My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Kedatangan teman


__ADS_3

Sudah tiga hari Ami sibuk dengan kegiatannya yang mondar-mandir, gadis itu pagi sibuk dengan kegiatannya yang berada diyayasan, selain menghilangkan kejenuhan Ami juga membatu untuk mengajar beberapa anak yang masih baru. Setiap harinya yayasan miliknya pasti ada anggota baru, meskipun bukan hanya dari kalangan tidak mampu, tapi disekitar yayasan ada yang memasukkan anak-anak mereka disana.


"Nona didepan ada yang mencari."


Ami yang sedang mengajari anak-anak mewarnai pun menoleh.


"Iya Bu, siapa?" Ami berdiri dan menghampiri ibu Sofi yang bekerja sebagai wakil kepala yayasan disana.


"Ibu tidak mengenalinya, katanya teman nona sekolah."


Ami mengernyitkan keningnya, siapa teman sekolahnya yang tahu dirinya disini.


"Baiklah kita kesana." Ami berjalan lebih dulu diikuti wanita yang usianya sekitar 50tahun itu.


Meskipun Ami meminta untuk tidak terlalu formal kepada-nya tapi beliau masih kaku dan belum terbiasa.


"Nesya.." Ami menatap punggung wanita yang dia kenali, dan ketika wanita itu berbalik tenyata benar Nesya.


"Eh, kamu kenapa bisa ada disini?" Ami mendekati Nesya yang berdiri menatapnya tersenyum. "Eh, salah, maksud gue apa kabar." Ralat Ami yang tadi sedikit terkejut karena Nesya.


"Maaf, aku tidak sopan datang kemari. Dan kabarku_"


Nesya menuduk, sebenarnya dirinya malu datang ketempat ini yang ternyata milik Ami, gadis yang dia rundung saat sekolah.


"Lebih baik kita bicara di dalam." Ami mengajak Nesya menuju bangunan lain, yang tidak jauh dari bangunan inti, kerena dibelakang terdapat seperti bungalau tempat dimana dirinya sering menghabiskan waktu jika lelah.


Nesya menurut, dirinya merasa tidak enak, tapi aku bagaimana lagi Nesya sudah tidak tahu harus kemana, apalagi dalam keadaan memiliki bayi yang masih kecil.


"Minum Nes," Ami memberikan segelas jus jeruk untuk Nesya.


Nesya menerimanya, "Kamu hebat Mi, bisa memiliki yayasan." Ucap Nesya setelah meminum jus yang Ami berikan.


Nesya menidurkan bayi nya disofa itu, tidak terusik justru terlihat anteng.


Ami yang duduk didepan Nesya menaikkan satu alisnya. "Apa kedatanganmu kemari hanya untuk memujiku." Ami menatap Nesya.

__ADS_1


Nesya menggeleng. "aku kemari untuk," Nesya berhenti berucap merasa berat untuk bicara.


Ami yang menghela napas, menunggu Nesya untuk bicara. "Katakan, jika tidak lebih baik kau pergi."


.


.


Di tempat berbeda, Nathan sedang berada di area pabrik, pabrik yang beroperasi pembuatan makanan dan minuman kemasan, beberapa pekan terakhir pabrik ini mengalami penurunan drastis, setelah beredar jika pabrik ini menjual produk yang tidak sehat.


Nathan yang penasaran dengan masalah yang ada dirinya tidak bisa menunggu lama, meskipun yang seharusnya jadwalnya keluar kota adalah jadwal dirinya dan sang istri melakukan liburan Tapi demi ribuan karyawan Nathan mengesampingkan liburannya, dia memilih berangkat keluar kota.


Sudah tiga hari dirinya berada disini, dan selama itu dirinya hanya mengirim pesan saat pagi-pagi sekali, dan disaat Ami membalas Nathan sudah sibuk dnegan pekerjaanya.


Komunikasi mereka sedikit terlambat karena waktu Nathan yang memang sedikit, karena waktunya habis untuk bekerja agar segera selesai dibantu Ando.


Sudah pukul dua siang, Nathan baru saja istirahat, dan makan siang, pria itu memilih makan di warung makan yang dekat dengan pabrik.


"Kayaknya kita akan cepat pula Nat." Ucap Ando sambil menyantap makan siangnya, pria itu juga harus lembur seperti Nathan, karena pekerjaan yang mereka selesaikan seharunya memakan waktu cukup lama, tapi karena bekerja sama keduanya telah memotong waktu lama itu menjadi cepat.


"Ya, baru tiga hari rasanya sudah setahu." Nathan menenggak air mineral.


