
Nathan keluar kamar sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian santai, kaus oblong dengan celana pendek.
Melihat Ami duduk didepan tv dengan cemilan ditangannya membuat Nathan tersenyum, lalu dengan jahil ketika Ami ingin memasukkan cemilan ke mulutnya, Nathan lebih dulu menyambar cemilan itu hingga masuk kedalam mulutnya dari belakang tubuh Ami.
Ami pun menoleh. "Ish, Om jorok tau." Ami mengusap jarinya yang sempat masuk ke mulut Nathan dengan wajah kesal.
Nathan duduk di samping gadis itu tanpa jarak. bahkan Nathan ikut makan cemilan di tangan Ami.
"Ambil sendiri lah Om, disana masih banyak." Ucap Ami dengan wajah cemberut, Nathan mengganggunya saja.
"Tidak mau, maunya ini." Jawab Nathan sambil kembali meraih cemilan itu, membuat Ami bertambah kesal.
Ami memasukkan cemilan itu asal kedalam mulutnya, melupakan kekesalannya. Hingga membuat sudut bibirnya belepotan membuat Nathan yang melihatnya gemas.
Nathan mendekatkan kepalanya pada wajah Ami, tangannya menyentuh dagu Ami untuk membuatnya menoleh. "Kalau makan jangan seperti ini."
Ami mematung, seketika aliran darahnya berdesir. Sapuan lembut disekitar bibir nya membuatnya tak bisa berpikir. Lidah Nathan menyapu sudut bibirnya.
"Gurih." Ucap Nathan tersenyum, menatap lekat wajah cantik Ami yang diam menatapnya. Jemarinya mengelus pipi mulus Ami.
"Maaf." Nathan kembali menyatukan bibirnya, kali bukan hanya sapuan lembut melainkan lumattan dan sesapan Ami rasakan, hingga membuatnya merasa terlena untuk membuka bibirnya.
"Emph." Tangan Ami meremas kaus yang Nathan pakai, ketika lidah Nathan menerobos masuk, menyusuri isi di dalam mulutnya yang membuat rasa aneh menjalar di tubuhnya. Tangan Nathan menekan tengkuk dan pinggang Ami. Memperdalam ciuman mereka.
"Om, emph." Ami yang sudah kehabisan napas memukul dada Nathan, membuat pria itu menjauhkan kepalanya.
__ADS_1
Napas Ami tersengal dadanya kembang kempis.
"Hanya aku yang bisa membuat ini bengkak." Ucap Nathan mengusap bibir Ami yang sedikit bengkak menggunakan jari jempolnya.
Ami melotot, lalu menepis tangan Nathan. "Mesum, Om yang sudah mencuri ciuman pertamaku." Ami mendelik dengan napas yang belum stabil.
Nathan malah tersenyum. "Ya, dan aku menjadi yang pertama bagimu." Ucap Nathan ambigu.
"Ish, minggir." Ami yang kesal bercampur malu membuatnya merasa aneh sendiri, apalagi sesuatu di dalam dirinya bergelayar rasa yang aneh.
"Mau kemana." Nathan meraih tangan Ami ketika gadis itu berdiri, lalu menariknya membuat Ami jatuh dipangkuan Nathan.
"Om, jangan seperti ini." Ucap Ami mencoba untuk lepas dari pangkuan Nathan.
"Sebentar saja, bukanlah kamu ingin makan di luar." ucap Nathan yang menyandarkan kepalanya di dada Ami, membuat Ami diam mematung. Jantungnya berdetak lebih cepat, dan Nathan yang mendengarnya tersenyum.
"Diamlah, kalau tidak mau membuatnya bangun." Ucap Nathan dengan suara berat. Matanya terpejam merasakan degup jantung keduanya yang tidak baik-baik saja.
.
.
.
Ami makan dengan lahap ayam bakar dengan lalapan dan sambal teh hangat untuk pelengkap minumnya.
__ADS_1
Nathan yang melihatnya tak berkedip, Ami begitu senang hanya dengan makan seperti itu.
"Kamu lebih suka makanan seperti ini dari pada direstoran mahal." Ucap Nathan. Nathan hanya memesan es teh dirinya belum lapar.
"Em, lebih nyaman dan gak kalah enak dari masakan restoran bintang lima. Apalagi disini tidak harus pura-pura menjadi orang lain demi menjaga image orang lain." Ucapan Ami yang tanpa sadar membuat Nathan merasakan sesuatu didadanya.
"Jadi kamu terpaksa ketika direstoran tadi." Tanya Nathan dengan menatap lekat wajah gadis yang sama sekali tidak melihatnya.
"Bukan terpaksa, tapi keharusan yang harus aku jalani, mungkin hanya beberapa waktu, dan setelah semuanya berakhir maka aku tidak akan pura-pura menjaga perasaan orang lain lagi. Lagi pula bukankan Om orang terpandang di kota ini, dan aku bukan dari kalangan yang bisa sederajat dengan Om. " Ami menatap Nathan sekilas. Lalu kembali makan tanpa peduli dengan tatapan Nathan yang sudah berbeda padanya.
Nathan mengepalkan kedua tangannya, ternyata gadis itu masih ingin pergi darinya.
"Bukan hanya itu, aku juga bukan wanita yang bisa di banggakan, aku hanya gadis miskin dan tidak punya hak yang bisa di banggakan. Aku hanya bikin malu kelaurga Adhitama karena bagiamana pun aku tidak akan pernah selevel denga_"
Brak
Nathan mengebrak meja dengan kepalan tangannya, membuat Ami terkejut, dan beberapa orang menatap keduanya.
"Kalau mau berantem jangan di sini dong mas. ganggu orang aja." pengunjung yang merasa terganggu menatap keduanya kesal.
Ami pun menghela napas. "Om bisa tidak jangan_"
Belum menyelesaikan ucapannya Nathan lebih dulu pergi dengan menahan amarahnya. Dadanya sesak mendengar ucapan gadis itu.
Ami menatap punggung yang semakin menjauh, dirinya juga merasa bersalah tapi mau bagaimana pun mereka bagaikan air dan minyak tidak bisa bersama meskipun dalam ikatan pernikahan. Perbedaan mereka terlalu jauh bagia langit dan bumi, Ami hanya takut suatu saat dirinya tidak lagi bisa membuat Nathan berada di sampingnya karena pria kaya dan tampan seperti Nathan memiliki selera Wanita yang jelas bukan seperti dirinya yang masih remaja.
__ADS_1
"Maaf Om." Ami menatap sendu, dadanya juga merasakan sesak. Sebisa mungkin dirinya menjaga hati agar baik-baik saja.