
Ami dan Olive selesai mengajari anak-anak yang kurang mampu di plosok pinggir kota di jam dua siang,. Mereka semua senang dengan kedatangan Ami dan Olive, apalagi Ami juga membawakan makanan dan kebutuhan lainnya yang menurutnya cukup penting bagi mereka yang tinggal dirumah kumuh seperti itu, pasti tidur mereka tidak nyaman dan banyak nyamuk, membayangkan saja Ami tidak tega.
Ami sejak tadi menghadap ke jendela kaca mobil yang menampilkan pemandangan kota siang itu. Dirinya tidak tahu jika kak Zian akan mengatakan hal yang menurutnya sangat mengecewakan.
"Aku harap kamu tidak seperti gadis diluaran sana yang rela merendahkan diri demi memiliki kehidupan yang mewah."
Kata-kata Zian terus berputar-putar di otaknya sejak tadi.
"Mi," Olive yang memperhatikan sahabatnya hanya diam sejak masuk mobil menjadi khawatir. Olive tahu jika ucapan kak Zian melukai perasaan Ami. "Biarkan saja orang menilaimu apa, mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi." Olive menyetuh pundak Ami membuat gadis itu menoleh dan tersenyum tipis.
Olive ikut tersenyum. "Mungkin kak Zian merasa kecewa melihat dirimu yang berubah, dia menyukaimu Mi."
Ami menghela napas berat. "Aku kira kak Zian berbeda dengan cowok lain, ternayata sama. Mereka hanya melihat apa yang di lihat dan berasumsi sendiri setelah merasa tersakiti."
Ami pikir Zian bukan tipe pria yang hanya melihat covernya nya saja, tapi kenyataanya Zian bisa berasumsi sendiri dengan apa yang hanya dia lihat tanpa mencari tahu dirinya bagaimana dan seperti apa.
"Tidak apa, dengan begitu kak Zian tidak banyak berharap sama kamu." Olive yang merasa senang, karena dengan begitu Zian tidak mengejar Ami yang notabennya sudah menikah.
Ami tersenyum tipis. Dia juga tidak ingin Zian semakin mendekatinya. Biarlah apa kata mereka yang melihatnya, yang jelas dirinya merasa tidak seperti apa yang mereka katakan.
Drt..Drt..Drt..
Ponsel yang berada di dalam tas Ami berdering.
"Suami sultan nyariin tuh." Ledek Olive yang melihat layar ponsel Ami. Nathan yang menghubungi.
"Halo.."
"Sayang kamu sampai dijalan mana?" Tanya Nathan seberang sana.
Ami mengulum senyum mendengar Nathan memanggilnya sayang.
"Di jalan xxx, Kenap?"
"Bilang sama pak Husein, berhenti didepan minimarket depan, tunggu aku disana." Ucap Nathan yang terdengar seperti menghidupkan mesin mobil.
"Oke." Sambungan pun terputus, Ami memasukkan ponselnya kembali.
"Pak berhenti di supermarket depan ya." Ami bicara pada pak supir yang bernama Husein.
"Baik Non."
"Loh, memangnya kenapa?" tanya Olive yang sudah ketar-ketir jika dirinya disuruh turun, dan ditinggal pulang sendiri.
Jarak dari rumahnya masih sangat jauh, dan Olive lupa membawa ongkos.
__ADS_1
"Pak suami mau ketemu." Ami menyengir.
"Terus aku gimana, masa pulang naik angkot." keluh Olive yang sudah merasa was-was.
Ami hanya tersenyum, membuat Olive semakin resah.
Tin..tin..
Mobil Nathan menyalip dari belakang, dan menggiring mobil yang membawa istrinya masuk ke parkiran supermarket di depan.
"Gila mobil suami kamu lebih kinclong Mi." Olive pun semakin takjub melihat mobil mewah Nathan.
"Hm, sayangnya hanya bisa dinaiki berdua saja." ucap Ami dengan tertawa.
Ami keluar dari dalam mobil sudah di sambut Nathan, "Kenapa lama sekali." keluh Nathan yang langsung merangkul istrinya dan mencium kening Ami.
"Lama apanya?" Ami tidak mengerti, apa yang dimaksud lama.
Olive yang melihat adegan ciuman didepan matanya langsung menutup mata. "Lah mataku, terkontaminasi." Gumamnya sambil menutup mata dengan tangannya.