Nathan mengiyakan, dirinya mengakui itu. Jika malam Nathan menyibukkan diri dengan pekerjaan, selain agar cepat selesai Nathan butuh mengalihkan waktunya. Jika dirinya lelah maka akan cepat tertidur, agar tidak mengingat Ami yang selalu dia peluk saat terlelap, jika tidak Nathan benar-benar susah tidur.


"Sepertinya lusa kita sudah pulang Nat, jika tidak ada halangan lainya." ucap Ando yang duduk dengan menyandarkan tubuhnya dibahu kursi.


Nathan mengaguk.


Jika bisa dirinya ingin hari ini saja pulangnya, sungguh dirinya sudah tidak sabaran.


"Jadi dia sekarang tidak ingin bertanggung jawab." Ucap Ami dengan menahan kesal.


Nesya menceritakan bagaimana dirinya diusir dari rumah Dito, pria yang sudah menghamilinya ketua osis waktu sekolah.


Selama dikeluarkan dari sekolah, dia juga di usir dari keluarganya, dan selama ini dirinya tinggal dirumah Dito, meskipun sering mendapat kekerasan dan ucapan kasar dari Dito, karena Dito menyalahkannya atas kejadian yang menimpa mereka. Dan masa depan Dito hancur berantakan karena menghamili Nesya. Nesya menerimanya demi bisa memiliki tempat tinggal, tapi lama kelamaan Nesya tidak tahan dan menyerah, apalagi Dito sudah bermain wanita dibelakangnya, dan Nesya memilih kabur, pergi dari rumah Dito.

__ADS_1


"Ini juga kesalahanku Mi, yang terlalu bebas hingga kami terjerumus pergaulan." Nesya mengusap air matanya. Niatnya tadi kesini hanya untuk mencari pekerjaan, tapi ketika membaca tulisan logo di patung Nesya dan melihat patung itu seksama Nesya mengingat Ami, dan benar saja ketika bertanya ternyata pemilik yayasan ini adalah Ami yang dia rundung saat sekolah.


"Ck, tapi dia seenaknya saja hamilin anak orang dan tidak bertanggung jawab." Ami masih kesal, bagiamana bisa pria tidak bertanggung jawab itu dulu bisa menjadi ketua osis.


Nesya hanya diam, dirinya juga bersalah dengan adanya konflik dirumah tangga mereka. Pemicunya dirinya yang memang tidak menerima Dito yang ternyata suka minum-minum.


Entahlah mungkin ini sudah takdirnya, dan Tuhan membalas perbuatannya yang sudah merundung temanya ketik masih sekolah.


Oekk..oekk..


Bayi Nesya menangis dan bangun, Ami yang melihatnya langsung mendekat. "Boleh aku menggendongnya Nes?" Tanya Ami dengan menatap bayi laki-laki yang baru saja membuka mata dan menangis.


"Boleh, Mi." Nesya memberikan bayinya yang berusia tiga bulan pada Ami untuk digendong.


"Uluhh...uluhh.. Gemes banget cii." Ami menciumi pipi gembul itu dengan senyum, bau minyak telon khas bayi membuat Ami senang.


"Kamu tinggal disini ya, buat ounty nanti sering kesini." Ucap Ami pada bayi yang menatapnya dengan senyum.


Nesya merasa lega, dan juga senang ternyata Ami orang yang baik, bahkan memakanya dan memberinya tempat tinggal.


"Terima kasih Mi." Nesya tersenyum tulus.


"Gue hanya ngak tega lihat dia lu ajak berkeliaran diluar sana kepanasan." Ucap Ami melirik Nesya sekilas.


Nesya terkekeh mendengar ucapan Ami. "Dan aku yakin pasti kamu merasa frustasi tidak ada tempat untuk berteduh, lalu menaruh bayimu di panti asuhan. "Lanjut Ami, membuat Nesya terdiam.


Yang dikatakan Ami benar, terlintas di benaknya jika dia akan menaruh putranya di panti asuhan, jika saja Nesya tidak ada tempat untuk bernaung.


"Sudahlah buang jauh-jauh pikiran kamu yang seperti itu, sekarang kalian akan tinggal diyayasan ini."


Nesya terharu, diirinya berhamburan memeluk Ami yang mengendong putranya.


"Terima kasih Ami, semoga kamu bahagia dan segera mendapatkan malaikat kecil."


"Aminn.. Terima kasih Nes."

__ADS_1


"Semoga Tuhan mengabulkan doa kami, Hubby aku merindukanmu."


Ami berharap secepatnya bisa memiliki malaikat kecil seperti yang ada di gendongnya, malaikat yang akan memperkuat cinta mereka, yang akan menjadi pelengkap dikeluarga kecil mereka.


__ADS_2