil. Bibirnya tersenyum, melihat fotonya dipanjang dimeja Nathan. "Ck, kok gue malah berbunga-bunga gini." Gumamnya terkekeh, merasa lucu dengan perasaannya.
Ami duduk dikursi kebesaran milik suaminya, gadis itu duduk dan membuka laci kecil dibawah meja.
"Em, kayak bingkai foto." Ami pun mengambil apa yang dia lihat, foto itu dalam keadaan terbalik dan dia penasaran kenapa ditaruh di laci.
"Oh.." Ami membulatkan bibirnya, gadis itu menaruh bingkai kecil yang sama ukurannya dengan foto miliknya.
"Dia juga cantik, tapi sayang gue tetep jadi pemenangnya." Ucap Ami pada dirinya sendiri, gadis itu membandingkan fotonya dan foto Sena yang dia taruh berdampingan.
Mengambil ponsel untuk memfoto Ami ingin mengirimkannya pada Nathan. "Lah ponselnya mati."
Ami memasukkan kembali ponselnya yang ternyata kehabisan daya.
"Didalam ada charger kali ya." Ami pun berdiri dan kembali memasuki kamar, gadis itu mulupakan foto yang dia taruh di atas meja.
.
.
.
Nathan dan Ando meninjau tempat yang sudah seratus persen jadi, pria itu tersenyum senang dengan hasil yang dia rancang di bantu dengan temanya yang bekerja sama dengannya.
"Ck, benar-benar bucin lu Nat, sampai membangun tempat seperti ini untuk Miami." Ucap Ando yang merasa takjub.
Nathan hanya terseyum, arah matanya hanya tertuju pada patung yang berdiri ditengah patung wanita yang menyerupai Istrinya.
"Karena dia wanita yang akan menemani gue sampai tua nanti, dia juga yang akan melahirkan anak-anak gue sebagai penerus Adhitama."
Ya, setelah wanita pertama yang dia cintai didunia adalah ibunya, kini cintanya kembali hadir yang sama besar pada sang ibu, Ami gadis yang sudah menemaninya satu tahun lebih membuat Nathan semakin mencintai gadis itu.
"Ya, ya yaa gue kalah kalau urusan bini." Ando menggaguk setuju, mungkin saja dirinya akan seperti sahabatnya itu setelah menikah dengan wanita yang tepat, dan akan berhenti berkelana dari lembah satu ke lembah yang lain, tapi sekarang sepertinya tuhan sendang memberinya karma.
__ADS_1
"Lu siapin semua saat istri gue lulus nanti, ini hadiah untuknya." Ucap Nathan yang langsung diangguki oleh Ando.
Bukan hanya tempat dan sarana saja yang Nathan bangun, melainkan sudah Ia siapkan pengelola dan guru-guru untuk mengajari mereka belajar di sana dan semua dibawah kuasa nama istirnya. Dan pemilik yayasan ini adalah Ayana Malika Ifana.
"Oke, gue akan siapkan semua. Lu tahu beres."
.
.
Nathan kembali ke kantor bersama Ando, keduanya berjalan beriringan. Meskipun yang satu sudah menikah tidak mengurangi rasa kagum pada karyawan wanita di kantor, mereka masih saja mengagumi ketampanan sosok Nathan Adhitama yang memiliki kharisma dan daya tarik sendiri, dan Ando adalah pria nomor dua yang berada setelah Nathan. Ando juga memiliki penggemar dikantor pria itu dengan sisa ketampanannya yang mendekati sebelas dua belas dengan Nathan, tak jarang wanita yang suka bermain mendatangi Ando hanya untuk bertukan keringat bersama.
Tapi setelah lepas dari itu mereka seperti orang tidak pernah saling kenal, karena mereka tahu batasan dikantor dan diluar.
"Pak tadi nona Ayana kemari, dan dia mencari bapak." Ucap Sinta sekertaris Nathan.
"Kemari."
Sinta hanya mengaguk.