Ami pun menoleh dan tertawa. "Kamu sih, lihat si Olive sampe tutup mata." Ami memukul lengan Nathan.
"Ck, gak yakin kalau dia masih polos." Ucap Nathan membuat Ami mendelik.
"Baik tuan."
Pak Husein pun menghampiri Olive yang masih menutup mata. "Non, ayo bapak antar pulang." Ucap pak Husein berdiri disamping Olive.
"Pak, apa mereka sudah tidak ciuman? saya ingin membuka mata." Ucap Olive dengan bodohnya.
Nathan hany geleng kepala, sedangkan pak Husein menggaruk kepala. "Sudah tidak Non."
Olive pun membuka matanya, dan melihat sahabatnya berkacak pinggang dengan tatapan tajam. "Dasar, cucu kakek Sugiono aja kamu hafal, liat yang beginian tutup mata." Kesal Ami menatap Olive.
Olive hanya meringis mendengar ucapan Ami. "Ternyata yang real live lebih nendang rasanya."
Setelah mengatakan itu Olive langsung kembali masuk mobil, dirinya malu karena Nathan mendengar ucapannya yang absyur.
"Ck, dasar mata Arab, otak Jepang." Gerutu Ami, yang membuat Nathan tertawa.
"Kamu apa?" Tanya Nathan dengan senyum.
"Aku?" Ami menujuk dirinya sendiri, dan Nathan mengangguk. "Separuh Jepang, separuh Arab." Ami terseyum lebar menampilkan jejeran giginya.
"Dasar." Nathan tertawa.
__ADS_1
Keduanya tertawa, dan masuk kedalam mobil, Nathan membukakan pintu untuk istrinya.
"Om dari mana?" Tanya Ami menghadap pada Nathan.
Nathan yang mendegar panggilan Ami mendelik tajam. "Opss, sorry." Ami mengembungkan mulutnya dan tersenyum. "Hubby dari mana?" Ralatnya cepat-cepat sebelum mendapat hukuman.
"Dari, bertemu klien yang kebetulan berada tidak jauh dari lokasi kamu."
Nathan memang baru saja bertemu klien baru yang ingin bekerja sama, dengan perusahaan miliknya. Dan tadi dia menyetujui kesepakatan kontrak kerja.
"Oh, laki apa cewek?"
Nathan mengerutkan keningnya. "Memangnya kenapa?" Tanya Nathan dengan senyum, setelah tahu maksud pertanyaan Ami.
"Ya, gak papa? pengen tahu aja." Ami garuk kepala, dirinya tidak mungkin kan jika cemburu.
"Cewek, teman aku waktu sekolah dulu." Nathan mengusap kepala Ami lembut. "Kenapa? kamu takut suamimu ini kepincut dengan Wanita lain." Tanya Nathan yang sengaja menggoda istrinya.
"Dih, ge-er. Sana kalau mau, dan aku bakalan tinggalin kamu." Ucap Ami ketus. Membuat Nathan tertawa.
"Tidak akan, sampai kapanpun kamu tidak boleh pergi dariku." Nathan menatap manik mata Ami dengan dalam.
"Fokus nyetir Mas, nanti nabrak." Tegur Ami ketika Nathan menatap wajahnya lama.
"Habis wajah kamu lebih menarik dilihat, dari pada jalan didepan." Goda Nathan disertai senyum tampanya.
"Ck, gombal." Ami mengulum senyum, memalingkan wajahnya yang tiba-tiba terasa panas.
Drt..Drt..Drt..
Ponsel Nathan berdering, Nathan memasang headset bluetooth yang langsung tersambung.
"Halo, Hil ada apa?" Tanya Nathan yang mendapat panggilan dari Hilda, wanita teman sekolahnya yang baru saja menjalin kerja sama.
"Kamu dimana."
"...."
"Tunggu disitu, aku sedang kearah sana." Ucap Nathan yang langsung menutup panggilannya.
"Siapa?" Tanya Ami yang sejak tadi penasaran.
"Hilda, reka kerja yang barusan aku temui, kebetulan mobilnya mogok dan dia butuh bantuan."
Ami hanya mengangguk, entah mengapa dia tidak suka melihat Nathan peduli dengan wanita lain.
__ADS_1