Nathan pun membuka pintu ruangannya, dan dia tidak melihat Istrinya didalam sana.
berjalan masuk Nathan mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi sang istri, tapi nomornya tidak aktif.
Yaitu foto Sena yang belum sempat dia buang, dan mungkin istrinya merasa cemburu karena dia menyimpan foto wanita lain dan karena itu Ami mematikan ponselnya.
"Sial..!!" Nathan mengumpat, apalagi nomor Istrinya tidak aktif membuatnya frustasi dan khawatir.
"Sayang kamu dimana?" Nathan mencoba mengecek keberadaan Ami melalui alat pelacak yang dia pasang, tapi ternyata juga tidak bisa karena mungkin Ami mematikannya.
"Ohh, Tuhan." Nathan yang panik bergegas keluar dari ruangannya.
"Sinta kamu melihat istri saya pergi." Tanya Nathan dengan wajah panik.
Sinta sempat bingung, karena dia tidak melihat istri bosnya pergi, tapi tadi dia sempat keluar dari meja kerjanya. "T-tidak pak."
"Lalu kenapa dia tidak ada di dalam."Ucap Nathan sedikit berteriak.
Sinta hanya menunduk, takut jika salah menjawab lagi.
Brak
Nathan menendang bawah meja Sinta membuat wanita itu berjingkat kaget.
__ADS_1
"Nomor yang anda tuju sedang tidak dapat dihubungi, periksa_"
Tut..Tut..tut..
"Si*al..!!"
Karena tidak bisa menghubungi nomor Ami, Nathan memilih mencari Istrinya, siapa tahu Ami sudah pulang keaparteman milikinya.
Sepanjang jalan Nathan masih terus mencoba untuk menghubungi nomor Istrinya tapi tidak juga mendapat jawaban membuat Nathan semakin dilanda rasa cemas dan khawatir.
Setelah dua puluh menit mobil mewah Nathan sampai di basement apartemen miliknya, Nathan langsung keluar dan berlari menuju lift untuk sampai di flatnya dengan tidak sabaran.
"Ay.." Nathan berteriak memanggil Ami ketika sampai didalam pria itu berlari menuju kamar.
Tidak ada, kosong sama seperti tadi pagi sebelum mereka pergi.
"Sayang." Belum yakin Nathan membuka pintu kamar mandi, dan tidak ada siapa-siapa. Bahkan kamar mandi itu kering seperti tidak terpakai.
"Aarrgh.."
Brak
Nathan mengebrak pintu kamar mandi, pria itu berjalan dan duduk di pinggiran ranjang.
Meremat rambutnya frustrasi Nathan melihat layar ponselnya yang menampilkan wajah sang Istri.
"Seharusnya kamu bertanya, tidak pergi dan menghilang seperti ini."
Dirinya juga merasa bersalah masih menyimpan foto wanita masa lalu yang tidak berarti apa-apa, dan pasti Istrinya itu kecewa dengan dirinya.
"Kamu di mana sayang."
Nathan memutuskan mencari Ami di tempat yang seringkali gadis itu kunjungi, pria itu tidak akan tenang jika belum menemukan Istri kecilnya.
Rumah Olive tujuan pertama Nathan, tapi sampai di sana rumah itu seperti kosong, dan penghuninya pergi.
Menghubungi supir, Husein juga bilang jika tadi dia mengatakan istri tuanya ke kantor, bahkan sampai sekarang Husein masih stay disana.
Nathan pun tidak putus asa, pria itu mencari istrinya, kepingiran kota tempat biasanya Ami menghabiskan waktu, dan disana Nathan juga tidak menemukan jawaban, karena sudah dua hari istrinya tidak datang kesana.
"Ayana kamu dimana?" Lelah jiwa dan hati Nathan tidak tahu harus mencari kemana, dirumah bundanya juga tidak ada, semua tempat yang biasa Ami kunjungi juga tidak ada.
Hayoo kira-kira Miami Dimana yakk???🤣🤣🤣
__ADS_1
Ada yang tahu..???🤔ðŸ¤(komen disini yakk😂)